Home » » Bunati dan Angsana Ditetapkan sebagai Kawasan Perlindungan Laut Daerah

Bunati dan Angsana Ditetapkan sebagai Kawasan Perlindungan Laut Daerah

Written By Fokus Batulicin on Jumat, 16 September 2011 | 09.22

BATULICIN-menyelamatkan kawasan terumbu karang yang ada di Kecamatan Angsana dan Sungailoban, Tanah Bumbu mardani H Maming telah mengeluarkan SK Bupati No 327 Tahun 2011 Tentang Penetapan Kawasan Perlindungan Laut Daerah (KPLD).

Surat Keputusan itu, bukan saja hanya untuk melindungi gugusan terumbu karang yang ada di desa Marga Mulya Kecamatan Sungai Loban dan desa Bunati Kecamatan Angsana, akan tetapi juga melindungi kawasan hutan mangrove yang ada ditempat itu.


Said Akhmad Asegaf selaku kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA) Tanah BUmbu, mengatakan, Penetapan Kawasan Perlindungan Laut Daerah itu dinilai perlu mengingat pentingnya menyelamatkan habitat biota laut dan kawasan pesisir yang dilindungi dunia dan merupakan tempat berkembang biaknya biota laut pada terumbu karang yang ada. Denganpentapan KPLD Angsana seluas 8.110. 193Ha, dan KPL D Sungai loban seluas 4,749, 964 Ha.

“Dikeluarkannya SK Bupati tentang KPLD ini berfungsi untuk menetapkan kawasan yang telah ditentukan di desa Marga Mulya Kecamatan Sungai Loban, dan desa Bunati Kecamatan Angsana sebagai zona KPLD Tanah Bumbu. KPLD ini mengemban tugas konservasi untuk keperluan pelestarian lingkungan, pendidikan, dan ekonomi rakyat. Dimana dari zona yang telah ditetapkan di bagi menjadi dua pembagian wilayah. Yaitu kawasan inti, yang merupakan kawasan perlindungan Habitat dan populasi Sumberdaya Hayati. Kemudian pada Kawasan Luar Inti merupakan perlindungan dan pemanfaatan” ucap Said Akhmad saat ditemui Wartawan diruang kerjanya di kawasan KAPET, jalan Transmigrasi Simpang Empat Batulicin, kemarin.

Sebelumnya pemerintah Provensi melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan (Kalsel) mengusulkan lahan seluas 4000 hektar dengan panjang 40 kilometer di kawasan pesisir timur Kalsel sebagai kawasan perlindungan terumbu karang. Hal itu seperti di ungkapkan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel, Drs.Isra`, di Banjarmasin, belum lama tadi mengungkapkan, kawasan tersebut akan disiapkan untuk melindungi terumbu karang dari ancaman kepunahan akibat kegiatan lalulintas tambang serta pemburu biota laut.

Kawasan pesisir laut yang akan disiapkan sebagai daerah konservasi tersebut yaitu, kawasan pesisir pantai dari Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu hingga Aluh-Aluh Kabupaten Banjar. Daerah tersebut dinilai sangat cocok sebagai kawasan konservasi, karena memiliki terumbu karang yang khas yang tidak didapatkan di daerah lain di Indonesia," katanya. Isra` didampingi Kasubdin Pengawasan dan Perlindungan Sumber Hayati, Iskandar Permana, mengungkapkan kekhawatirannya bila pihaknya tidak segera menetapkan peraturan pesisir Timur sebagai kawasan konservasi, terumbu-terumbu karang tersebut lama kelamaan akan punah. Mengingat kondisi perairan di daerah tersebut yang semakin hari semakin memburuk akibat aktivitas angkutan pertambangan, yang mengakibatkan pencemaran di dasar laut.

"Adanya kapal-kapal yang melakukan pencucian di daerah tersebut, sangat mungkin menjadi salah satu penyebab musnahnya terumbu karang maupun biota laut lainnya, Karena debu-debu batubara bekas pencucian, akan larut dan menutup terumbu karang hingga menyebabkan tanaman laut tersebut tidak bisa bernafas. " katanya.

Menurutnya, saat ini kawasan pesisir yang kondisinya masih sangat bagus berada di kawasan Bunati yang juga memiliki ke khasan terumbu karang, selain juga masih menjadi tempat mata pencaharian para nelayan yang potensial. Matinya terumbu karang, tambahnya, berarti akan membuat ikan-ikan yang hidup di sekitarnya memilih pergi ke daerah lain. Kondisi tersebut juga akan sangat membahayakan kelestarian jenis-jenis ikan yang didadalamnya.


SEkedar diketahui, awal Januari lalu, sejumlah nelayan dan juga LSM menyampaikan keluhannya ke kantor DPRD, menuding Pelabuhan Khusus Batubara milik PT. TIA, PT. BIB, dan PT. BBC yang tepat berada pada titik kawasan pencanangan kawasan Konservasi itu diketahui telah berdiri dan beroperasi cukup lama dan sampai saat ini masih dalam kondisi aktif melakukan kegiatannya. Hal ini menjadikan kondisi terumbu karang yang terdapat disepanjang bibir pantai itu kondisinya semakin keritis.

Itu disampiakan Dewan Pengawas DPP Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia, H.F.R Ghanty Syahabudin, SH. MM yang datang jauh jauh dari jakarta untuk menyeret permasalahan tersebut ke kantor DPRD. Menurut Ghanty Syahabudin yang datang ke DPRD Tanbu beserta sejumlah nelayan di Kec. Angsana ke DPRD berikaut kepala desa Angsana Said Umar Al-Iderus,beberapa waktu lalu.

dengan keberadaan ke tiga pelsus raksasa itu, membuat habitat dan ekosistem bawah laut angsana terganggu. Sehingga beragam biota yang terdapat didalamnya terancam punah, salah satunya terumbu karang. Sebagai imbas dari sedimentasi atau endapan lumpur serpihan batubara yang tertiup angin saat proses loading dan pengiriman diatas tongkang. Dalam jumlah besar dan dilakukan secara terus menerus, hal itu diyakini menutupi sinar matahari yang menuju bawah laut, dan menghambat proses photosintesis biota laut yang sebagian besar membutuhkan cahaya matahari untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

“gelapnya bawah laut akibat partikel batubara telah terbukti menghambat pertumbuhan karang. Bahkan beberapa kali dilakukan transplantasi (budidaya terumbu karang dengan media buatan) terbukti sangat sulit bertahan hidup, bahakan jikapun hidup pertumbuhannya sangat lamban” ujar Rudi Ketua kelompok masyarakat nelayan angsana yang kerap melakukan penyelaman di laut angsana itu.

Ditambahakan Ghanty Syahabudin, kerusakan yang terjadi jika dilihat dari hasil survey tim Unlam yang diketuai oleh Suhaili beberapa waktu lalau sebelum adanya Pelsus tersebut jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, sudah terlalu parah. Sehingga mengancam kehidupan nelayan setempat yang selama ini masih menggantungkan hidup mereka dari hasil laut.

Anggota DPRD Tanbu Aman makmur, dari fraksi golkar menambahkan, dirinya yang juga merupakan mantan penggiat penghijauan di Tanah Bumbu ditahun 2005 lalu, kerap menyaksikan nelayan di sekitar lokasi Sungai Loban, dan Angsana menangkap benur atau bibit udang. Dengan hanya menggunakan daun cemara yang diletakan dibibir pantai disekitar mangrove selama satu jam saja sudah bisa mendapatkan bibit udang ribuan ekor. Tapi kini, hal itu sudah sangat sulit dilakukan. Jikapun masih ada yang melakukan pencarian bibit udang dengan cara tradisional itu, meskipun dilakukan berjam-jam tak satupun bibit udang yang tertangkap. Untuk itu, Aman Makmur menyarankan agar pemerintah daerah dapat mengembalikan setatus kawasan tersebut menjadi kawasan konservasi, sebagaimana disaat Tanah Bumbu masih satu kabupaten dengan Kotabaru yang telah ditetapkan sebagai kawasan Konservasi. Sehingga Pelsus yang ada ditempat itu harus dipindahkan.

Anggota DPRD lainnya, Fajar Syahrani dari fraksi PDI-P, mengatakan dirinya tak habis pikir, mengapa ketiga pelsus tersebut bisa beroperasi. Padahal pada tahun 2007 silam, oleh Gubernur Kalimantan Selatan tidak memberikan izin resmi. Diduga hal itu adalah hasil akal-akalan pemerintah daerah setempat saja. Untuk itu dirinya memintah agar lembaga eksekutif mempelajari kembali segala bentuk perizinan yang dikantongi pelsus milik BIB, BBC, dan PT TIA tersebut. Apalagi setelah masyarakat sekitar merasakan kesulitan pendapatan mereka ditengah laut yang diduga dari rusaknya ekosistem bawah laut karena kerusakan lingkungan dan pencemaran yang terjadi.

Ir Erno RH, selaku Kepala Bapedalda Tanah Bumbu mengatakan terkait permasalahan adanya tudingan pencemaran laut Angsana itu, kini tengah dilakukan penelitian secara mendalam dan lebih detail lagi, yang dilakukan oleh tim kajian khusus yang didatangkan dari Universitas Lambung mangkurat banjarmasin. hal ini untuk mengetahui lebih jauh apakah penyebab kerusakan terumbu karang yang ada di Bunati dan Angsana itu murni akibat Aktifitas tambang, atau faktor lainnya.


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved