Home » » Mengenal Alam dari Pundak Trail

Mengenal Alam dari Pundak Trail

Written By Fokus Batulicin on Senin, 20 Juni 2011 | 12.22

BATULICIN- Semula semua hanya sebatas sebuah perkiraan. Semuanyapun samar-samar bagai sebuah bayang-bayang saja. Tapi kini, perlahan tapi pasti, aku mulai melihat betapa masih banyak yang belum aku ketahui. Ini bukan tentang rezeki, jodoh, ataupun maut. Tetapi tentang sebuah keindahan atas rahmat Tuhan YME yang ada di sekitar kita, disekililingku, dari bagian pemandangan alam yang selama ini ramai diberitakan.


Tanah Bumbu, dulu menurut penuturan beberapa Tokoh terkemuka sering menyebtkan banyak menyimpan seribu bahkan lebih dari sekian banyak kekayaan Sumber Daya Alamnya, selain menyimpan seribu SDA, juga selali saja menyimpan Misteri dan Tragedi bagi Umat Manusianya sendiri.

Tak kenal, maka tak sayang. Mungkin itulah yang membuat setiap manusia tak berakhlak senang untuk merusak Bumi Alam beserta isinya tersebut. Eksploitasi material, biji besi, dan Batu Bara serta Emas bahkan Pohon Raksasa dikeruk dan ditebangi membabi buta tanpa mengenal aturan, Tanpa mengenal dampak yang mengerikan bakal ditimbulkan. Padahal, jika sudi merendah diri, merenung sejenak menundukan kepala seketika, betapa kita akan mengetahui bahwa alam selalu saying dengan manusia, tanpa meminta ia akan member, namun pernahkah kita memberikan apa yang alam butuhkan?. Tentu jawabnya masih remang-remang.


Melintasi pertama kali menuju puncak pegunungan yang ada di Tanah Bumbu, membuat hatiku bergetar. Sekaligus merasakan sebuah kebanggaan terhadap sisi lain dari harapan yang terpendam. Tanah yang memerah, harum merona. Tetumbuhan hijau meranum. Suara binatang liar yang membahana, serta gemericik air yang mengalir dari sela bebatuan membuka mataku yang selama ini nyaris buta.

Betapa masih ada pemandangan alam yang menyejukkan mata kita, disela rumpun eskapator dan alat berat yang terus meraung ditengah padang safana menggaruk emas hitam dan merusak alam milik Tuhan, milik binatang liar, dan milik manusia yang beradab.

Menggunakan Motor Trail KLX 50 kawasakiku, aku bersama Rider Adventure Polres Tanah Bumbu yang selalu setia menyusuri celah bebatuan, pinggiran jalan berkubang, serta tajamnya biji besi dari belantara pegunungan Tanah Bumbu, setapak demi setapak ku susuri dengan mata tajam. Rimbunnya Hutan Pegunungan Penyesalan (Gunung Besi) Sungai Dua Kec. Simpang Empat menjadi pilihan pertama kami. Kapolres Tanah Bumbu,Pak Win, Wakapolres Pak Kus, Bung Agus Jarwo, Agus Tompel, Puput, Koplak, Kopong, H. Upi, Kanit Helky, bung Danar serta bebera Rider yang belum sempat saya sebutkan, ketika berada dipuncak Gunung dengan ketinggian ribuan meter dari permukaan laut, semuanya mengaku kagum dan berdecak atas pemandangan yang disuguhkan.

Tanah Bumbu bahkan belahan bumi Kalimantan, seurat terlihat disini. Namun sayang, hutan yang rimbun ini perlahan tak mampu menyimpan ketersediaan air. Lantaran terlalu sulit menemukan pepohonan berbadan besar. Jikapun ada itupun bisa di hitung dengan jari. Maklum pembalakan liar masih saja ada yang melakoninya, demi meraih pundi rupiah dari jalan yang sesat menyesatkan. Saat kutemukan derasnya Air terjun di belahan Bukit Penyesalan (nama bukit yang kini menjadi daerah resapan air Tanah BUmbu oleh PT. Jhonlin.red) kusempatkan diri untuk menikmati kesejukannya. Kubasahi tubuh, hingga meminumnya. Terasa bak air surga pelepas dahaga.

Tak bisa kubayangkan jika suatu saat derasnya air ini akan punah, tanpa adanya perhatian serius dari manusia itu sendiri. Lalu, apakah manusia akan mendapatkan bencana kekeringan, tanah longsor dan musibah banjir… jawabnya tak heran jika itu harus terjadi. Semakin keras kupacu Motor ku, hingga kali ini ku pijaki kakiku diatas Pegunungan Mentewe yang konon katanya masuk daerah pertambangan Yhiwan Minning. Meskipun hancur terbelah porak poranda akibat aktifitas pertambangan, namun tetap saja jalan setapak ekstrim terjal dan menanjak itu tetap saja menjadi tantangan menggairahkan.

Ya…tentunya menggairahkan untuk melihat dan mengetahuinya lebih dalam lagi.

Tanah merah bergerondol melekat di spakborku. Sesekali menghempas kewajahku akibat kibasan motor teman temanku yang berada di bagian depan. Harumnya tanah merah itu masih bisa kudengus, kandungan biji besinya terlihat dengan mata kepala telanjang. Kepingan rupiah bagi penikmatnya. Eksotis…hanya itu yang bisa aku katakan. Kunikmati pemandangan itu untuk hari ini. Menjadi bagian Harmony kehidupan Rider Motor Trail Adventure dengan alam Bumi Bersujud.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved