Home » » Bagang Apung Mulai Ditinggalkan

Bagang Apung Mulai Ditinggalkan

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 24 November 2011 | 11.06

BATULICIN- Terobosan Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Tanah Bumbu memberikan bantuan sejumlah Kapal Bagang Apung, sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan, ternyata kini Bagang Apung Itu sendiri mulai ditinggalkan oleh masyarakat nelayan di Kecamatan Kusan Hilir.

Alasannya cukup beragam. Dari tingginya biaya operasional, kelemahan tekhnis penangkapan, dan lama masa arung ditengah laut yang dinilai kurang efektif bagi kebiasaan peghidupan nelayan di daerah tersebut. Seperti dituturkan H Riduan (45) warga desa Gusunge Kecamatan Kusan Hilir kepada koran ini kemarin, penggunaan bagang apung dinilai kurang menguntungkan nelayan karena biaya operasionalnya yang cukup tinggi setiap kali digunakan, dari kisara 12 hingga 15 juta rupiah. Sementara bagi hasil tangkapan dengan nelayan lainnya yang tergabung dalam satu bagang apung hanya rata rata berkisar 1 juta rupiah.


Secara tekhnis, dalam operasionalnya ditengah laut, pada saat melakukan penangkapan dengan menggunakan jaring (darri.red) kapal kerap tidak setabil dan cenderung bergoyang keras bahkan hingga terputar mengikuti putaran tuas darri, maupun tiupan angin. Sehingga kerap menyusahkan nelayan. sementara bagang tancap dalam setiap operasionalnya selalu stagnan, tidak bergerak maupun terombang ambing oleh angin.

Keluhan terakhir oleh para pengguna bagang apung, adalah lamanya kegiatan penangkapan ikan di tengah laut yang bisa memakan waktu hingga berminggu minggu, baru bisa pulang kedaratan. Tapi sebaliknya, Jika menggunakan bagang tancap para nelayan cukup berangkat pada sore dan malam harinya saja, kemudian kembali kedaratan setelah keesokan harinya. Atau dengan kata lain cukup satu malam berada di bagang tancap tersebut, selebihnya para nelayan bisa bersantai berkumpul dengan keluarga saat berada di daratan.

“ditempat kami sudah banyak para nelayan yang tidak mau lagi menggunakan bagang apung, lantaran setiap kali melaut selalu saja rugi. Hal ini salah satunya disebabkan faktor tingginnya biaya operasional dan sedikitnya bagi hasil dari setiap nelayan. kemudian stabilisasi kapal juga menjadi keluhan nelayan, dimana setiap memutar jaring ke atas, kapal selalu ikut berputar yang mengakibatkan ikan banyak lepas keluar, menggunakan bagang apung banyak yang tidak tahan akibat besarnya gelombang yang dirasakan. Sementara kalau di bagang tancap kita seperti dirumah, tidak ada gelombang, dan operasional penangkapan ikan juga cukup lancar. meskipun bagang tancap dinilai cukup tradisionil tapi sudah banyak yang berhaji dari usaha ini” ujar Safar (45) warga Pagatan Kecamatan Kusan Hilir Tanbu, belum lama tadi ketika disambangi wartawan.

Menggunakan bagang tancap, adalah satu-satunya pilihan nelayan untuk bisa melestarikan ikan ikan dan biota laut yang dinilai belum cukup umur untuk dikonsumsi atau dijual kepasaran. Alat tangkap khas suku bugis ini telah di akui safar sebagai warisan nenek moyang mereka secara turun temurun, sehingga sulit bisa digantikan dengan alat tangkap ikan yang lebih modern. Sebagian besar para nelayan sudah menggantungkan hidup dari ratusan bagang tancap yang berdiri kokoh ditengah laut Jawa yang terbentang di Tanah Bumbu itu. “rasanya sulit beralih ke alat tangkap yang lain” papar Safar, lagi.

Para Nelayan Pagatan tahun ini sangat bersyukur, karena hingga memasuki bulan November dan telah melewati musim pancaroba, namun belum melihat adanya tanda tanda angin barat yang bakal melanda laut jawa di Tanah Bumbu. Sehingga meskipun mendekati bulan Desember, para nelayan di Kota pendidikan dan pariwisata Pagatan itu masih dengan leluasa menjaring ikan di tengah laut. Hal ini juga terlihat dari beragam hasil tangkapan mereka masih dengan mudah ditemukan di pasar-pasar ikan tradisional di Kusan Hilir, Batulicin maupun Kotabaru.

Bersama nelayan yang lain, dirinya berharap tidak ada lagi musibah robohnya bagang tancap disaat musim barat datang. Dimana hampir setiap tahun puluhan bahkan ratusan bagang tancap yang memagar di laut Pagatan roboh akibat ditiup angin maupun diterjang ombak laut pasang yang biasanya mencapai puluhan meter lebih.


Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | EDHA KENCANA CORP | Batulicin
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved