Home » » 1900 Hektar Tanaman Padi Terendam Banjir

1900 Hektar Tanaman Padi Terendam Banjir

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 05 Mei 2011 | 10.53

Sudah dua minggu ini, ratusan warga yang memiliki areal pertanian di 15 Desa di kecamatan Kusan Hulu diselimuti kekhawatiran. Betapa tidak, sedikitnya 1900 hektar tanaman padi dengan ketinggian produktif ditempat itu, tercatat pada Badan penanggulangan Bencana Tanah Bumbu rawan gagal panen, lantaran sudah satu minggu lebih, tanaman tersebut terendam banjir bandang. Banjir yang terjadi sejak akhir April lalu diperkirakan merupakan banjir kiriman dari Desa Emil Baru kec. Kusan Hulu, sebagai hulu sungainya Tanah Bumbu.


Camat Kusan Hulu Naim BA kepada wartawan ketika dikonfirmasi melalui pesawat telponnya mengatakan sejak sore Rabu (4/5) kemarin air yang mulai menggenangi 13 desa lainnya yang berada pada bagian hulu, seperti emil baru dan tapus serta daerah sekitarnya telah berangsur surut hingga 10Cm. Akan tetapi pada 15 Desa potensial sentra pertanian lainnya seperti Desa Tapus, Tibarau panjang, Pacakan, Binawara, Bakarangan Emil Baru, Manuntung, Sungai Rukam, Lasung, Karang Mulya, Harapan Jaya, dan desa Darasan Binjai kondisi air hingga berita ini diturunkan masih cukup tinggi.

Saat ini, dari pihak kecamatan, beserta Badan penanggulangan bencana masih terus melakukan pemantauan dan juga pendataan terhadap besar kerugian warga serta dalam bentuk apa bantuan yang dibutuhkan warga setempat. Terlebih berupa bibit tanaman padi. Mengingat untuk periode 2010-2011 ini di Kecamatan Kusan Hulu telah mengalami musibah banjir tiga kali bertturut-turut serta mengalami gagal panen seluas ribuan hektar.

Akan tetapi, sampai saat ini dari warga Kusan Hulu belum mengajukan bantuan makanan, air bersih maupuun obat-obatan. mengingat, banjir kiriman seperti ini, diutarakan Naim, dianggap hal yang biasa terjadi, karena komunitas warganya hidup disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Sehingga bantuan seperti itu dinilai masih belum diperlukan. “yang pasti kita data dulu, kalau warga disini tidak terlalu menghawatirkan kebutuhan primer mereka. Akan tetapi yang mereka khawatirkan adalah tanaman pertanian mereka. Kalaupun pemerintah memberikan bantuan. Mereka paling Cuma membutuhkan bibit padi saja” ujar Naim Kamis (5/5) Kemarin.

Masih menurut Abdul Naim, banjir ini diduga karena adanya kegiatan Penambangan Batubara dan pendulangan emas tradisional yang telah menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai Kusan, serta adanya pembukaan lahan perkebunan di daerah hulu yang melakukan penebangan pohon hutan tadah hujan. Akan tetapi untuk menetapkan secara pasti pihaknya juga belum bisa, mengingat masih membutuhkan penelitian dan pengkajian lebih lanjut. Namun jika dilihat secara kasat mata, maka beberapa factor itu bisa saja dikatakan sebagai penyebab banjir. Apalagi dalam beberapa minggu belakangan tidak pernah terjadi hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi maupun sedang.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved