Home » » Bupati Dinilai Lecehkan DPRD Tanbu

Bupati Dinilai Lecehkan DPRD Tanbu

Written By Fokus Batulicin on Sabtu, 02 April 2011 | 19.47


BATULICIN- Keputusan Sepihak yang dikeluarkan oleh Mardani H. Maming Bupati Tanah Bumbu dalam menetapkan puncak pelaksanaan Pesta Adat Nelayan “Mappanretasi” atau yang dikenal dengan istilah Massorong Olo RI Tasi’e pada tanggal 24 April 2011 mendatang, dinilai telah melecehkan Keputusan DPRD Tanah Bumbu. Selain itu, Keputusan tersebut juga telah memicu terjadinya konflik internal masyarakat Suku Bugis Pagatan, serta membuat masyarakat Tanah Bumbu Kebingungan.


Demikian dituturkan Rizal Mahdi Tokoh MAsyarakat Bugis Pagatan, ketua II lembaga Ade Ogi Pagatan, serta Anggota DPRD Tanah Bumbu ini, kepada Wartawan ketika dikonfirmasi melalui pesawat telponnya kemarin. Menurut Rizal. Keputusan DPRD Tanah Bumbu merupakan payung hukum tertinggi pelaksanaan Puncak mappanretasi yang syah dijadikan Acuan.

Mengingat, ketika digelarnya rapat gabungan seluruh Fraksi tertanggal 25 maret lalu, dengan melibatkan Para Sandro dan pendamping, tokoh masyarakat bugis pagatan, lembaga Ade Ogi Tanah Bumbu, Sekda kab. Gusti Hidayat, serta pihak Dinas kebudayaan dan Pariwisata yang mewakili atas nama pemerintah daerah. Telah mengambil sebuah keputusan tetap dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun dengan alas an apapun. Bahwa Puncak Mappanretasi digelar pada Tanggal 6 April 2011 dari pukul 08.00 Pagi hingga selesai Mellarung ketengah laut.

“Anehnya, kenapa Bupati secara diam diam memanggil Sandro Jafri dan melakukan pembicaraan empat mata tanpa sepengetahuan kami selaku Lembaga Adat, dan juga tanpa melibatkan DPRD. Seharusnya Bupati dengan bijak menghormati keputusan DPRD tersebut dan juga keinginan Masyarakat Nelayan. Sehingga tidak menimbulkan perpecahan di tingkat masyarakat bawah. Apalagi sampai bupati memaksakan diri untuk membuat puncak mappenretasi pada tanggal 24, dengan tujuan bisa menyajikan pertunjukan itu kepada para petinggi pemerintahan Provinsi, Gubernur atau yang lainnya.” Ujar Rizal mahdi.

Pernyataan mencengangkan dari Mardani, dan sedikit membuat tokoh lembaga Adat Ade Ogi Pagatan sedikit gerah, itu bermula disaat Mardani H. Maming membuka pelaksanaan Mappanretasi di pentas Utama Juku Eja Tanggal 1 April 2011 tadi. Usai memberikan Sambutan, Bupati secara Lantang menyebutkan bahwa dirinya bersama Sandro (jafri.red) telah sepakat menetapkan Puncak Mappanretasi adalah 24 April 2011.
Sehingga, apa yang dilontarkan Bupati termuda di Indonesia itu menjadi PR baru bagi Lembaga yang sudah dari tahun ke tahun menjadi pelaksana kegiatan Mappanretasi itu. Sepulang Mardani dari Juku Eja, Malam harinya rapat singkatpun digelar oleh Puluhan Tokoh masyarakat nelayan pagatan, lembaga Ogie, dan jajaran Muspika Kusan hilir. Hasilnya, mereka tetap memutuskan bahwa Puncak Mappanretasi pada tanggal 6 April 2011.

“terserah Bupati mau isi acara apa, dan bentuknya bagaimana pada tanggal 24 April, kami atas nama lembaga Adat dan Masyarakat nelayan pagatan, sepakat menggunakan Keputusan DPRD, dan akan melaksanakan Mappanretasi tanggal 6 April.” Papar Rizal Mahdi, yang juga mantan kepala Desa Juku Eja ini.

Sementara, untuk meramaikan pesta mappanretasi selama enam hari kedepan, Lembaga Adat Ade Ogi Tanah Bumbu menggelar serangkaian acara dan lomba hiburan tradisional. Dari lomba busana bugis (baju Bodo), lomba pemilihan Baco Bece (nanang galuh), pentas Musik dan lagu Bugis, serta lomba perahu lepa-lepa (Kano tradisional).

Diharapkan, dengan beragam aksesorie “Bugis” tersebut, masyarakat nelayan Tanah Bumbu bisa merasa memiliki tradisi leluhur mereka, tardisi mappanretasi yang harus dijaga dan dilestarikan bagi anak cucu mereka hingga akhir zaman.

Mappanretasi (memberi makan laut dalam bahasa Bugis.red) sebelumnya dikenal dengan istilah Massorong. Di abad modern sekarang kerap disebut Pesta Nelayan Masyarakat Pagatan. Prosesi ini adalah merupakan bagian dari prosesi Kerajaan Pagatan dan Kusan yang sangat disakralkan khususnya bagi Nelayan Bugis Pagatan. Kini kegiatan ini terus melekat sebagi wujud kekuatan khazanah budaya di Bumi Bersujud.

Meskipun Kerajaan Pagatan dan Kusan telah berakhir sejak tahun 1918, Mappanretasi masih tetap lestari dilaksanakan oleh para nelayan setempat. Hingga pada decade 1950-1960 yang lalu, Mappanretasi dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Karena ritual ini sempat mencuat kepermukaan dengan beragam kontropersi, antara syirik dimata Ajaran Agama Islam dan Warisan leluhur suku Bugis Pagatan.
Sejak ditetapkannya setiap Tanggal 6 April ditetapkan sebagai Hari Nelayan secara Nasional, hal ini dijadikan wadah tradisi silaturrahmi semua elemen Masyarakat Pagatan. Hingga setelah Kongres nelayan tahun 1960 di Solo, ditetapkannya 6 April sebagai Hari Nelayan secara Nasional itu, maka Mappanretasi kembali dilaksanakan secara terbuka dengan kemasan baru berbalut kebudayaan.

Dengan perubahan pada bagian ritual ritual dan sesajennya, seperti setelah Sandro (Dukun) melakukan berbagai ritual Mellarung atau memilirkan sesajen berupa kepal kerbau, ayam, nasi tumpeng, dan beberapa gram emas kelaut, untuk dipersembahkan kepada Sawerigading (Penguasa Laut) diwilayah timur Nusantara. Kini hanya pemotongan se ekor ayam ke tengah laut, kemudian di lepaskan bersama sesajen lainnya, nasi tumpeng dan hasil bumi lainnya. jika sebelumnya kepala kerbau ataupun binatang kurban lainnya dilarutkan ketengah laut dan di biarkan begitu saja, kini justru dinikmati bersama-sama sebagai hidangan pada acara syukuran massal, sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas berkah dan nikmat yang diberikan kepada mereka. Dengan harapan agar mereka selalu diberikan keselamatan dan rizki yang melimpah ketika mencari ikan ditengah ganasnya gelombang.

Sejak tahun itu, seluruh masyarakat bugis pagatan sepakat untuk melestarikan budaya mereka tersebut di setiap bulan April setahun sekali, sekaligus sebagai agenda wisata nasional yang terus di lestarikan hingga sekarang ini.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved