Home » » Pemkab Vs Lembaga Ade Ogie Pagatan Beda Pendapat Penetapan Mappanretasi

Pemkab Vs Lembaga Ade Ogie Pagatan Beda Pendapat Penetapan Mappanretasi

Written By Fokus Batulicin on Rabu, 23 Maret 2011 | 11.58

Pesta Adat Mappanretasi 2011 kali ini sedikit bisa dipastikan banyak terjadi perbedaan dengan pelaksanaan Mappanretasi 10 tahun yang lalu. Jika di tahun itu, Pemerintah Daerah menaungi dan bergandengan tangan bersama tokoh masyarakat bugis pagatan untuk bersama sama melaksanakan dan menetapkan puncak Mappanretasi, di tahun ini perbedaan penentuan puncak pelaksanaan mapanretasi mulai mencuat ke Permukaan. Terdapat dua Versi penatapan penanggalan puncak mappanretasi antara Pemerintah Daerah Kabupaten dengan Lemabaga Adat Ade Ogie Pagatan.




Dimana, pemerintah daerah Bumi Bersujud menetapkan Mappanretasi di Buka tanggal 8 April dan berakhir pada puncak 24 April 2011. Sementara Lembaga Adat Ade Ogie Pagatan, yang merupakan Lembaga Resmi yang menaungi Semua kegiatan Ceremonial Adat mappanretasi berdasarkan hasil rapat tokoh masyarakat Nelayan, Toko Agama, Tokoh Masyarakat Bugis untuk mengembalikan puncak Massorong Larungan Sesaji Keasalnya yakni setiap tanggal 6 April.

Ketua Umum lemabaga Adat Ade Ogie Pagatan H. Musaid sudah mengakomodir hasil rapat tersebut dan menetapkannya. Bahkan sandro (dukun) Mappanrentasi juga sudah memastikan, bahwa Sawerigading penguasa laut Wilayah Timur memangmeminta Sesaji Antara Tanggal 1 dan 6 April.

“tahun ini kita dari lembaga Ade Ogie hanya melaksanakan prosesi syukuran yang disebut dengan Massorong Larungan secara sederhana di Desa Juku Eja. Selebihnya untuk kegiatan lainnya kami tidak terlibat” ujar H. Musaid, Kemarin.

Sementara Pemda menetapkan Lokasi pantai Koramil, Pembukaan 8 April penutupan 29 April dengan dihadiri seluruh hadir Tokoh Masyarakat dan Muspika. Dan tidak dihadiri oleh 4 Kepala Desa yang merupakan Anggota Lembaga Ade Ogie Tanah Bumbu.

“itu berdasarkan hasil rapat bersama sebelumnya, dan itu masih akan di gelar rapat bersama di meja DPRD Jumat mendatang. Dan kami hanya bertugas mengawal, dan mengembangkan wisata dan budaya yang ada di Tanah Bumbu, termasuk Mappanretasi yang sudah menjadi bagian dari Agenda Wisata Daerah.” Ujar Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Tanah Bumbu.

Mappanretasi (memberi makan laut dalam bahasa Bugis.red) sebelumnya dikenal dengan istilah Massorong. Di abad modern sekarang kerap disebut Pesta Nelayan Masyarakat Pagatan. Prosesi ini adalah merupakan bagian dari prosesi Kerajaan Pagatan dan Kusan yang sangat disakralkan khususnya bagi Nelayan Bugis Pagatan. Kini kegiatan ini terus melekat sebagi wujud kekuatan khazanah budaya di Bumi Bersujud.

Meskipun Kerajaan Pagatan dan Kusan telah berakhir sejak tahun 1918, Mappanretasi masih tetap lestari dilaksanakan oleh para nelayan setempat. Hingga pada decade 1950-1960 yang lalu, Mappanretasi dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Karena ritual ini sempat mencuat kepermukaan dengan beragam kontropersi, antara syirik dimata Ajaran Agama Islam dan Warisan leluhur suku Bugis Pagatan.
Sejak ditetapkannya setiap Tanggal 6 April ditetapkan sebagai Hari Nelayan secara Nasional, hal ini dijadikan wadah tradisi silaturrahmi semua elemen Masyarakat Pagatan. Hingga setelah Kongres nelayan tahun 1960 di Solo, ditetapkannya 6 April sebagai Hari Nelayan secara Nasional itu, maka Mappanretasi kembali dilaksanakan secara terbuka dengan kemasan baru berbalut kebudayaan.

Dengan perubahan pada bagian ritual ritual dan sesajennya, seperti setelah Sandro (Dukun) melakukan berbagai ritual Mellarung atau memilirkan sesajen berupa kepal kerbau, ayam, nasi tumpeng, dan beberapa gram emas kelaut, untuk dipersembahkan kepada Sawerigading (Penguasa Laut) diwilayah timur Nusantara. Kini hanya pemotongan se ekor ayam ke tengah laut, kemudian di lepaskan bersama sesajen lainnya, nasi tumpeng dan hasil bumi lainnya. jika sebelumnya kepala kerbau ataupun binatan kurban lainnya dilarutkan ketengah laut dan di biarkan begitu saja, kini justru dinikmati bersama-sama sebagai hidangan pada acara syukuran massal, sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas berkah dan nikmat yang diberikan kepada mereka. Dengan harapan agar mereka selalu diberikan keselamatan dan rizki yang melimpah ketika mencari ikan ditengah ganasnya gelombang.

Sejak tahun itu, seluruh masyarakat bugis pagatan sepakat untuk melestarikan budaya mereka tersebut di setiap bulan April setahun sekali, sekaligus sebagai agenda wisata nasional yang terus di lestarikan hingga sekarang ini.

“Jika kita melihat ke belakang entah sudah berapa abad lamanya prosesi ini di lakukan. Ini semua sudah mendarah daging di setiap urat nadi masyarakat nelayan pesisir Pagatan, dan tetap lesatari di tangan tangan anak cucu mereka kelak. Meskipun Zaman telah berubah, prosesi Mappanretasi tetap menjadi prosesi adapt tahunan yang sacral, dan menjadi icon budaya akbar tahunan bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Ini di buktikan hingga sekarang prosesi tradisional ini masih ada dan bisa kita nikmati sebagai sebuah warisan leluluhur nenek moyang orang Pagatan. Apappun bentuk polesannya, tetap ada dan tak lekang oleh waktu” ucap H. Musaid Tokoh Masyarakat Desa Wirittasi, sekaligus pelestari Budaya masyarakat Bugis Pagatan ini.

Andi Satria Jaya tokoh pemuda masyarakat Pagatan, yang juga keturunan Raja Pagatan mengatakan Mappanretasi meskipun secara kasat mata tetap lestari namun seiring kemantapan akidah islami para tokoh adat maasyarakat bugis pagatan sebagai pelestari ritual adapt mappanretasi telah banyak meninggalkannya, sehingga kini hanya sekedar menjadi begian warisan budaya nenek moyang orang pagatan saja. Namun, itu akan bisa dilestarikan dengan baik, jika generasi penerus kelak mengerti rangkaian prosesi mappanretasi berikut makna di balik kegiatan tersebut. Tanpa itu, dikhawatirkan Mappanretasi hanya sebagai icon budaya saja.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

5 April 2011 13.24

jadi yg pasti puncaknya kapan?
yg rame itu loh...
rencananya aku mau kesana bawa rombongan ma keluarga aku..
jadi kami minta kepastiannya tanggal berapa ?
tolong di kasih tau yach...

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved