Home » » Antrian Di SPBU Semakin Meningkat

Antrian Di SPBU Semakin Meningkat

Written By Fokus Batulicin on Senin, 23 Mei 2011 | 19.26

Bensin RP 7000/ Liter
BATULICIN- Antrian kendaraan roda dua dan empat baik pengguna BBM Premium maupun BBM Solar bebarapa pekan terakhir mulai ramai mengantri hingga berjam jam di SPBU yang terdapat di bilangan jalan Raya Batulicin, Pelajau Simpang Empat , Pagatan hingga pada sejumlah SPBU yang ada di Satui Kabupaten Tanah Bumbu. Panjangnya antrian pengisi Solar dan Premium ini bukan sebagai pertanda mulai langka bahan bakar kendaraan tersebut di Tanah Bumbu. Melainkan menjadi sebuah gambaran betapa maraknya pelangsiran yang bercokol di SPBU setiap hari, hingga mengganggu mobilisasi kendaraan umum yang hilir mudik lalulalang di sepan SPBU.


Maklum para pelangsir rebutan antri dengan para pengguna BBM pada umumnya hingga memakan sisi kanan dan kiri jalan raya yang ada di depan SPBU. Selain mengganggu kelancaran lalulintas, maraknya antrian pelangsir ini mengakibatkan tingginya harga kedua bahan bakar itu sendiri ditingkat eceran.

“seakan akan dengan kejadian seperti ini menggambarkan bahwa solar dan premium langka di Tanah Bumbu, padahal nyatanya tidak seperti itu. Hal ini bisa dilihat banyaknya pedagang premium eceran yang muncul secara dadakan di bilangan jalan raya pelajau Batulicin dan sekitarnya, begitu juga di depan SPBU Kusan hilir. Kalau langka, seharusnya premium dan solar tidak diperjual belikan dengan mudah di sepanjang jalan di tingkat eceran.Tapi anehnya, justru kita selaku pembeli kesulitan mendapatkan premium untuk kendaraan di SPBU-SPBU yang ada, begitu juga kita lihat panjangnya antrian Truck untuk mendapatkan solar semakin hari semakin bertambah panjang, ada apa sebenarnya ini’” ujar Jali Ahmad, (45) warga Batulicin ketika dimintai keterangannya terkait panjangnya antrian di SPBU, disela kesibukannya mengisi Premium untuk kendaraan roda dua yang ia tunggangi Senin (23/5)kemarin di SPBU pelajau Simpang Empat.

Dari pantauan ini, di sejumlah pengecer Premium sudah ada yang berani memasang bandrol Rp 7000 hingga Rp 8000 per liter. Seperti yang ditemukan di jalan raya pelajau, Batulicin dan sekitarnya. Sementara ditingkat pengecer yang terdapat di Kecamatan Kusan Hilir harga yang mereka tetapkan masih berada di kisaran Rp 6000 hingga Rp 6500 perliter. Menurut salah seorang epalangsir di batulicin, harga eceran Premium dan Solar mengalami peningkatan lantaran untuk mendapatkan BBM di SPBU pihakya harus membeli dengan harga yang juga melebih HET.

Jika Solar pada umumnya dijual sesuai HET Rp 4500 (Subsidi) perliternya para pelagsir harus rela merogoh kocek Rp 4700/liter. Begitu juga untuk mendapatkan premium duit tambahan harus disiapkan untuk memberikan petugas SPBU agar “urusan bisa lancar”. Jika pelangsir berani membeli mahal di SPBU, pelangsirpun dengan mudah mendapatkan jatah BBM dari 50 liter, 100 liter, hingga 200 liter untuk setiap harinya yang bisa dijual di eceran ataupun disuplai ke lokasi tambang.

“saya punya ijin HO, ijjin penumpukan BBM dan juga untuk ijin penjualannya, cukup surat surat itu saya peroleh dari kepala Desa, hasilnya saya bisa mendapatkan jatah hingga 200 liter perharinya” ujar salah seorang pelangsir yang kerap mengecer BBMnya di Bilangan raya Pelajau ini.

Terkait adanya harga baru di SPBU ini, para petugas dan pengawas SPBU membantah hal itu. Menurutnya harga yang mereka jual tetap dengan harga Rp 4.500/ liter untuk Solar, begitu pula menjual Premium tetap sesuai dengan HET yang berlaku. Namun dengan adanya harga Rp 4.700 perliter itu, Ami (42) petugas SPBU Pelajau mengaku hal itu tidak pernah terjadi. Jikapun ada itu hanya merupakan keikhalasan hati para pelangsir sendiri untuk memberikan ala kadarnya kepada petugas jaga.

Hal senada juga diungkapkan oleh Said Ahmad Albahasyim petugas SPBU Kusan Hilir. Pihaknya selama ini hanya menjalankan aturan yang diterapkan oleh PT. Pertamina termasuk dalam menetapkan HET Solar dan Premium. Jikapun ada pelangsir mengaku mendapatkan Solar dengan harga diatas Rp 4500/liternya, itu hanya prilaku oknum petugas SPBUnya saja. Jikapun ada pelangsir memberikan harga lebih secara pribadi, pihaknya juga tidak menolak.

“yah..gasan bagi-bagi nang lain lah” ujar Said, saat dikonfirmasi kemarin.

Dengan maraknya para pembeli dan pengantri belakangan ini di SPBu. Baik Ami maupun Sayid mengaku sama sama bingung. Mengingat sampai dengan saat ini tidak ada dilakukan pengurangan jatah dari PT. Pertamina. Dengan rata rata distribusi dari Pertamina untuk SPBU Pelajau, kuota solar mencapai rata-rata 450 Ton/bulan dan 600 ton untuk BBM Premium Subsidi. Sementara untuk distribusi SPBU Pagatan kuota BBM 34 ton Solar Subsidi dan 37 Ton untuk jatah Premium Subsidinya.

IRONIS

Phenomena Antrian Konsumen SPBU ini Bisa dibilang “Aneh Tapi Nyata”. Disaat sebagian besar pengguna BBM Premium dan Solar kesulitan mendapatkannya dari sejumlah Setasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu, namun para pemilik kios BBM pengecer yang berada di sepanjang jalan raya provinsi setempat justru terlihat penuh sesak di hiasi botol-botol premium dan jerigen solar. Pemandangan ini mulai terlihat sejak awal pecan lalu. Maklum penjualan BBM terutama jenis Premium di sejumlah SPBU terlihat mulai bergejolak.

Dengan kata lain, para pengantri premium di SPBU cukup panjang. Imbas tersebut sepertinya belum ada perubahan dan bahkan masih dirasakan oleh sejumlah pengguna motor. Parahnya lagi, di sejumlah SPBU seperti SPBU Satui, Angsana, Pagatan, kersik Putih Batulicin dan Pelajau Simpang Empat sejak sepekan ini, BBM Premium selalu kosong, alias Habis. Akibatnya para pengguna BBM Premium terpaksa membelinya dari pengecer, meskipun harga jualnya sedikit mahal rata-rata mencapai Rp 6000 hingga Rp 7000,.setiap botol/liter.

Yang jadi pertanyaan, jika para pengecer bisa mendapatkan stock yang banyak BBM Premium ini, lalau kapan jatah pengguna kendaraan bermotor bisa menikmati fasilitas SPBU dengan leluasa tanpa harus merasa cemas jika Premium di SPBU akan habis. Kalau toh, SPBU hanya berfungsi sebagai penyalur BBM untuk para pengecer atau pelangsir saja.

Demikian keluh salah seorang pengguna kendaraan bermotor, Syarif (34) warga lapangan lima Oktober Simpang Empat, yang mengaku sepekan ini sudah tidak pernah mengisi BBM di SPBU lagi, lantaran SPBU selalu kehabisan stok Premium. Sementara, dari Pantauan, dari kecamatan Satui terlihat SPBU di dua tempat dikecamatan itu telah dua hari ini kekosongan Premium. Sementara disepanjang jalan raya yang tidak jauh dari SPBU dan bahkan ada yang tepat berada di depan SPBU , kebanjiran Premium. Puluhan botol ukuran 1 liter yang ia pampang didepan kiosnya penuh terisi Premium. Pemandangan ini juga tidak jauh berbeda disekitar SPBU Kota Pagatan, dan Batulicin. Dimana dengan kejadian ini sebagian masyarakat Batulicin menilai cukup ironis.

“yah... bisa dibilang ironis lah..masa Indonesia selalu kesulitan BBM. Apakah dengan seperti ini masyarakat di seluruh Indonesia simpatik terhadap Pertamina, saya rasa tidak. Apalagi dengan maraknya pelangsir yang bercokol di SPBU dan bahkan mengecernya lagi tidak jauh dari SPBU. Ini juga sangat menyulitkan para pengguna kendaraan umum. Seharusnya ada aturan yang melarang agar SPBU boleh menjual kepada pengecer dengan jarak minimal 10 KM dari SPBU. Agar penjualan BBM di SPBU bisa normal dan SPBU juga berfungsi sebagai mana mestinya, bukan menjadi panyalur para pengecer dan pelangsir saja” ujar Andi warga Tanah Bumbu.

Keluhan terhadap pelangsir dan pengecer disekitar SPBU ini bukan saja dikeluhkan oleh para pengguna Kendaraan umum saja, melainkan juga datangnya dari para pengelola SPBU sendiri. Seperti dikeluhkan Said pengawas salah satu SPBUdi bilangan jalan raya Simpang Empat ini, pihaknya juga sudah beberapa kali mengeluarkan kebijakan dan aturan bagi para pelangsir ini. Akan tetapi justru semakin repot. Ujung-ujungnya kerap menuai masalah baru oleh sejumlah pelangsir yang bergaya preman. Belum lagi ditambah aksi para petugas kepolisian yang juga ikut ambil bagian dalam perkara pelangsiran ini.

3-4 Jam BBM di SPBU Ludes

Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar bagi kendaraan umum yang ada di sejumlah SPBU di Tanah Bumbu mulai sulit didapat, kesannya Solar tersebut selalu kosong setiap hari. Nyaris setiap hari di puluhan spbu yang tersebar dari Sungai Dua Kecamatan Simpang Empat hingga kecamatan Satui selalu sepi dari mobil-mobil berbahan bakar solar .

SPBU tersebut baru akan terlihat ramai di saat Mobil Pertamina merapat memasukkan solar di siang atau sore hari. Itupun baru bertahan dengan selang waktu 3 hingga 4 jam saja. Dari pantauan Mata Banua, satu satunya SPBU yang selalu terlihat memiliki stock Solar setiap hari hanya di SPBU Pelajau Kecamatan Simpang Empat. Di tempat ini, puluhan dan bahkan ratusan mobil truck dan mobil priobadi berbahan bakar solar lainnya selalu terlihat antri berjejal mengisi BBM. Baik pagi maupun sore hari.

“untuk SPBU Pelajau, kami di beri jatah 450.000 liter setiap bulannya. Dengan pengiriman jatah 10.000 hingga 20.000 liter setiap hari, dengan waktu berselang seling. Dengan agenda pengiriman jatah, di awal bulan 10.000 liter namun nanti di pertengahan bulan juga sesekali dikirmkan 20.000 liter setiap harinya. Kini kita hanya menghabiskan jatah yang lalu, bahkan untuk kuota di hari minggu kita sudah tidak ada lagi” Ucap Ami pengawas SPBU Pelajau Kecamatan Simpang Empat saat ditemui diruang kerjanya kemarin.

Belakngan, kondisi ini selalu menjadi keluhan pengguna Solar, terutama bagi sejumlah mobil operasional Dinas, Badan, instansi pemerintahan yang memiliki mobilisasi kerja yang cukup tinggi. Begitu juga bagi masyarakat umum lainnya. Edward, warga Simpang Empat mengharapkan kondisi ini tidak terjadi berlarut larut. Mengingat Solar sangat dibutuhkan di Tanah Bumbu, mengingat sebagian keberadaan mobil truck pribadi dan angkutan umum berbahan bakar solar cukup banyak di Tanah Bumbu. Terlebih lagi mobil operasional di Tanbu kebanyakan menggunakan Solar.

“solar selalu kosong setiap hari, ini menyusahkan warga, seharusnya ini cepat di atasi dan pihak Pertamina” Ucap Edward, saat dimintai komentarnya terkait langkanya solar dan Premium ini.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved