Home » » Warga Sebamban Baru, Kecewa Ulah PT. TIA

Warga Sebamban Baru, Kecewa Ulah PT. TIA

Written By Fokus Batulicin on Sabtu, 28 Januari 2012 | 10.14

BATULICIN - Pihak PT.TIA dinilai hanya mempermainkan warga, terkait masalah tuntutan ganti rugi lahan warga Desa Sebamban Baru Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu). Pasalnya, sampai dengan pembicaraan akhir antara kedua belah pihak antara PT. TIA dengan pihak PERMADA selaku perwakilan masyarakat Sebamban Baru, yang dilakukan di Gedung Kepala Desa Sebamban Baru Kecamatan Sungai Loban, tidak membuahkan hasil. akibatnya masyarakatpun kecewa.

Setelah sebelumnya PT.TIA menyatakan akan membayar ganti rugi lahan kepada warga, ternyata saat terjadi perundingan terakhir, antara pihak PT.TIA dan warga tidak menemui kesepakatan dalam hal angka kompensasi. Hal tersebut lantaran pihak perusahaan hanya mampu membayar sangat murah ganti rugi lahan yang diminta warga.

Dalam negoisasi yang berlangsung di aula Kantor Desa Sebamban Baru, pihak Persatuan Masyarakat Adat Dayak (Permada) yang memediasi warga Sebamban Baru tidak terima karena pada beberapa opsi yang diajukan, pihak PT.TIA bersikeras tidak mau menaikkan harga ganti rugi lahan. sejumlah opsi yang sempat mencuat diantaranya ganti rugi per meter, perhektar, hingga sharing fee lahan untuk warga selaku pemilik lahan. Namun  Pihak PT.TIA hanya mau membayar lahan warga tersebut sebesar Rp.500 ribu per hektar, dan Rp.1 juta untuk satu segel tanah yang memiliki kandungan batubara itu. dan hal tersebut, dianggap sangat melecehkan.

"ini kayapa, nangkaya penderan kanakan,"ujar salah seorang pemilik lahan.

Dua opsi tersebut, tentu saja tidak terima dan merasa dilecehkan oleh pihak PT.TIA. Padahal, jika satu hektar tanah berisi batubara nilainya bisa mencapai Rp.200 juta.

Kuasa Hukum Permada Muhammad Soleh, Jum'at (27/1) menuturkan, bahwa warga jelas tidak terima dengan kompensasi dari PT.TIA itu.

Menurutnya,  pihak perusahaan sudah melecehkan dan mempermainkan warga, karena hanya mau membayar  dengan harga sangat murah. Selain itu, warga juga sangat berang saat mendengar bahwa ganti rugi lahannya hanya dibayar murah.

"Jelas warga tidak terima, tidak mungkin kami menerima harga seperti itu,"ujar Muhammad Soleh.

Padahal, ujar dia, sebelumnya pihak PT.TIA sudah menyanggupi bahwa akan membayar ganti rugi lahan tersebut. Namun, ternyata pernyataan pihak PT.TIA tidak bisa menjadi pegangan karena dinilai hanya mempermainkan warga.

"Kemarin mereka sudah menyanggupi akan membayar, ternyata angka yang akan dibayar tidak sesuai harapan warga. Tidak mungkin satu hektar tanah cuma dihargai Rp.500 ribu, ini jelas pelcehan kepada warga,"terangnya.

Opsi terakhir yang diberikan kepada pihak perusahaan, lanjut dia,  yaitu sharing fee Rp.15 ribu per ton batubara yang dihasilkan PT.TIA. Namun, opsi terakhir tersebut juga tidak disetujui oleh PT.TIA.

Disamping itu, hitungan per ton tersebut juga berlaku pada batubara yang dihasilkan PT.TIA sejak pihak perusahaan mulai beroperasi mengerjakan tanah warga tersebut.

Legal PT.TIA Simon mengatakan, bahwa pihaknya akan tetap melakukan negoisasi ulang, namun pihak PT.TIA sulit memenuhi tuntutan warga tersebut.

"Kami akan lakukan negoisasi lagi, namun tidak bisa sesuai seperti yang diminta warga,"tukasnya.

sementara itu, hingga Jumat (27/1) malam kemarin, belum menemukan kesepakatan, hingga akhirnya pada hari Sabtu (28/1) ini, dilakukan pembahasan lanjutan ke meja DPRD Tanah Bumbu, dengan dihadiri oleh seluruh pihak terkait, baik dari PT TIA, Permada, Perwakilan Masyarakat, Pemilik Lahan, dan unsur Muspida serta Bupati Tanah Bumbu.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved