Home » » Geliat Pasar Subuh, Geliat Ekonomi Tukang Sayur Keliling

Geliat Pasar Subuh, Geliat Ekonomi Tukang Sayur Keliling

Written By Fokus Batulicin on Minggu, 09 Juni 2013 | 09.30

Pagi buta, seiring menyurutnya kumandang azan subuh, gelap jalan membakar semangat puluhan "Paman" pedagang sayur keliling menuju pasar subuh, di sisi jalan KM1 Desa Batubesar Kec. Simpang empat.
Setibanya disana, tangan terampil mereka cekatan memburu segala macam jenis sayur mayur dan ikan segar ditempat itu. Bumbu dapur , ikan teri, kue basah bahkan sampai terasi mereka beli untuk memenuhi tumpukan keranjang mereka. Maklum, sayur dan kelengkapan dapur itu harus cepat mereka jajakan kembali ke rumah rumah pelanggannya. Meski demikian, tak beranjak begitu saja selepas mereka mendapatkan sayur mayur, bersantai sejenak sambil menenggak kopi hangat diwarung pasar subuh, seperti sudah menjadi kewajiban. Sesama pedagang sayur keliling mereka bercengkrama sambil merencanakan jalur dagangan yang sudah biasa mereka lalui.
Anang, sebut saja demikian, mengungkapkan, pilihannya menuju pasar subuh KM 1 itu, adalah selain mudah dijangkau karena dekat dengan pusat kota, di pasar subuh ini semua kebutuhan pokok segar dengan mudah ia dapatkan. Lantaran komplit, pasar ini terbilang buka cukup pagi, sehingga berjualan keliling kampung untuk dijajakan kembali bisa mereka lakukan lebih cepat lagi. Begitu juga memberikan keuntungan sendiri bagi ibu rumah tangga yang membeli lewat jasa mereka. Sayur dan ikan yang mereka tawarkan tentunya masih segar.
"Dari tempat ini, kita bisa lebih cepat menjualnya lagi" ujar Nanang.
Terlepas dari kesibukan para pedagang sayur keliling ini, tak sedikit pula ibu rumah tangga yang berbelanja di tempat ini. Sebut saja Chandra, warga Komplek Sampoerna Pelajau ini lebih memeilih berbelanja di pasar subuh, dengan alasan bisa lebih dini menghidangkan sarapan pagi bagi keluarganya, dengan bahan poko segar, dan mudah untuk mendapatkannya.
" Kalau belanja di pasar subuh, kita bisa membuatkan hidangan sarapan pagi dirumah lebih cepat, ketimbang harus sarapan di luar rumah. Sayur disini segar segar, dan harganya cukup miring, lebih murah lah" ujar Chandra.
Menikmati geliat perekonomian di tempat ini, sepintas tak jauh berbeda seperti pasar pasar tradisional lainnya yang ada di Tanah Bumbu atau daerah lain kebanyakan. Namun, pasar subuh ini sesuai dengan namanya, hanya buka di saat dini hari usai shalat subuh, dan bakal berakhir saat matahari mulai memancarkan sinarnya. Siapa kira, jika omset dan perputaran uang di pasar ini mencapai puluhan juta rupiah setiap hari. Sayangnya, pasar ini tidak terlalu besar, dan hanya numpang di depan ruko ruka yang ada di sisi jalan. Tanpa plang nama maupun blok, ataupun lapak permanen. Pedagang ditempat ini membangun lapak secara pribadi. Bisa saja dari kayu, akan tetapi boleh juga dengan hanya menggelar lapak dari karung,, yang penting sayur yang dipasarkan tidak kotor lantaran terkena tanah. Sepertinya, alasan itu yang memberi nama tempat transaksi pinggiran seperti ini disebut sebagai "pasar Tradisional".

Powered by Telkomsel BlackBerry®




Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved