Home » » Terganggu Main Game, Petugas Puskesmas, Ketus Hardik Pasien

Terganggu Main Game, Petugas Puskesmas, Ketus Hardik Pasien

Written By Fokus Batulicin on Jumat, 31 Mei 2013 | 07.20

Lagi, Pelayanan publik di Bidang Kesehatan di Tanah Bumbu kembali tercoreng, lantaran sikap sang ptugas yang dinilai Ketus, dan kurang menghargai pasien yang datang berobat. Sikap Ketus dan menyalahi tugas dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat, telah memberikan gambaran, betapa "keren"nya pekerjaan tersebut, sehingga pandangannya terhadap pasien sebagai orang yang "membutuhkan" jasa mereka, membuat mereka terkesan gelap mata akan profesinya.
Keluhan tentang buruknya pelayanan Kesehatan itu, bermula dari pengakuan seorang pasien yang membawa buah hatinya ke Puskesmas Simpang Empat Batulicin untuk menjalani perawatan pada poli gigi, Selasa (29/5) kemarin. Setelah menyelesaikan administrasi, sebut saja Chandra (36) langsung membawa Ozan (6) sang anak untuk mencabut giginya yang selama ini mengganggunya lantaran sakit.
Namun, setibanya diruang Poli Gigi Puskesmas tersebut, dilihatnya sang perawat sibuk mengutak atik permainan Game I Pod nya, dan tidak menggubris kedatangannya untuk berobat. Beruntungnya, petugas perwat lainnya, menangani dengan meminta Ozan duduk di bangku mini lab untuk di cabut giginya. Lantaran takut, karena satu giginya telah dicabut terlebih dahulu pada satu pekan sebelumnya, akhirnya Ozanpun menangis.
Merasa terganggu, sang petugas Poli Gigi yang masih asik Main Game itu pun menghardik Ozan yang masih merengek di depan ibunya, dengan muka masam dan nada sedikit tinggi. "Berisiknya"!! Ujar petugas wanita yang (maaf.red) berbadan Bongsor yang bertugas pada jam 10.00 pada hari itu (29/5).
"Masa, pelayan kesehatan seperti itu terhadap pasien, kalau mau tenang main game,,jangan kerja di puseksmas,," ujar Chandra memaparkan pengalaman buruknya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di tempat itu.
Setelah mendengar hardikan, Chandra tetap saja membujuk buah hatinya untuk berhenti merengek dan siap untuk dilakukan pencabutan gigi. Sementara, sang ayah, yang turut mendampinya ditempat itu, merasa tak nyaman dengan suara sang perawat yang menghardiknya diruangan itu, dan memilih keluar ruangan.
"Bayangkan, kalau pasien yang dilihat sedikit tidak mampu, jauh datang dari desa, berbaju kusut dan datang tanpa alas kaki, kira kira bagaimana sikap sang perawat, apa musti tutup hidung, dan menumpal telinganya dengan kapas. Pelayan kesehatan itu harus siap dengan suara tangisan, jeritan atau kondisi buruk pasien. Bukan sebaliknya, hanya duduk manis sambil main game, meskipun dia hanya bertugas di ruang poli gigi" keluh Candra, warga Pelajau ini.
Sepekan sebelumnya, Candra juga sempat membawa Ozan untuk cabut gigi, saat itu, perawat yang menanganinya adalah petugas (sekali lagi maaf.red) berbadan bongsor penghardik itu. Dalam menjelaskan proses perawatan pasien juga menggunakan bahasa yang bernada tinggi, dan sedikit merendahkan pasien.
" Emangnya kita tuli apa, atau dianggap setiap pasien yang datang itu bodoh jadi harus dijelaskan dengan nada keras" ujar Candra, kesal. (Ley)

Powered by Telkomsel BlackBerry®







Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved