Home » » Tahun 2010 Ditemukan 1.800.000 Kasus Malaria di Indonesia

Tahun 2010 Ditemukan 1.800.000 Kasus Malaria di Indonesia

Written By Fokus Batulicin on Selasa, 26 April 2011 | 15.17


BATULICIN - Data WHO menyebutkan tahun 2008 terdapat 544.470 kasus malaria di Indonesia, dimana di tahun 2009 terdapat 1.100.000 kasus klinis, dan pada tahun 2010 meningkat lagi menjadi 1.800.000 kasus dan telah mendapatkan pengobatan. Bahkan dibeberapa wilayah didapatkan prevalensi ibu hamil dengan malaria sebesar 18%, sehingga bayi yang dilahirkan memiliki resiko berat badan lahir rendah 2 kali lebih besar dibanding ibu hamil tanpa malaria. Selain itu, masih seringnya kejadian luar biasa yang dilaporkan oleh Kabupaten/kota.


Malaria adalah salah satu indikator keberhasilan Development Goal (MDG) yang harus dicapai oleh Indonesia. Yaitu mengendalikan penyebaran dan menurunkan jumlah kasus malaria menjadi setengahnya pada tahun 2015. Angka kejadian malaria pada tahun 1990 adalah sebesar 4,68 per 1000 penduduk, yang pada tahun 2015 ditarget akan turun menjadi < 1 per 1000 penduduk (yang berarti telah terjadi penurunan angka kejadian secara nasional sebesar > 50%). Pencapaian ini adalah pencapaian secara nasional yang bila dilihat pada pencapaian daerah/propinsi/kabupaten/kota masih terjadi disparitas yang cukup besar.

Setidaknya hal itu terungkap dalam kegiatan peringatan Hari Malaria Sedunia yang diperingati tanggal 25 April oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu di Halaman Kantor Bupati Tanahbumbu di Gunung Tinggi, Senin (25/4) pagi. Dengan mendengarkan sambutan Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH yang dibacakan oleh Wakil Bupati Tanbu Difriadi Darjat dihadapan peserta upacara yang terdiri dari PNS dan PTT Tanbu mengatakan bahwa penyakit malaria merupakan masalah penting di Indonesia, bukan hanya masalah kesehatan saja, tetapi dampaknya juga terhadap masalah sosial ekonomi.

Berdasarkan data tersebut, maka diperlukan upaya yang lebih kuat dalam pelaksanaan program menuju eliminasi malaria. Pelaksanaan eliminasi malaria, ujar Menteri Kesehatan, hendaknya didukung dengan 3 pilar kebijakan utama yaitu : 1) stop malaria klinis ganti dengan malaria konfirmasi, 2) stop mono terapi (terapi klorokuin) ganti dengan artesunate combination therapy (act), 3) cegah malaria dengan menggunakan kelambu berinsektisida.

Kegiatan untuk mencapai eliminasi malaria memerlukan sumber daya untuk mendukung program aksi yang telah dirancang seccara rinci dengan melibatkan segenap pihak terkait. Maka sesuai dengan amanat UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan adanya edaran Menteri Dalam Negeri nomor 443.41/465/SJ tanggal 8 Pebruari 2010 perihal pedoman pelaksanaan program emilinasi malaria di Indonesia, maka pemerintah daerah diwajibkan menyediakan anggaran sebesar 10% dalam APBD nya termasuk untuk eliminasi malaria. Kebijakan pusat tentang adanya Jamkesmas, Jampersal, BOK dapat disinergiskan dengan kebijakan daerah.

Disadari, penyakit malaria merupakan salah satu penyakit re-emerging yang masih menjadi ancaman masyarakat, terkait masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian pada usia produktif akibat malaria. Bahkan penyakit malaria juga berpengaruh pada kualitas kesehatan bayi, anak balita, dan ibu hamil.

Dalam rangka mencapai eliminasi malaria di Indonesia telah ditetapkan target eliminasi malaria secara bertahap, dimana pada tahun 2030 diharapkan diseluruh wilayah di Indonesia sudah mencapai tahapan eliminasi malaria.

Melalui peringatan Hari Malaria Sedunia, merupakan momentum untuk meningkatkan komitmen pemerintah daerah dan sekaligus mengajak seluruh masyarakat agar melakukan aksi atau tindakan yang konkrit dalam pengendalian malaria di Indonesia. dengan demikian masyarakat akan memahami bahwa dengan hidup sehat, mereka dapat terhindar dari malaria. Keterlibatan berbagai lintas sektor merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk mengeliminasi penyakit malaria lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.

Untuk itu, kepada semua pihak yang ikut berperan dalam mewujudkan eliminasi malaria di Tanah Air, yaitu : 1. Eliminasi malaria merupakan prestasi Pemerintah Daerah, oleh karena itu peran Pemerintah Daerah dalam keberhasilan eliminasi malaria sangat penting dan sangat menentukan. 2. Peran aktif masyarakat dalam mewujudkan eliminasi malaria sangat penting dalam upaya promotif, preventif, dan dalam pengendalian faktor risiko. 3. Upaya kesehatan berbasis masyarakat seperti poskesdes, posyandu, dan pos malaria desa perlu dioptimalkan perannya dalam mendukung tercapainya eliminasi malaria. 4. Untuk mendukung efektifitas upaya pencapaian eliminasi malaria perlu ada forum untuk komunikasi dan koordinasi lintas program dan lintas sektor di daerah.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved