Home » » Tambang Dipemukiman, Warga Banjar Sari Kelsulitan Air Bersih

Tambang Dipemukiman, Warga Banjar Sari Kelsulitan Air Bersih

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 15 September 2011 | 19.56

Rp 5.700/ton untuk Desa
BATULICIN- Tragis, itulah kalimat yang terucap ketika melihat aktifitas pertambangan di tengah tengah perkampungan dengan ratusan kepala keluarga masih tinggal di tempat itu. Banjar Sari, desa terpencil di kecamatan Angsana kabupaten Tanah Bumbu, dulunya merupaka pedesaan yang kental dengan penghidupan perkebunan. Namun kini berubah menjadi kawasan pertambangan ditengah perkebunan karet dan sawit. Pemandangan itu, terpantau oleh wartawan kamis (15/9).


Di tempat itu, bukan saja rumah rumah warga yang menggantung akibat galian tambang, akan tetapi sekolah SDN 2 banjarsari yang dulunya terlihat Asri dengan back ground hijaunya perkebunan karet dan sawit, kini terlihat gersang dan menakutkan. Lantaran dibalik pagar seng sebagai sekat Perusahaan Tambang yang tengah sibuk menggali lubang terlihat siap menelan penghuni sekolah, lantaran terlalu dekat dengan lokasi pengerukan batubara. Begitu pula dengan SMP Negri 1 Banjarsari Angsana, juga bernasib yang sama.

Berdasarkan penelusuran, di desa Banjar Sari itu, terdapat 3 perusahaan tambang aktif ditambah dengan sejumlah subkontraktornya. Ketiga perusahaan itu diantaranya CV. Bara Bintang (64,1 Ha), Baramega Berkah Utama (90,4Ha), dan CV. Bintang Mulia Bara (78 Ha). Selain itu, satu perusahaan batubara, Sarana Usaha juga tengah sibuk melakukan loby pembesan lahan yang konon kabarnya memiliki lahan galian 70 Hektar diatas permukiman dengan 100KK diatasnya.

Tidak menampik, sebagian kecil warga desa Banjar Sari menyetujui adanya aktifitas pertambangan didesanya. Lantaran banyak peluang usaha yang hadir ditempat itu, lapangan pekerjaanpun terbuka lebar, maklum perusahaan tambang yang ditemui Wartawan rata rata mengaku lebih memperhatikan dan memberdayakan masyarakat setempat, sehingga diyakini kesejahteraan masyarakatnyapun diharapkan dapat meningkat.

Namun bagi mereka yang berpikiran panjang, akan merasa takut dengan kehadiran mobil mobil berbadan besar yang setiap hari mondar mandir mengeruk harta karun Emas Hitam di belakang rumahnya, disamping sekolah mereka, dan bahkan tidak jauh dari tempat mereka beribadah. Kampong yang dulunya asri, kinipun terlihat compang camping. Ironisnya lagi ratusan warga di Desa Banjarsari itu kini tengah mengalami kesulitan air bersih.

“apalagi kalau musim kemarau seperti ini, warga kami rata-rata mengalami keslutitan air bersih. Hal ini kami rasakan setelah ada nya aktifitas pertambangan didesa kami. Untuk itu kami berharap agar pemerintah daerah lebih serius melakukan pengawasan dan pemeriksaan sebelum menerbitkan KP atau izin penambangan lainnya di tengah permukiman” ujar Tarno kepala desa Banjar sari ketika ditemui wartawan kemarin.

Pihaknya telah berupaya dan meminta perhatian dari pemerintah eksekutif dan lrgislatif dengan mengirimkan surat penolakan adanya aktifitas penambangan didesanya, mengingat banyak warga yang t idak menginginkan adanya pertambangan, terutama yang bakal digarap oleh Sarana Usaha. Menurut Tarno hal ini setelah mereka belajar dari pengalaman dengan adanya penambangan lainnya yang telah dilakukan terlebih dahulu.

Salah satu warga banjarsari Bq, Semah (35) sempat menuturkan permasalahan kelangkaan air bersih yang kini tengah mereka hadapi. Meskipun, sejumlah perusahaan yang tengah melakukan pertambangan ada juga yang rela membuatkan sumur bor, akan tetapi tetap saja dinila tidak cukup memenuhi semua kebutuhan air bersih warga. Mengingat, sumur yang dibangun sebut saja salah satunya adalah oleh CV Barabintang sangat terbatas jumlahnya.

“sumur kami lebih cepat kering, kalau menimba atau menyedot air sumur bor kita juga kerepotan lantaran harus memasang pipa yang cukup panjang karena letak sumur bornya dengan rumah warga masih cukup jauh” ujar Semah.

Dilema, kadang bisa juga disebut seperti itu. Ada yang suka dan adapula yang tidak suka dengan kehadiran alktifitas pertambangan di banjarsari. Sebagian besar adapula warganya yang siap saja menjual lahan areal permukiman mereka dengan persyaratan mereka harus disiapkan lahan baru untuk ditempati alias Relokasi meskipun diketahui lahan perkampungan yang mereka tempati sekarang ini dulunya merupakan kawasan Transmigrasi.

“ya, kalau di Banjar Sari ini, bagi mereka yang ingin menjual tanah mereka,terutama yang bersinggungan dengan lahan Sarana Usaha, akan tetapi mereka minta direlokasi, atau disiapkan lahan yang baru sementara, penduduk lainnya yang juga bermukim di dekat lokasi tambang lebih banyak lagi yang menolak. Sebagai contoh, di atas lahan Sarana Usaha ini terdapat 100 KK, dari 100 KK itu Cuma 8 orang yang setuju, “’ ucap Pembakal Banjar Sari, menambahkan.

Baik CV. Bara Bintang, maupun CV. Bintang Mulia Bara mengakui, dalam pelaksanaan aktifitas mereka, mereka lebih memperhatikan kondisi lingkungan dan kebutuhan social masyarakat setempat. Perhatian perusahaan ini bukan hanya berupa pemberian bantuan berdasarkan profosyal saja. Akan tetapi dari pembangunan sarana prasaran desa, jalan dan jembatan, peningkatan kualitas pembangunan sarana ibadah, hingga setoran rutin” fe desa” melalui Kadesnya pun tetap berjalan berkesinambungan.

Bahkan dari penuturaan Muji selaku pengawas CV Bintang Mulia Bara, pihaknya setiap bulan menyerahkan fe desa tersebut sebesar Rp 5,700/ton. Dengan catatan, itu baru satu perusahaan saja, bayangkan jika semua perusahaan memberikan dengan nominal yang sama. Kemudian kebutuhan desa juga selalu diperhatikan oleh perusahaan, termasuk prihal kesejahteraan maasyarakatnya juga turut diperhatikan, tentunya melalui berbagai macam program bantuan maupun penerimaan karyawan local, tentunya hal ini menjadi nilai plus bagi wajah kota.

Namun saat di lihat dengan kasat mata, desa ini masih saja tertinggal dibandingkan desa lainnya. Jikapun memiliki masjid yang megah, itupun dibangun oleh H Ahmad selaku petinggi Bintang Mulia Bara, jikapun memiliki sekolah SD, salah satunya kini mulai terancam keberadaannya, begitu juga SMPnya.

Lalu, yang jadi pertanyaan, kemana dana bantuan dari perusahaan tersebut, benarkah hanya dinikmati segelintir oknum saja yang konon katanya dari Polsek, Camat, Kepala Desa, serta Aparat Desanyapun turut menikmatinya.

“dari angka Rp 5,700/ton itu kita membagi-baginya untuk semua lembaga yang ada di desa. Dari kompensasi untuk Desa, BPD, PKK, Karang taruna serta LPM yang ada di desa” ujar Tarno selaku Kepala Desa.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved