Home » » Bahan Baku Pembuatan Kapal Vinishi Mulai Langka

Bahan Baku Pembuatan Kapal Vinishi Mulai Langka

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 24 November 2011 | 10.46

BATULICIN- Industri Pengrajin pada pembuatan kapal tradisional yang peruntukannya khusus untuk nelayan, di desa Pagarruyung Kecamatan Kusan hilir Kabupaten Tanah Bumbu, belakangan mulai kesulitan mencari atau mendapatkan bahan baku utama.

Hal ini seperti dikeluhkan H. Mahmuda (45) salah seorang pengrajin kapal kayu yang bekerja di galangan kapal pribadinya, di bibir sungai Kusan Pagatan, kemarin. H. Mahmuda mengaku, bahan baku utama seperti kayu ulin, bungur dan halaban semakin hari semakin sulit didapat, terutama pada ukuran dan spesifikasi khusus sesuai kebutuhan pembuatan kapal. Jikapun ada, harganya cukup mahal, dan bahkan waktu pemesanan untuk mendapatkan kayu tersebut terbilang memakan waktu yang cukup lama, paling cepat satu bulan baru mendapatkan kayu yang dimaksud.

“biasanya yang sulit dicari adalah bahan baku bagian Lunas kapal (bagian bawah.red). selain membutuhkan kayu lurus, panjangnya juga harus memenuhi standart pembuatan kapal. Untuk kayu bagian bawah tersebut tidak boleh disambung, jadi jika kita membutuhkan kayu dengan panjang 18m atau 20m, maka kayu yang digunakan adalah kayu dengan ukuran yang sebenarnya. Termasuk jika kita harus membuat kapal dengan panjang diatas 50 meter, maka kayu yang kita butuhkan adalah kayu dengan panjang yang sebenarnya pula” ujar H.Mahmuda.


Lelaki yang sudah melakoni usahanya lebih dari 30 tahun ini mengungkapkan. Untuk mendapatkan Kayu kayu tersebut, pihaknya harus mengeluarkan kocek yang cukup besar. Untuk kayu dengan ukuran panjang 18meter dirinya harus membeli seharga Rp.20.000.000,. belum lagi termasuk kebutuhan 10 kubik kayu ulin tambahan untuk rangka, dan dinding kapal. Sehingga tak heran jika biaya ataupun harga satu buah kapal tak pelak mencapai hingga Rp.250.000.000,.perbuah. sementara untuk bisa mengoperasionalkan kapal itu sendiri ditengah laut, harus dilengkapi dengan mesin pendorong baling baling, mesin penerangan dan perlengkapan lainnya hingga menghabiskan anggaran yang tidak jauh berbeda dengan harga awal kapal.

“setidaknya untuk mengoperasionalkan satu buah kapal berukuran sedang, minimal harus memiliki modal berkisar Rp.500.000.000,.baru bisa menelayan ketengah laut” papar H. Mahmuda.

Saat ditanyakan lebih lanjut, bagaimana trik mendapatkan kayu seperti itu, Mahmuda pada awalnya mencari keluar masuk hutan sendiri. Namun karena kini sudah berumur, maka dirinya mempercayakan sepenuhnya pada pedagang kayu asal Kepayang, dan Kuranji atau daerah sekitar di Tanah Bumbu. Dari penuturannya, untuk meloloskan Kayu-kayu tersebut dari dalam hutan menuju galangannya, para pengusaha kayu harus memberi tips kepada mereka yang hidup didalam Hutan, seperti orang dayak yang masih menggantungkan hidupnya dari ladang berpindah-pindah. Karena dari informasi merekalah para pemotong kayu bisa mengetahui keberadaan kayu-kayu berukuran raksasa tersebut.

Kemudian setelah menebang, saat dilakukan pengupasan dan pembentukan kayu di bansau, serkal ataupun di dalam hutan sendiri, para pemotong kayu ini sudah menyiapkan “angpau” khusus bagi petugas Polri dan TNI yang biasa menyatroni mereka. Belum lagi saat kayu-kayu itu dimilirkan melalui sungai, mereka kembali menugaskan seseorang untuk mengantarkan “jatah-jatah” pengamanan kepada petugas yang ngepos didaratan, sekaligus menginformasikan kayu-kayu mereka tengah dilabuh. Tak heran jika dana-dana taktis tersebut dimasukkan kedalam biaya operasional mereka, yang juga berakibat pada tingginya harga bahan baku pembuatan kapal kayu tersebut.

Menurut Mahmuda, hal itu lebih baik dilakukan seperti itu, Rahasianya “tahu sama tahu saja”. Petugas bisa makan, merekapun bisa makan. Ketimbang harus bentrok, dengan digelarnya razia setiap saat, justru hal itu menghambat proses pekerjaan mereka untuk menyelesaikan pembuatan kapal. Bahkan jika razia petugas terlalu ketat, seluruh galangan kapalpun gulung tikar karena enggan berurusan dengan penjara. Sebagai imbas sulitnya mendapatkan bahan baku ini, para pengrajin pembuatan kapal tradisional ini kerap baru mampu menyelesaikan satu buah kapal menghabiskan waktu hingga empat atau enam bulan lamanya. Ley
Share this article :

+ komentar + 8 komentar

13 Januari 2012 14.13

Mas Fadly, salam kenal. Saya Ari dr Bali, saya mau menanyakan dimana lokasi pembuatan kapal pinisi di Batulicin, Kalimantan. Apakah ada Nama dan no telp dr pembuatnya? Terima kasih sebelumnya.

5 Februari 2013 10.37

Semoga Pemerintah bisa cepat membarikan Bantuan buat para Pelayaran Rakyat terutama kapal Phinisi yang semula berbahan baku kayu menjadi Besi, agar Ciri Khas Indonesia tetap lestari

21 Mei 2016 23.45

Mhn sy pak amin sy bisa membuatkan kapal phinisi dr bahan dasar kayu ulin

21 Mei 2016 23.46

Mhn maaf ini no hp sy 081330365445

21 Mei 2016 23.48

Mhn sy pak amin sy bisa membuatkan kapal phinisi dr bahan dasar kayu ulin

21 Mei 2016 23.48

Mhn sy pak amin sy bisa membuatkan kapal phinisi dr bahan dasar kayu ulin

17 Agustus 2016 17.22

alhamdullilah,,,kotabaru dan batulicin terus berbenah dan berkembang....teriring doa untuk segenap unsur yg terlibat dalam pembangunan kota tsb sehat dan sukses selalu.

salam
Ahmad Yani
www.borneosolarcell.blogspot.com
>>>pusat listrik tenaga matahari terbesar di kalsel-teng<<<
mobile.0811-5121-599

6 Oktober 2017 21.37

Kalau mau bikin phinisi 26*38 bro Banyak kayu kebutuhanya ya?

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved