Home » » Budidaya Rumput Laut Mulai Dikembangkan

Budidaya Rumput Laut Mulai Dikembangkan

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 31 Maret 2011 | 11.06


BATULICIN- Salah satu sumberdaya hayati laut Indonesia yang cukup potensial adalah rumput laut atau dikenal dengan sebutan lain ganggang laut, seaweed atau agar-agar. Salah satu dari jenis rumput laut yang sudah dibudidayakan secara intensif adalah Eucheuma cottonii atau dikenal dengan nama latin Kappaphycus alvarezii di wilayah perairan pantai.

Hasil proses ekstraksi rumput laut banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau sebagai bahan tambahan untuk industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kertas, cat dan lain-lain. Selain itu digunakan pula sebagai pupuk hijau dan komponen pakan ternak maupun ikan.


Dengan semakin luasnya pemanfaatan hasil olahan rumput laut dalam berbagai industri, maka semakin meningkat pula kebutuhan akan rumput laut sebagai bahan baku. Selain untuk kebutuhan ekspor, pangsa pasar dalam negeri cukup penting karena selama ini industri pengolahan rumput laut sering mengeluh kekurangan bahan baku. Melihat peluang tersebut, pengembangan komoditas rumput laut memiIiki prospek yang cerah karena memiIiki nilai ekonomis yang penting dalam menunjang pembangunan perikanan baik kaitannya dengan peningkatan ekspor non migas, penyediaan bahan baku industri dalam negeri, peningkatan konsumsi dalam negeri maupun meningkatkan pendapatan petani/nelayan serta memperluas lapangan kerja.

Kabupaten tanah bumbu memiliki garis pantai sepanjang 157,8 km atau memiliki potensi sebesar ± 25.000 ha yang bisa dikembangkan untuk budidaya rumput laut. yang sudah biasa dilakukan oleh petani/nelayan adalah dengan menggunakan metode rakit apung (floating raft method dan metode lepas dasar (off bottom method), metode ini sangat tepat diterapkan pada areal peraitan antara interdal dan subtidal dimana pada saat ait surut terendah dasar pelataran masih terendam air serta lebih banyak memanfaatkan perairan yang relatif dangkal.

Oleh karena itu untuk melakukan pengembangan budidaya rumput laut tersebut sangat terbatas apalagi beberapa lokasi perairan pantai di Indonesia pada waktu surut terendah dasar perairannya kering. Dengan demikian perlu adanya metode lain yang bisa memanfaatkan peraitan-perairan yang relatif dalam yang selama ini kurang dimanfaatkan walaupun sebenarnya mempunyai potensi lebih besar apabila dimanfaatkan secara optimal.

Untuk Kabupaten Tanah Bumbu, sejumlah daerah potensial yang dapat dijadikan kawasan budidaya rumput laut ini adalah Pulau Burung, Muara Pagatan, serta Sungai Dua laut. Khususnya pada kawasan pantai yang memiliki tingkat sedimentasi rendah, sangat cocok untuk pengembang biakan rumput laut tersebut. Namun secara keseluruhan, untuk kawasan budidaya potensial di Tanah Bumbu diperkirakan mencapai 25.000 hektar. Sementara untuk Pulau Burung Sendiri saat ini baru dikembangkan pada kawasan seluas 10 hektar, dengan hasil panen rata rata 2Ton perhari. Siap panen, setelah dipastikan berusia 50 hari.

Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu melalui Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Tanah Bumbu, Ir Bakhriansyah MM, menjelaskan, saat ini budidaya rumput mulau dikembangkan di sejumlah kawasan periaran pantai di daerah kepulauan, Pulau Burung Sungai Dua laut dan Muara Pagatan, Ditempat ini, teknik budidaya rumput laut Eucheuma sp. di perairan pantai dengan metode tali panjang (Iongline method), yang juga dapat diterapkan di perairan yang relatif dalam maupun perairan dangkal yang mempunyai keunggulan-keunggulan tertentu dibandingkan dengan metode lain. Metode ini sudah diterapkan dan dimasyarakatkan kepada petani/nelayan rumput laut di Propinsi Nusa Tenggara Barat dan memberikan hasil yang menggembirakan.



“Lahan budidaya Eucheuma sp. yang cocok terutama sangat ditentukan oleh kondisi ekologis yang meliputi kondisi lingkungan fisik, kimia dan biologi. Adapun persyaratan lahan budidaya Rumput laut adalah Lokasi budidaya harus terlindung dari hempasan langsung ombak yang kuat. Lokasi budidaya harus mempunyai gerakan air yang cukup. Kecepatan arus yang cukup untuk budidaya Eucheuma sp. 20 - 40 cm/detik. Dasar perairan budidaya Eucheuma sp. adalah dasar perairan karang berpasir. Pada surut terendah lahan budidaya masih terendam air minimal 30 cm. Kejernihan air tidak kurang dari 5 m dengan jarak pandang secara horisontal. Suhu air berkisar 27 -30°C dengan fluktuasi harian maksirnaI 4°C. Salinitas (kadar garam) perairan antara 30 -35 permil (optimum sekitar 33 permil). pH air antara 7 -9 dengan kisaran optimum 7,3 -8,2 lokasi dan lahan sebaiknya jauh dari pengaruh sungai dan bebas dari pencemaran. Sebaiknya dipilih perairan yang seeara alami ditumbuhi berbagai jenis makro algae lain seperti Ulva, Cauletpa, Padina, Hypnea dan lain-lain sebagai sp. indikator. Spesifikasi periaran itu, terdapat nyaris di seluruh pantai Tanah Bumbu, dan daerah yang memiliki kategori kualitas sangat baik adalah Sungai Dua Sungai Loban. “ ujar Bakhriansyah.

Sementara, untuk sejumlah bibit, diterangkan Faurazi Akbar SP, selaku Kepala Bidang Pemanfaatan dan Pengembangan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Tanah Bumbu, memaparkan cukup mudah didapat di periaran Tanah Bumbu, terutama dari Kawasan Sungai Dua Laut Kecamatan Sungai Loban, atau dapat membelinya langsung pada petani yang ada di Pulau Burung. Dengan memiliki ciri yang baik diantaranya adalah bibit harus dipilih dan thallus yang muda, segar, keras, tidak layu dan kenyal. Kemudian memiliki berat bibit pada awal penanaman + 100 gram per ikat. Bibit sebaiknya disirnpan di tempat yang teduh dan terlindung dari sinar matahari atau direndam di laut dengan menggunakan kantong jaring.

“Budaidaya ditempat kita rata-rata menggunakan metode tali panjang (long line method) pada prinsipnya hampir sama dengan metode rakit tetapi tidak menggunakan bambu sebagai rakit, tetapi menggunakan tali piastik dan botol aqua bekas sebagai pelampungnya. Metode ini dimasyarakatkan karena selain lebih ekonomis juga bisa diterapkan di perairan yang agak dalam. Dan bibit yang digunakan harus benar benar memnuhi keriteria yang ada, agar hasil panennya bisa lebih masimal” kata Faurazi Akbar.

Menurut Abay sapaan akrab Kepala Bidang ini, Keuntungan dengan menggunakan metode ini antara lain tanaman cukup menerima sinar rnatahari, Tanaman lebih tahan terhadap perubahan kualitas air, terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari dasar perairan, pertumbuhannya lebih cepat, cara kerjanya lebih mudah, biayanya lebih murah, kualitas rumput laut yang dihasilkan baik.

Dalam usaha budidaya rurnput laut, perawatan tanaman adalah sangat penting. Kegiatan perawatan yang paling mendasar diantaranya membersihkan tanaman dari kotoran yang melekat, endapan atau tumbuban lain yang menempel, mengganti tanaman yang rusak dengan tanaman yang baru atau tanaman yang pertumbuhannya baik, memperbaiki konsttuksi yang rusak seperti jangkar tercabut, atau tali-tali lepas atau putus. Mengingat, daerah Pulau Burung yang kini dijadikan sentra budidaya adalah, kawasan perairan yang juga memiliki sedimentasi.

“Tanaman sudah dapat dipanen dengan cara panen total (full harvest) setelah berumur 45-60 hari sejak ditanam. Panen dilakukan dengan cara mengangkat seluruh tanaman, sedangkan pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat. Penanaman kembali dilakukan dengan memilih bagian ujung tanaman yang masih muda dan bagian pangkal tanaman yang merupakan bagian yang tua dikeringkan karena memiliki kandungan karaginan yang tinggi.” Papar Ir. Bakhriansyah menambahkan.

Untuk saat ini, harga jual Rumput laut dalam kondisi kering mencapai Rp9000/Kg. Sementara dalam Kondisi basah Rp.800 saja. Sehingga banyak para petani rumput laut memilih menjualnya dalam kondisi kering. Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara menggunakan alat pengering (oven) atau secara alami dengan menjemur dengan sinar matahari. Yang murah dan praktis adalah dengan cara dijemur dengan sinar matahari selama 2 -3 hari, tergantung kondisi panas matahari. Dalam penjemuran ini harus menggunakan alas, seperti para-para, terpal plastik dan lain-lain untuk menghindari tercampurnya rumput laut hasil panen dengan kotoran seperti pasir atau kerikil dan lain-lain.

Setelah kering dan bersih dari segala macam kotoran maka rurnput laut dimasukkan kedalam karung plastik untuk kemudian siap dijual atau disimpan di gudang. Pada waktu penyimpanan hindari kontaminasi dengan minyak atau air tawar. Proses penjemuran dan penyimpanan sangat perlu mendapat perhatian, karena meskipun hasil panennya baik akan tetapi bila penanganan pasca panennya kurang baik maka akan mengurangi kualitas rumput laut.

Dengan melihat prospek kedepan yang cukup menjanjikan, pemerintah Kabupaten berharap, masyarakat di Tanah Bumbu dapat menggeluti bisnis budidaya rumput laut ini, selain memiliki kawasan yang cukup luas, pangsa pasar rumput laut ini juga tidak pernah sepi. Sejumlah pasar yang kini siap menerima hasil Panen dari Tanah Bumbu adalah Sualwesi dan juga Kalimantan Timur dengan harga yang masih cukup bagus.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved