Home » » Mappanretasi Dahulu Dengan Istilah Massorong

Mappanretasi Dahulu Dengan Istilah Massorong

Written By Fokus Batulicin on Senin, 30 April 2012 | 17.00

Momen Mappanretasi yang dinilai sacral oleh masyarakat suku bugis nelayan Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu harus mampu menjadi sesuatu yang patut dibanggakan bagi masyarakat Tanah Bumbu, bukan saja dilihat dari segi pariwisata dan kebudayaannya semata namun juga dari sisi ekonomi dan kesejahteraan.

"Terutama bagi masyarakat yang setiap hari berprofesi sebagai nelayan hendaknya mejadikan momen ini sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan atas segala limpahan sumberdaya alam kita yang sampai kini masih kita nikmati sebagai sumber penghasilan kita, sebagai sumber penghidupan kita dan juga sebagai salah satu sumber peningkatan kesejahteraan kita" ujar Andi Satria Jaya Keturunan Raja Pagatan Yang juga Kepala Desa Mattone Kampung Baru Pagatan, saat membeberkan sekelumit asal muasal adanya Mappanretasi di kota kelahirannya itu, ketika Fokus Batulicin menyambangi kediamannya belum lama tadi.

Mappanretasi atau memberi makan laut dalam bahasa Bugis ini sebelumnya dikenal dengan istilah Massorong. Di abad modern sekarang kerap disebut Pesta Nelayan Masyarakat Pagatan. Prosesi ini adalah merupakan bagian dari prosesi Kerajaan Pagatan dan Kusan yang sangat disakralkan khususnya bagi Nelayan Bugis Pagatan. Kini kegiatan ini terus melekat sebagi wujud kekuatan khazanah budaya di Bumi Bersujud.

Meskipun Kerajaan Pagatan dan Kusan telah berakhir sejak tahun 1918, Mappanretasi masih tetap lestari dilaksanakan oleh para nelayan setempat. Hingga pada decade 1950-1960 yang lalu, Mappanretasi dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Karena ritual ini sempat mencuat kepermukaan dengan beragam kontropersi, antara syirik dimata Ajaran Agama Islam dan Warisan leluhur suku Bugis Pagatan.

Sejak ditetapkannya setiap Tanggal 6 April ditetapkan sebagai Hari Nelayan secara Nasional, hal ini dijadikan wadah tradisi silaturrahmi semua elemen Masyarakat Pagatan. Hingga setelah Kongres nelayan tahun 1960 di Solo, ditetapkannya 6 April sebagai Hari Nelayan secara Nasional itu, maka Mappanretasi kembali dilaksanakan secara terbuka dengan kemasan baru berbalut kebudayaan. Bahkan, menurut penanggalan dan hasil penerawangan Sandro Mappanretasi, Sawerigading atau Penguasa laut meminta Sesaji dipersiapkan antara Tanggal 1 sampai dengan 6 April.

Dengan perubahan pada bagian ritual ritual dan sesajennya, seperti setelah Sandro (Dukun) melakukan berbagai ritual Mellarung atau memilirkan sesajen berupa kepal kerbau, ayam, nasi tumpeng, dan beberapa gram emas kelaut, untuk dipersembahkan kepada Sawerigading (Penguasa Laut) diwilayah timur Nusantara. Kini hanya pemotongan se ekor ayam ke tengah laut, kemudian di lepaskan bersama sesajen lainnya, nasi tumpeng dan hasil bumi lainnya. jika sebelumnya kepala kerbau ataupun binatan kurban lainnya dilarutkan ketengah laut dan di biarkan begitu saja, kini justru dinikmati bersama-sama sebagai hidangan pada acara syukuran massal, sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas berkah dan nikmat yang diberikan kepada mereka. Dengan harapan agar mereka selalu diberikan keselamatan dan rizki yang melimpah ketika mencari ikan ditengah ganasnya gelombang.

Sejak tahun itu, seluruh masyarakat bugis pagatan sepakat untuk melestarikan budaya mereka tersebut di setiap bulan April setahun sekali, sekaligus sebagai agenda wisata nasional yang terus di lestarikan hingga sekarang ini.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved