Home » » Ribuan Manusia Banjiri Pantai Pagatan

Ribuan Manusia Banjiri Pantai Pagatan

Written By Fokus Batulicin on Minggu, 24 April 2011 | 12.23


Batulicin- Akhir Perayaan Mappanretasi, masih tetap meriah dari tahun ketahun. Proses melarung masih menjadi tujuan utama wisatawan. Keingintahuan membawa mereka ke Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu. Ditempat ini sudah menjadi agenda Tahunan warga Suku Bugis Pagatan untuk merayakan Pesta laut Mappanretasi, yang mana telah menjadi Agenda Wisata Nasional disetiap bulan April. Sehingga tanpa dikomando, masyarakat berasal dari pelosok Indonesia berbondong bondong menuju pusat kabupaten terpencil di Kalimantan Selatan ini.


24 April 2011, tercatat sebagai prosesi mappanretasi yang sedikit ribet. Maklum beberapa kali terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah daerah dengan panitia pelaksana yang terdiri dari Tokoh masyarakat bugis pagatan dan juga lembaga Adat Ade Ogi Tanah Bumbu. Perbedaan pendapat itu terkait penetapan puncak pelaksanaan pesta adat nelayan Tanah Bumbu itu sendiri. Namun itulah wujud demokrasi bangsa, adalah hak seluruh rakyat Indonesia dalam mengutarakan pendapat. Meskipun perselisihan itu memberikan sebuah keputusan yang berat, akhirnya semua elemen masyarakat yang berkecimpung dalam kegiatan ini sepakat di peringati hari Minggu kemarin.

Dari segala arah, masyarakat yang datang sejak Sabtu Sore, hingga Minggu Pagi terus memusat dan memadat ke pantai kelurahan Pagatan. Pantai dengan karakterisik datar, berpasir putih dan berombak itu, sontak berubah penuh warna dengan kehadiran ribuan manusia yang berlibur dan membaur menjadi satu. Meski tak luput dari sejarah, bahwa pantai pagatan masih memiliki nilai history perjuangan masyarakat Pagatan dalam melawan penjajah belanda di tahun 1946 lalu.

Dari pantauan Minggu (14/4) kemarin, sejumlah poros jalan raya Batulicin-Pagatan, dan jalan raya Kusan Hilir-Sungai Lembu sempat mengalami kemacetan beberapa kali. Namun beruntungnya, kemacetan itu tidak terjadi begitu parah. Beruntung sejumlah personil Polres Tanah Bumbu yang bertugas di bilangan jalan ini dengan sigap mengatur lalulintas. Tentunya dengan melibatkan sejumlah instansi terkait, dari Organisasi masyarakat (ormas), Dinas Perhubungan Kominfo, serta Kesatuan lalulintas Polres setempat.

“untuk kegiatan selama dari H-3 hingga puncak kegiatan, kita sudah turunkan seluruh personil untuk melakukan pengawasan dan pengamanan disejumlah titik rawan. Baik rawan kecelakaan, kemacetan lalulintas, maupun rawan tindak criminal. Kita harapkan semuanya dapat berjalan dengan aman dan lancar” ujar Kapolres Tanah Bumbu AKBP Winarto.

Sementara, kasatlantas Polres Tanah Bumbu AKP Dwi mengatakan, pihaknya selalu standbye di jalan raya melakukan pengamanan selama 1X24 jam. Dengan memberlakukan satu arah di sekitar jalan raya HM, Nurung (subarang) hingga depan jembatan, simpang tiga jalan raya A.Yani serta sejumlah jalan raya lainnya. Hal ini bertujuan untuk menanggulangi terjadinya kemacetan lalulintas.

“selain itu, kita terus menghimbau kepada masyarakat yang berkunjug ke Pagatan untuk tidak berdesak-desakan, rela antri dan tidak memarkir kendaraan mereka dengan seenaknya di pinggir jalan raya, yang tentuya hal itu bisa mengganggu kelacaran berlalulintas” ujar Kasatlantas.

Kepadatan pengunjung ini juga disebabkan oleh maraknya pedagang yang eksodus ke Pagatan demi meraih keuntungan setahun sekali. Aneka ragam dagangan pun tergelar dari ribuan lapak dipinggiran jalan raya dari seputar lapangan sepak bola 7 februari Pagatan, jalan raya A.Yani serta sejumlah jalan raya lainnya yang kerap dilalui oleh pengunjung Mappanretasi.

“asli…saya baru tahu kalau acara ini meriah banget,,,” ujar Afi (32), salah seorang pengunjung yang mengaku dating dari luar Kalimantan, secara khusus untuk melihat langsung prosesi Mappanretasi tersebut. Maklum, Afi mengaku hanya mendengarnya dari seorang sahabatnya yang berasal dari Tanah Bumbu, berikut melihat foto dokumnetasi puncak Mappanretasi.

Bupati Tanah Bumbu, Mardani H.Maming mengatakan, kegiatan pesta laut diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari bidang perindustrian rumah tangga, pariwisata dan kebudayaan lokal. Sehingga kesejahteraan masyarakat pagatan khususnya Tanah Bumbu terus dapat ditingkatkan setiap tahun.

“Momen Mappanretasi yang dinilai sacral ini harus mampu menjadi sesuatu yang patut dibanggakan bagi masyarakat Tanah Bumbu, bukan saja dilihat dari segi pariwisata dan kebudayaannya semata namun juga dari sisi ekonomi dan kesejahteraan. Terutama bagi masyarakat yang setiap hari berprofesi sebagai nelayan hendaknya mejadikan momen ini sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan atas segala limpahan sumberdaya alam kita yang sampai kini masih kita nikmati sebagai sumber penghasilan kita, sebagai sumber penghidupan kita dan juga sebagai salah satu sumber peningkatan kesejahteraan kita” ujar Mardani.

mappanretasi atau memberi makan laut dalam bahasa Bugis ini sebelumnya dikenal dengan istilah Massorong. Di abad modern sekarang kerap disebut Pesta Nelayan Masyarakat Pagatan. Prosesi ini adalah merupakan bagian dari prosesi Kerajaan Pagatan dan Kusan yang sangat disakralkan khususnya bagi Nelayan Bugis Pagatan. Kini kegiatan ini terus melekat sebagi wujud kekuatan khazanah budaya di Bumi Bersujud.

Meskipun Kerajaan Pagatan dan Kusan telah berakhir sejak tahun 1918, Mappanretasi masih tetap lestari dilaksanakan oleh para nelayan setempat. Hingga pada decade 1950-1960 yang lalu, Mappanretasi dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Karena ritual ini sempat mencuat kepermukaan dengan beragam kontropersi, antara syirik dimata Ajaran Agama Islam dan Warisan leluhur suku Bugis Pagatan.
Sejak ditetapkannya setiap Tanggal 6 April ditetapkan sebagai Hari Nelayan secara Nasional, hal ini dijadikan wadah tradisi silaturrahmi semua elemen Masyarakat Pagatan.
Hingga setelah Kongres nelayan tahun 1960 di Solo, ditetapkannya 6 April sebagai Hari Nelayan secara Nasional itu, maka Mappanretasi kembali dilaksanakan secara terbuka dengan kemasan baru berbalut kebudayaan. Bahkan, menurut penanggalan dan hasil penerawangan Sandro Mappanretasi, Sawerigading atau Penguasa laut meminta Sesaji dipersiapkan antara Tanggal 1 sampai dengan 6 April.

Dengan perubahan pada bagian ritual ritual dan sesajennya, seperti setelah Sandro (Dukun) melakukan berbagai ritual Mellarung atau memilirkan sesajen berupa kepal kerbau, ayam, nasi tumpeng, dan beberapa gram emas kelaut, untuk dipersembahkan kepada Sawerigading (Penguasa Laut) diwilayah timur Nusantara. Kini hanya pemotongan se ekor ayam ke tengah laut, kemudian di lepaskan bersama sesajen lainnya, nasi tumpeng dan hasil bumi lainnya. jika sebelumnya kepala kerbau ataupun binatan kurban lainnya dilarutkan ketengah laut dan di biarkan begitu saja, kini justru dinikmati bersama-sama sebagai hidangan pada acara syukuran massal, sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas berkah dan nikmat yang diberikan kepada mereka. Dengan harapan agar mereka selalu diberikan keselamatan dan rizki yang melimpah ketika mencari ikan ditengah ganasnya gelombang.

Sejak tahun itu, seluruh masyarakat bugis pagatan sepakat untuk melestarikan budaya mereka tersebut di setiap bulan April setahun sekali, sekaligus sebagai agenda wisata nasional yang terus di lestarikan hingga sekarang ini.
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

13 November 2012 07.44

kita pengen banget hadir dan menyaksikan langsung upacara adat ini, sebelumnya saya sudah banyak mendengar cerita dan kemeriahannya dari yang lain. kalo tahun depan diadakan lagi tolong informasikan juga ke saya yah, bisa lewat email saya herykita63@yahoo.com ato BB di 270CD2C3 ato hp di 08179379048 . sbelumnya saya ucapkan trimakasih.. salam kenal dari saya, Hery

3 Juli 2016 12.48

Sayangnya setelah acara sukses berjalan ada kewajiban yang d abaikan yaitu kepada kami terutama ... Bagian pasang tenda dan perlengkapan lainnya . Sampai sekarang mendekati lebaran . Kami masih belum terbayar lunas . Kami hanya menuntut ke EVENT ORGANIZER tetapi EO nya bilang belum cair. Dan alasan belum ada pencairan dana ini tidak jelas .

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved