Home » » KUALITAS AIR SUNGAI DI KALIMANTAN SELATAN MENURUN

KUALITAS AIR SUNGAI DI KALIMANTAN SELATAN MENURUN

Written By Fokus Batulicin on Senin, 11 April 2011 | 21.42


Propinsi Kalimantan Selatan dengan ibukotanya Banjarmasin terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan. Secara geografis Propinsi Kalimantan Selatan terletak di antara 114 19" 33" BT - 116 33' 28 BT dan 1 21' 49" LS 1 10" 14" LS, dengan luas wilayah 37.377,53 km². Kalimantan Selatan banyak memiliki sungai-sungai, di mana warganya sangat bergantung pada air sungai tersebut. Namun saat ini kualitas airnya sudah tidak layak pakai, bahkan bisa digolongkan berbahaya. Terpolusinya air sungai di Kalimantan Selatan diakibatkan oleh kegiatan-kegiatan warganya sendiri, seperti proses industri, penambangan, dan pembuangan tinja oleh warga di sekitar aliran sungai.


Dengan semakin meluasnya kawasan pemukiman penduduk, semakin meningkatnya produk industri rumah tangga, serta semakin berkembangnya kawasan industri memicu terjadinya peningkatan pencemaran pada air sungai. Hal ini disebabkan karena semua limbah dari daratan, baik yang berasal dari pemukiman perkotaan maupun yang bersumber dari kawasan industri dibuang ke sungai. Limbah domestik yang berasal dari rumah tangga, perhotelan, rumah sakit dan industri rumah tangga yang terbawa oleh air sisa-sisa pencucian akan terbuang ke saluran drainase dan masuk ke kanal. Limbah yang dibuang pada tempat pembuangan sampah akan terkikis oleh air hujan dan terbawa masuk ke kanal atau sungai.

Biasanya air sungai atau air sumur sekitar lokasi industri pencemar, yang semula berwarna jernih, berubah menjadi keruh berbuih dan berbau busuk, sehingga tidak layak dipergunakan lagi oleh warga masyarakat sekitar untuk mandi, mencuci, apalagi untuk bahan baku air minum. Terhadap kesehatan warga masyarakat sekitar dapat timbul penyakit dari yang ringan seperti gatal-gatal pada kulit sampai yang berat berupa cacat genetik pada anak cucu dan generasi berikut.

Dari data yang dimiliki WALHI Kalimantan Selatan dari Tahun 2008 sampai saat ini kondisi air sungai di Kalimantan Selatan dinilai sudah tercemar zat berbahaya bagi kesehatan manusia, yakni bisa merusak sel syaraf otak. Zat berbahaya itu antara lain logam berat seperti merkuri, timbal, besi dan air raksa (emas).
Air raksa atau merkuri (Hg) adalah salah satu logam berat dalam bentuk cair. Manusia telah menggunakan merkuri oksida (HgO) dan merkuri sulfida (HgS) sebagai zat pewarna dan bahan kosmetik sejak jaman dulu.

Dewasa ini merkuri telah digunakan secara meluas dalam produk elektronik, industri pembuatan cat, pembuatan gigi palsu, peleburan emas, sebagai katalisator, dan lain-lain. Penggunaan merkuri sebagai elektroda dalam pembuatan soda api dalam industri makanan seperti minyak goreng, produk susu, kertas timah, pembungkus makanan juga kadang mencemari makanan tersebut.Bila merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan akut pada ginjal sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan Pink Disease/ acrodynia, alergi kulit dan kawasaki disease/mucocutaneous lymph node syndrome. Selain itu, juga bisa menyebabkan penyakit saraf, lumpuh, kehilangan indera perasa dan dapat menyebabkan kematian.

”Ada beberapa kasus pencemaran air sungai di Kalimantan Selatan yang diakibatkan oleh kegiatan industri dan penambangan, seperti pembuangan limbah industri ke aliran sungai oleh PT Galuh Cempaka, penambangan emas yang menggunakan merkuri untuk memisahkan emas dengan pasir. Merkuri yang jatuh ke air akan memunculkan reaksi lanjutan (residu) yang jika diuraikan bakteri akan menjadi senyawa beracun bernama metil merkuri (CH3Hg). Apabila merkuri yang jatuh ke air melalui sisa-sisa ikatan tambang emas sampai ke dasar sungai, sifatnya sudah beracun (toksin). Pada manusia, dampaknya bisa mengenai kinerja saraf tubuh. Ambang batas aman kandungan merkuri dalam air hanyalah 0,01 miligram. Di atas itu, sudah bisa dipastikan secara bertahap kandungan ini akan terakumulasi tingkat bahayanya bagi makhluk hidup. Salah satunya melalui rantai makanan di sekitar sungai. Tidak hanya di dalam air saja merkuri membahayakan. Pada saat proses pengolahan ternyata juga cukup rawan bagi kesehatan manusia. Mereka yang membakar emas hasil penambangan menggunakan merkuri, terancam gangguan saluran pernafasan. Saat emas diolah udara yang dihirup masuk hingga menuju paru-paru” Terang Dir Kampanye Walhi Kalimantan Selatan Dwitho Frasetiandy.

Dikatakannya, Seperti yang terjadi di sungai Riam Kiwa, di mana airnya tercemar oleh lemak/minyak dan raksa karena proses penambangan emas. Dalam ketentuan, zat raksa di setiap liter air paling tinggi 0,001, sedangkan lemak/minyak harus nihil atau tidak ada. Namun, di sejumlah titik pada Sungai Riam Kiwa ditemukan zat raksa dan lemak yang melebihi ambang batas. Sampel yang diambil di Pengaron menunjukkan raksa 0,044; Mataraman 0,057; Martapura 0,051 dan Sungai Tabuk 0,051. Sedangkan kandungan lemak/minyak di Pengaron ada 11, Mataraman 1, Martapura 2 dan Sungai Tabuk 0. Semestinya, kandungan lemak/minyak harus tidak ada agar memenuhi standar kesehatan air.

Untuk pencemaran air sungai yang disebabkan oleh proses penambangan, salah satu kasus yang terjadi adalah sistem pembuangan air limbah penambangan oleh perusahaan pertambangan batu bara PT Tanjung Alam Jaya yang menuju Sungai Riam Kiwa, Kabupaten Banjar, Kalsel yang menyebabkan kekeruhan air sangat parah karena banyaknya jumlah sedimen yang terbawa arus dari pertambangan. Tingkat kekeruhan air di sungai itu sudah mencapai 438 miligram per liter. Padahal, toleransinya 400 miligram per liter. Tingkat kekeruhan yang melebihi ambang batas selain mengancam kematian ikan di sungai itu juga menyebabkan terganggunya kesehatan manusia karena air digunakan untuk mandi dan konsumsi sehari-hari. Sedangkan unsur lainnya seperti mangan dan besi masih di bawah ambang toleransi. Kondisi ini memperlihatkan begitu hebatnya tingkat erosi di sekitar sungai dan anak-anak Sungai Riam Kiwa yang diperkirakan akibat kegiatan penambangan batu bara.

Sedangkan di Banjarmasin hampir seluruh sungainya tercemar oleh logam berat. Untuk sungai Martapura dengan 8 titik pantau. Yaitu di perairan muara Sungai Martapura, di atas aliran Sungai Barito, tepatnya di kawasan perairan Pasar Terapung, kawasan perairan dekat PT Wijaya Tri Utama, kawasan perairan di belakang pabrik karet Banua Lima Sajurus, kawasan perairan Simpang Empat Sungai Andai, perairan belakang Banua Anyar tepatnya dekat warung Soto Amat, perairan Sungai Tabuk, serta kawasan perairan belakang Pondok Darul Salam. Di perairan Sungai Martapura inilah ditemukan pencemaran logam berat, yang seluruhnya sudah melampaui ambang batas. Untuk merkuri (Hg) misalnya, sudah mencapai 5,876. Sedangkan untuk pencemaran yang disebabkan pertambangan batubara dan besi (Fe) sebesar 16,209, semestinya batas normalnya hanya 0,3. Timbal (Pb) sudah mencemari sebesar 0,125 untuk batas normalnya hanya 0,3.

Sungai Barito dan Sungai Martapura yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di Kalsel terbukti telah tercemar berbagai unsur logam berat. "Jika dibiarkan tanpa ada komitmen serius untuk menanggulanginya, bukan tidak mungkin kasus minamata kembali terjadi," tutur Rachmadi. Kondisi air sungai mempunyai tingkat kekeruhan tinggi dengan total suspended solid (TSS) mencapai 182-567 mg/l jauh di atas standar 50 mg/l. Kadar DO mencapai 5 mg/l dengan standar -6 mg/l.
Di perairan Sungai Martapura inilah ditemukan pencemaran logam berat, yang seluruhnya sudah melampaui ambang batas. Untuk mercury (Hg) misalnya, sudah mencapai 5,876. Sedangkan batas normalnya hanya sebesar 0,001 saja. Sedangkan untuk pencemaran yang disebabkan pertambangan batubara dan besi (Fe) sebesar 16,209, semestinya batas normalnya hanya 0,3. Timbal (Pb) sudah mencemari sebesar 0,125 untuk batas normalnya hanya 0,3.

Sedangkan pencemaran air sungai oleh tinja atau kotoran manusia, hampir seluruh aliran sungai baik besar maupun kecil yang banyak terdapat di dalam kota Banjarmasin tercemar tinja atau kotoran manusia. Pencemaran dari tinja menjadikan kondisi air sungai mengandung bakteri jenis coli yang cukup membahayakan bagi kesehatan masyarakat. Bakteri e-coli ini ditenggarai sebagai penyebab terbesar penyakit diare pada bayi, balita, dan anak. Sebenarnya bukan cuma anak-anak yang dikhawatirkan terkena diare, namun juga orang dewasa.

Hampir terlihat di mana-mana air sungai dan air lingkungan pemukiman penduduk tercemar berat tinja manusia, karena kebiasaan warga yang membuang tinja langsung ke sungai. Pencemaran tinja ke air sungai di dalam kota Banjarmasin, selain budaya masyarakat yang sebagian masih suka buang air besar langsung ke sungai, juga akibat "septic tank" atau tempat penampungan tinja rumah penduduk yang tidak memenuhi standar kesehatan lingkungan. "Septic tank" kebanyakan pada rumah penduduk termasuk di kawasan perumahan hanya seadanya, sehingga air tinja mengalir ke mana-mana. Volume tinja yang mencemari lingkungan bisa dihitung untuk setiap orang warga penduduk buang hajat sekitar 60 gram per hari, dengan jumlah penduduk kota Banjarmasin saat ini mencapai 700 ribu jiwa.

Di Kab. Tanah Bumbu, Kepala Bapedalda Tanah Bumbu, Ir. Erno Rudi Handoko kepada wartawan mengatakan, kondisi air diseluruh sungai yang terdapat di Tanah Bumbu kini kondisinya sangat menghawatirkan, karena telah tercemar berbagai kandungan logam berat, seperti Mercury/ Raksa (Hg), Mangan (Mg), Zat Besi (Fe), Fb, dan lainnya. Bahkan berdasarkan kajian pihaknya dari tahun 2009 dan 2010, sampai saat ini, disejumlah sungai tersebut telah memiliki kandungan Mercury diatas ambang batas.

Sehingga pihaknya menghimbau agar masyarakat tidak mengkonsumsi air dari sungai yang ada di Tanah Bumbu. Cukup hanya untuk mandi, dan mencuci pakaian saja. Karena bisa berpengaruh buruk terhadap kualitas kesehatan, terutama dalam jangka waktu yang cukup lama.

Termasuk untuk pihak PDAM, Bapedalda meminta untuk segera memberitahukan ke masyarakat luas untuk sementara waktu ini tidak mengkonsumsi air dari hasil olahan PDAM sendiri, sampai pihak PDAM memiliki filter logam berat. Karena meskipun telah diolah secara tekhnis untuk mengurangi tingkat kekeruhan, warna,dan rasa air. Apabila PDAM mengambil bahan baku air bersih tersebut dari sungai Kusan dan sekitarnya yang sudah tercemar Mercury, tetap saja air tersebut tidak boleh dikonsumsi. Maka selayknya PDAM wajib memiliki filter logam berat tersebut.

“saat ini tercemar sebagian besar sungai di Tanah Bumbu sudah tercemar logam berat, untuk itu kita menghimbau agar masyarakat setempat tidak mengkonsumsi air dari sungai, termasuk air bersih yang disalurkan PDAM kerumah warga. PDAM dalam hal ini kita sudah usulkan pakai filter logam berat. Sebelum itu PDAM juga harus menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak dikonsumsi. Saat ini kandungan mercurynya dan juga logam berat lainnya sudah berada diatas baku mutu. Mercury ini disebabkan akibat aktifitas tambang emas liar di kawasan sepanjang DAS Tanbu. Sementara Fe, disumbang dari aktifitas pertambangan” ujar Ir. Erno RH. Kemarin.

Kandungan Mercury diketahui meningkat tajam disaat musim kemarau, saat aktifitas pertambangan biji emas di sekitar aliran DAS Tanbu juga beraktifitas. Selain akibat penambangan biji emas ini, menurunya kualitas air sungai di Tanah Bumbu juga disumbang oleh aktifitas pertambangan, dan perkebunan yang tidak mengindahkan dampak lingkungan.

Selain itu, hal terpenting saat ini menurut Erno, Dinas perikanan kelautan privensi juga diminta segera melakukan penelitian kandungan Hg yang terdapat didalam tubuh ikan ikan yang terdapat di sungai tersebut. Mengingat sebagian besar ikan liar yang ada disungai itu kerap dikonsumsi oleh masyarakat. Jika sudah terdapat di dalam tubuh ikan yang dimaksud, maka diharapkan pula, pihak dinas kelautan dan perikanan segera mengeluarkan himbauan ataupun larangan mengkonsumsi ikan tawar berasal dari sungai itu.

Dir Kampanye Walhi Kalimantan Selatan Dwitho Frasetiandy, meminta agar pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait, baik kepolisian terhadap pertambangan emas illegal tersebut, kemudian dengan dinas pertambangan , dan kehutanan, bahkan kalau perlu segera berkoordinasi dengan pemerintah provensi. Sebagai langkah pencegahan.

“Mengingat kasus pencemaran lingkungan tersebut sudah terjadi sejak tahun 2009 sampai dengan saat ini, dan semakin berambah parah. Sama halnya dengan kabupaten atau daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Tanpa adanya langkah prefentif dari pemerintah daerah untuk mencegah itu, maka diyakini kasus itu akan terus berlarut larut. Saya kira, pemerintah daerah tidak menutup nutupi kasus pencemaran itu kepada media masa” ucap Direktur Kampanye Walhi kalsel ini.
Jadi, kesimpulannya adalah hampir seluruh sungai yang terdapat di Kalimantan Selatan tergolong berbahaya bagi kesehatan.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved