Home » » BP DAS Kemenhut Kaji DAS Batulicin

BP DAS Kemenhut Kaji DAS Batulicin

Written By Fokus Batulicin on Jumat, 27 Juli 2012 | 15.37


Sungai masih merupakan sumber penghidupan masyarakat dan juga sejumlah perusahaan perkebunan, pertambangan dan industri di Kabupaten Tanah Bumbu. Sehingga perencanaan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdapat di Kabupaten Kaya Sumber Daya Alam ini perlu dilakukan dengan arif dan tepat, sehingga terus dapat dimanfaatkan hingga jangka waktu panjang. Daerah Aliran Sungai yang terdapat di Tanah Bumbu terbagi tiga, yakni DAS Batulicin, DAS Kusan, dan DAS Satui yang kini tergolong sebagai DAS Terpadu Kalimantan Selatan selain DAS Barito.


Namun demikian, sangat disayangkan pengawasan sejumlah aktifitas manusia di sekitar kawasan DAS yang terdapat di Tanbu belum sepenuhnya dilakukan oleh aparat terkait. Sehingga kondisi DAS tersebut dinilai perlu segera dilakukan pembenahan agar dapat berfungsi dengan baik, dan dimanfaatkan dengan tepat, tanpa memberi dampak buruk bagi penghidupan manusia itu sendiri. Mengingat akhir akhir ini, DAS kerap dituding pengirim bencana banjir ke kawasan permukiman penduduk. Karena tak mampu menampung debit air yang turun dimusim penghujan.

" Untuk Tanah Bumbu, DAS Batulicin  menjadi sumber kehidupan masyarakat sebagai air bersih  dan kepentingan industri seperti pemegang izin PKS, serta industri baja, yang kedepannya juga bakal bekerjasama  dengan PDAM untuk pengadaan Air Bersih. Tercatat, kedepan dari perusahaan baja itu sedikitnya bakal membutuhkan air lebih dari  200 liter/detik. Itu baru satu perusahaan, bagaimana jika sudah ada 2 atau 3 perusahaan yang juga bergerak pada bidang sama dan membutuhkan air rata rata diatas 150 liter/detik, bisa dihitung. Apakah DAS kita mampu memenuhi kebutuhan tersebut, disamping memberikan penghidupan kepada masyarakat Bumi Bersujud" ucap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Tanbu, Drs. Mahyuni, saat menghadiri rapat Perencanaan Pengelolaan DAS Batulicin sekaligus pembentukan Forum DAS Daerah Tanah Bumbu (26/7) kemarin di aula Mahligai Bersujud Kaped.

Dikatakan mahyuni lebih lanjut, kedepan perlu dilakukan pengkajian mendalam dari hulu ke hilir DAS, terutama dengan keberadaan perkebunan kelapa sawit dan juga pertambangan. Terutama terhadap air lariannya yang kerap setiap musim penghujan menyumbang air yang besar ke sungai batulicin, saungai kusan maupun Satui, sehingga mengakibatkan banjir. Dengan asumsinya, daerah resapan air di Bumi Bersujud sudah tidak berfungsi dengan baik, sehingga air larian tersebut terlalu cepat masuk ke sungai, sehingga diperlukan kembali penyegaran daerah resapan, sehingga mampu menghambat laju air kesungai. "Itu merupakan masalah yang cukup serius dan perlu ditangani dengan baik" ujar Mahyuni.

Sementara Ketua Forum DAS Provensi Kalimantan Selatan Ir. Kartasirang MS, mengatakan dengan pembentukan Forum DAS di daerah, pemerintah bisa bekerjasama untuk mencari solusi dan melakukan kajian serta mencoba melakukan pengumpulan data dan informasi, kemudian membuat  perencanaan pengelolaan DAS kedepan dengan lebih baik serta melakukan pengawasan DAS dengan lebih cermat, tentunya didukung oleh kebijakan pemerintah dan aparat petugas keamanan.

"Saat ini luas kawasan DAS Batulicin mencapai 160.000 hektar, dari sana semua makhluk dibumi mempertahankan kehidupannya baik sekedar untuk mandi, mencuci, kakus,  hingga dijadikan air bersih. Belum lagi adanya keterlibatan aktifitas penambangan pasir sungai, tambang batubara/ biji besi, serta pemenuhan kebutuhan industri. Untuk itu kita perlu kembali melakukan penataan DAS melalui perencanaan pengelolaan yang tepat. Sehingga perlu melakukan kajian terhadap berbagai isu, baik sosial ekonomi, maupun lingkungan biofisik yang terjadi baik dari sekitar kawasan maupun pada  DAS itu sendiri" ujar Kartasirang, saat berada di Batulicin.
>
> Sejumlah isyu yang mengemuka menjadi kajian forum saat itu diantaranya, pembangunan sepadan sungai, pertambangan, limbah industri rumah tangga, lahan keritis, RTRW belum sepenuhnya diimplementasikan, pendangkalan sungai, data base DAS batulicin yang terbatas, serta penurunan kualitas resapan tanah dan kualitas air, serta beragam isu sosial ekonomi yang terjadi pada daerah aliran sungai.
>
> Rudi Haryanto, Dir LSM Lintah Indonesia yang hadir dalam kesempatan itu, mengungkapkan permasalahan lain yang juga perlu diperhatikan saat ini adalah aksi penebangan pohon oleh perusahaan perkebunan secara besar besaran di bawah kaki gunung meratus melalui penguasaan  HGU penanaman karet. Namun sangat disayangkan pembabatan hutan tersebut merembet hingga masuk kewilayah hutan hak ulayat adat dayak yang selama ini bersetatus sebagai hutan lindung. Dengan alasan telah mengantongi ijin pinjam pakai seluas 28000 hektar." Ini juga menjadikan keperihatinan yang cukup dalam, kenapa tidak ada langkah pencegahan oleh aparat keamanan, maupun pemerintah provensi melalui dinas kehutanan, yang sangat disayangkan orang dinas kehutanan sendiri ikut nge pos di sana, ada apa ini? Padahal kita tahu semua bahwa kegiatan pembabatan seperti ini sangat berdampak buruk bagi DAS dan juga bakal berakhir pada kerugian manusia itu sendiri.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved