Home » » 12.000 Kelambu Anti Malaria Dibagikan

12.000 Kelambu Anti Malaria Dibagikan

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 01 Desember 2011 | 14.04

Batulicin- Di Kabupaten Tanah Bumbu pada tahun 2004 tercatat penderita malaria klinis berjumlah 1448 kasus, tahun 2005 malaria klinis berjumlah 1251 dengan jumlah kematian sebanyak 3 orang. Pada Tahun 2006 kasus malaria kilinis menurun menjadi 1021 kasus. Tahun 2007 sebanyak 995 kasus dengan kematian 3 orang, Tahun 2008 turun sebanyak 858 kasus klinis dengan 2 kematian, Tahun 2009 menunjukan terjadinya peningkatan sebanyak 1804 kasus dengan 9 kematian akibat malaria. Selain itu tercatat KLB di desa Emil Baru, dengan jumlah kasus positif malaria sebanyak 104 kasus dengan kematian 6 orang.



Penularan Malaria terjadi di daerah daerah tambang batu bara, tambang emas, daerah perkebunan dan juga pertanian yang tersebar di beberapa Kecamatan di Kabupaten Tanah Bumbu sendiri dan dari luar Kabupaten. Mobilitas penduduk yang tinggi memungkinkan penyakit malaria dapat terjadi tidak hanya daerah penularan tetapi juga di daerah perkotaan. Analisa malaria sampai Bulan oktober 2011 Total Temuan Penderita malaria Berjumlah 2.300 kasus, dengan API 9,16 per seribu Penduduk. Sementara Target Nasional pada Inpres No 3 Tahun 2010 API 1,75 per seribu penduduk pada Tahun 2011.

Untuk mencegah penularan lebih luas serta menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit Malaria ini pihak Dinas Kesehatan kabupaten Tanah Bumbu bekerjasama dengan Dinas kesehatan Provensi serta PT.Arutmin kemarin di desa Suka Damai Kecamatan Mentewe Kabupaten Tanah Bumbu memeberikan Sosialisasi, Penyuluhan tata cara penggunaan dan perawatan serta Pendistribusikan Kelambu berinsektisida, dengan tujuan terlindunginya masyarakat dari gigitan nyamuk malaria, menurunkan angka kepadatan vector, serta menurunkan resiko penularan.



selain Desa Suka Damai sejumlah desa lainnya di kecamatan Kusan Hulu juga mendapatkan program yang sama. Adapun sasaran dari pelaksanaan distribusi Kelambu adalah Masyarakat yang tinggal di daerah Endemis tertinggi Malaria diantaranya di Kecamatan Kusan Hulu pada desa Desa Guntung, darasan Binjai, Tapus, Teluk Kepayang, Mangkalapi, Tamunih, dan Desa Batu Bulan. Serta untuk Kecamatan Mentewe pada desa Mentewe, Gunung Raya, Suka Damai, Bulu rejo, Sepakat, Sari Mulya, Dukuh Rejo, Rejo Sari, Emil Baru serta Mantawakan dengan total 5.932 KK serta memerlukan sekitar 11. 864 kelambu.

“Prevalensi Penyakit malaria di kabupaten Tanah Bumbu selama 5 Tahun terakhir cendeerung menurun pada Tahun 2004 sebesar 7,40 per seribu penduduk, sampai Tahun 2008 sebesar 3,73 per seribu penduduk, akan tetapi di Tahun 2009 menunjukan peningkatan sebesar 7,84 perseribu penduduk. “ ucap Kepala Dinas kesehatan Tanah Bumbu dr. H.M Thamrin, DTMH, M. H. A melalui Kepala Bidang Pemberantasan, Pencegahan Penyakit (P2p) H. Rahman disela kegiatan memaparkan.

Selama tahun 2010, secara Epidemiologi penyebaran malaria di kabupaten Tanah Bumbu meliputi 10 kecamatan dan 99 desa. Secara Stratifikasi ada 27 Desa High Indence Area, 20 Desa Medium Indence Area, dan 52 desa Low Indence Area. Annual Parasite Indence (API) tertinggi berada di Desa Madu Retno ( API 57,69 per 1000 Penduduk). Sementara API terendah berada di Desa Angsana (API 0,5 per 1000 penduduk) dengan jumlah Kematian sebanyak 9 Orang.

“Distribusi Penderita berdasarkan Kelompok umur yang paling banyak terinfeksi penyakit malaria pada golongan 15-45 Tahun sebanyak 901 kasus. Ditemukan kasus malaria positif pada bayi di Kecamatan Karang Bintang dan Ibu Hamil di Kecamatan Karang Bintang, Simpang Empat, dan Mentewe” papar H. rahman.

Berdasarkan jenis kelamin, lebih banyak para penderita laki-laki (88,63 persen) terserang jika dibandingkan perempuan (11,37 persen) Rata rata penderita malaria bekerja sebagai penambang batubara, dan penambang emas di daerah Pegunungan. Selain itu kasus Malaria yang ditemukan juga bekerja sebagai petani dan pekerja perkebunan.



Sementara Wakil Bupati Tanah Bumbu Drs. H. Difriadi Darjat mengatakan, penyakit malaria bukanlah merupakan penyakit baru, akan tetapi sudah ada sejak zaman dahulu kala. hanya saja saat itu pemahaman masyarakat lokal belum memahami sepenuhnya penyakit tersebut. jika melihat tingkat sebaran dan juga trend jumlah penderita tiap tahunnya, menurut Difriadi perlu adanya peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi lingkunga. karena dengan kondisi lingkungan yang buruklah, penyakit yang disebabkan oleh Nyamuk ini dengan sangat mudah terjangkit dan menular k daerah searan lainnya.


"melihat dari data dan analisa Dinkes, bahwa penderita tertinggi dialami oleh mereka yang bekerja di dalam hutan, di lokasi tambang batubara dan emas, perkebunan dan pertanian. ini semuanya akibat dari kondisi lingkungan yang kurang sehat. sehingga perlu perhatian serius dari penyuluh kesehatan dan kader di desa desa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat lebih luas, tentang bagaimana penyakit ini bisa menular, pencegahannya, serta pengobatannya. sehingga masyarakt Tanah Bumbu terebebas dari penyakit yang mematikan itu" terang Difriadi.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved