Home » » Tiap Hari Ngumpulkan Bulir Sawit, Demi 7 Orang Anak

Tiap Hari Ngumpulkan Bulir Sawit, Demi 7 Orang Anak

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 31 Maret 2011 | 21.27



Matahari masih terlalu enggan untuk bangkit menyinari bumi. Embunpun masih setia berjatuhan dari sudut-sudut langit desa ringkit kecamatan Husan Hulu kabupaten Tanah Bumbu. Namun, Fauziah (38) sudah bergegas bangun dari tempat tidurnya, meninggalkan Lidya (4) putri bungsunya yang masih terlelap diatas tikar purun sebagai alas tidurnya yang setia.


Jam dinding tepat menunjukkan pukul 04.00 dini hari, Fauziahpun mulai sibuk menyiapkan perbekalan. Rantang pelastik yang sudah terlihat usang secara perlahan lahan ia masukkan bulir bulir nasi kedalamnya. Masih seperti kemarin, sayur kangkung dan ikan asin menjadi teman setia perbekalannya didalam ransel. Setelah mandi, dan merapikan cucian baju anak-anaknya yang menumpuk, ibu tujuh orang anak yang juga merupakan istri kedua dari Padil inipun bergegas menuruni anak tangga. Sambil menutup perlahan pintu rumah, tangannya tak lupa meraih tumpukan karung dan dodosan (alat pemotong tandan kelapa sawit) yang bertengger disamping rumah.


Masih diantara temaramnya pagi buta. Fauziah yang sudah siap dengan pakaian buruh dan sepatu bootnya, ransel dan bekal makan siangnya, karung dan dodosan ditangan. Dengan setia berdiri mematung menunggu jemputan truck sawit yang bakal mengangkutnya kedalam hutan. Tidak lama menunggu, truckpun datang. Seluruh perbekalan dan peralatan yang sudah ditumpuk diatas engkong (artco sorong) oleh teman sebayanya diangkut kedalam truck. Fauziahpun mengikutinya, dengan pasrah berdiri berjam-jam diatas bak truck hingga menunggu sampai ke lokasi tempat ia bekerja. Mengumpulkan bulir kelapa sawit, untuk memberi makan ke tujuh anaknya serta satu orang tuanya yang masih ikt menggantungkan hidupnya dari dirinya.

Fauziah salah satu wanita tangguh yang patut diacungi jempol. Bak lelaki, setiap hari profesi buruh sawit telah tersandang dibahunya. Setiap hari ia habiskan waktu jauh dari keluarga menembus belantara hutan pohon kelapa sawit yang memagar dikampungnya. Berkelahi dengan naluri menepis bayangan tangis anak-anaknya yang masih belia, mengharap kasih sayangnya sebagai ibu sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.

Dari penuturan Uji, panggilan akrab wanita kelahiran lombok 43 tahun lalu itu, awalnya pekerjaan itu ia rasakan terlalu berat untuk dikerjakan. Namun karena tingginya tuntutan hidup yang ia jalani, rasa takut dan jiwa lemah itu ia buang jauh-jauh. Beruntung kini tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga mulai berkurang, setelah kedua anak tertuanya, Eni (28) dan yati (25) telah menikah.

Kini, yang menjadi beban sekaligus tanggung jawabnya yang masih cukup berat ia sandang adalah menyediakan biaya sekolah putra putrinya, dari mereka yang kini masih sekolah dibangku SD, putera tertuanya, Heriyadi (19) yang kini masih duduk dibangku sekolah SMA. Belum lagi, dari setiap rezeki yang ia dapatkan, ia sisihkan untuk melengkapi perabotan rumahnya yang masih ia butuhkan, membayar rekening listrik hingga untuk membayar keperluan hidup lainnya.

“setiap hari, saya hanya mampu mengumpulkan empat karung berondolaln sawit. Satu kilogramnya saya hanya diberikan upah tidak lebih dari Rp.150. itupun harus dikeluarkan dari lokasi pemungutan menuju lokasi pencatatan mandor. Tanpa harus saya lakukan pekerjaan seperti itu, apa yang harus dimakan akan-anak saya dirumah. Sementara banyak perut yang tengah menunggu setiap kepulangan saya kerumah” ucap Uji.

Pekerjaan seperti itu, diakui Uji sudah cukup lama ia lakoni. Bahkan, bisa dibilang sejak perkebunan kelapa sawit PT. Sajang Heulang dibuka di desa tersebut pertama kali, dirinya sudah berkecimpung menjadi buruh. Dari buruh semprot racun alang-alang, buruh penanam sawit, pemupuk sawit, hingga kini menjadi buruh berondol. Meskipun demikian, tak satupun harta berharga menghiasi dalam rumahnya. Selain TV Panasobic 14 Inch, tak ada lagi benda berharga yang tanpak, ketika Urbana menyambangi rumah kayu berukuran 4mX6m itu.

Sementara, pekerjaan sang suami, Padil juga tidak jauh berbeda. Setiap hari selalu saja menghabiskan waktu sebagai buruh dodos kelapa sawit. Dengan sepenuh tenaga mendodos janjang kelapa sawit, lalu memasukkannya kedalam bak-bak truk yang sudah antri didepan matanya. Jika tidak malam hari, kedua manusia itu, baik Uji maupun Padil tidak bakal menginjakkan kaki kehalaman rumahnya untuk beristirahat.

Sebelumnya, Fauziah dan Padil sempat merasa sedikit bahagia, tatkala areal pekarangan rumahnya masuk dalam kawasan penanaman kelapa sawit KKPA. Namun nyatanya, meskipun kini telah menjadi miliknya, kebun itu belum bisa maksimal menopang kesejahteran mereka. Faktanya, dari hasil kebunnya itu ia hanya mendapatkan Rp 1 juta, belum lagi harus dipotong keperluan tetap saban bulan di koperasi, uang Rp 1 juta itupun amblas tak berbekas.

Nasib buruh sawit di Tanah Bumbu ternyata masih tak sesegar tandan sawit milik perusahaan asal Malaysia itu. Namun dari tandan sawit itulah pula mereka patut bersyukur. Setidaknya ini yang dirasakan Fauziah, dan puluhan kepala keluarga lainnya di Desa Ringkit lainnya. Betapa tidak, dari bulir sawit “berlebel Malaysia” itulah masyarakat ringkit yang dulunya datang ke Tanah Bumbu sebagai Transmigrasi yang hanya memiliki lahan kering dan tak bisa dijadikan apa apa, kini menjadi ladang pundi rupiah mereka. Meskipun tak sebesar pundi rupiah dari lobang raksasa tambang batubara di pojok kabupaten kaya sumber daya alam ini.

Tak berbeda jauh dari kehidupan Fauziah dan Keluarga besarnya. Sama-sama menggantungkan hidup dari bulir kelapa sawit. Niko (54) lelaki keturunan Timor Timur (Timor leste) ini misalnya, mengaku cukup terbantu setelah adanya perkebunan sawit malaysia masuk ke desanya. Besarnya manfaat ia rasakan setidaknya, ia tidak harus meninggalkan tempat tinggalnya itu untuk mencari nafkah. Cukup berkutat dirindangnya kelapa sawit di depan rumahnya, setiap hari ia sudah bisa mengantongi uang ribuan.

“tidak selamanya perkebunan kelapa sawit ini memberi kerugian bagi daerah. Selain isyu banjir, jalan banyak rusak akibat lalu lalang truck pengangkut sawit. Tapi setidaknya masih ada hal lain dari serpihan sawit itu memberi manfaat bagi warga sekitarnya.” Terang Niko.

Ringkit, adalah desa terdalam di Kecamatan Kusan Hulu. Tempat itu masih menjadi kawasan perbatasan Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Sungai Loban. Dimana dari ketiga kecamatan itu, perkebunan kelapa sawit merupakan tanaman primadona. Nyaris tak ada lagi lahan menganggur ditempat ini. Ribuan hektar bibit kelapa sawit telah tertancap memayungi setiap desa. Jutaan ton CPO dihasilkan dari tempat ini. Diharapkan, dari sawit inilah kesejahteraan masyarakat pedesaan bisa meningkat lebih baik.

Siapa bilang, cita-cita mulia itupu datang dengan mudah. Kehidupan seprti Fauziah sebagai gambarannya. Tak terhitung, berapa luka goresan batu gunung menganga di telapak kakinya. Berapa banyak duri yang menamcap di kulitnya. Entah berapa hari telah ia lewati untuk bekerja dengan tanpa sarapan pagi. Bahkan, entah berapa tahun ia harus terpaksa meninggalkan buah hatinya yang masih belia, menanti titik air susunya setiap sore. Semua itu demi sebuah tujuan, meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved