Home » » Kekurangan Sekolah, atau Sistem Yang Salah, Siswa TK Kesulitan Melanjutkan Ke Sekolah SD

Kekurangan Sekolah, atau Sistem Yang Salah, Siswa TK Kesulitan Melanjutkan Ke Sekolah SD

Written By Fokus Batulicin on Jumat, 28 Juni 2013 | 15.30

Dilema, sekaligus menjadi ke prihatinan dunia pendidikan di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Sejumlah orang tua murid yang telah menyekolahkan anaknya di Taman Kanak Kanak justru harus memutar otak lantaran kebingungan mengikuti aturan sejumlah sekolah yang menerapkan sistem seleksi saat akan memasuki bangku pendidikan di tingkat Sekolah Dasar. Setiap siswa yang akan masuk ke SD harus melewati fase seleksi melalui test membaca, menulis dan berhitung, bahkan fasih berbahasa Inggris. Sementara di sekolah TK, diketahui pada dasarnya hanya memperkenalkan bunyi bentuk, dan sebutan saja. Tidak secara spesifik mendidik anak untuk harus bisa menghitung, bisa menulis, dan bisa membaca. Karena Anak TK, menerima pelajaran dengan prinsif memperkenalkan saja, alias Bermain sambil belajar.

"Tidak ada yang mewajibkan anak TK yang bisa membaca dan menulis apa lagi berhitung. Jika harus test masuk SD dengan cara cara seperti itu, kenapa di TK tidak diajarkan saja menghitung dan menulis atau membaca. Jika lantaran tidak bisa seperti itu, terganjal masuk SD. Ada lagi yang rancu, siswa TK diluluskan minimal berusia 6 tahun. Sementara, ada sekolah yang mewajibkan persyaratan mutlak, siswa TK harus sudah lebih berusia 6,5 tahun masuk SD, ini bagaimana? Kasian anak anak kami yang sudah berusia 6 tahun lulus TK tapi tidak bisa diterima di SD lantaran dinilai belum cukup umur", ujar Hasan, warga Pelajau, salah seorang orang tua yang mengaku kerepotan memasukan anaknya sekolah ke SD, lantaran lulus TK berusia 6 tahun saja.

Belum lagi, permaslahan lain ketika siswa TK akan melanjutkan sekolah SD ke daerah lain, juga kerap menuai penolakan dari SD yang agak jauh dari tempat tinggal siswa TK, hal ini dikarenakan adanya kebijakan Dinas Pendidikan yang memberlakukan sistem rayon atau region, dengan catatan siswa TK harus diupayakan bersekolah SD disekitar tempat tinggalnya lebih dulu, jika sudah penuh baru dipersilahkan mencari sekolah SD yang lebih jauh. Sementara saat sekolah SD disekitar lingkungan penuh, Siswa TK harus bersekolah ditempat lain, namun apa nanya kerap menuai cibiran dari pihak Sekolah SD, bahkan penolakan halus dengan menggunakan sistem seleksi baca tulis dan menghitung. Padahal cara seperti itu tidak dibenarkan oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan setempat.

Pemberlakuan aturan seleksi melalui pembatasan usia minimal ini, sebut saja yang diberlakukan SDN Kampung Baru 8 di bilangan jalan Sampurna Pelajau ini. Menurut Nyati SPd selaku Kepala Sekolah SD setempat, pemberlakuan usia minimal 6,5 tahun ini diberlakukan lantaran keterbatasan ruang kelas belajar. Hanya ada satu ruang kelas untuk SD kelas 1, dengan jumlah maks 40 siswa. Melihat kondisi saat ini banyak orang tua yang akan memasukkan anaknya sekolah SD, setelah lulus dari TK.

"Jadi kami hanya menerima siswa TK yang sudah berusia di atas 6,5 tahun" Ujar Nyati belum lama tadi saat menghadiri pelepasan anak TK satu atapnya sebanyak 94 orang. Dimana dari aturan yang diberlakukan sekolah itu, terang saja akibat keterbatasan ruang kelas belajar dan aturan seleksi usia itu, tidak semua sekolah TK satu atap yang bisa bersekolah di SD satu atapnya.

"Permasalahan lainnya ketika kita akan memasukkan anak ke sekolah SD lain, sebut saja misalnya ke SD Kupang depan Kapet, kita juga disuarai oleh sejumlah gurunya, kenapa enggak disekolahkan di SD satu atap saja, itu kan tanggung jawab SD Kampung Baru 8, yang merupakan Satu Atapnya TK, seakan kita tidak dihiraukan kalau mau mendaftarkan anak ke SD lain" ujar salah seorang orang tua murid yang menyampaikan keluhannya ke Fokus Batulicin, belum lama tadi.

Berbeda lagi dengan Cecen, salah seorang orang tua yang juga memiliki buah hati lulusan TK namun berusia 6 Tahun, terlihat ragu ragu memasukkan anaknya saat ingin bersekolah di SDN Nusa Indah Simpang Empat, lantaran dirinya mendengar dari sejumlah guru di tempat itu, bahwa setiap anak baru, harus melewati test penerimaan. Sementara buah hatinya selama sekolah TK, belum fasih membaca, dan menulis apa lagi menghitung.

"Ini juga menjadikan kebingungan tersendiri bagi kami orang tua murid. Ini kenapa sistem penerimaan kita yang terlampau buruk, atau kita saat ini memang kekurangan fasilitas pendidikan, sehingga setiap sekolah memberlakukan aturan aturan ilegal, untuk membatasi jumlah siswa yang ingin bersekolah ke jenjang Sekolah Dasar" ujar Cecen, warga Simpang Empat.

Saat dikonfirmasi terkait peliknya persoalan penerimaan siswa baru di jenjang Sekolah Dasar ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) Tanah Bumbu, Drs M Ijrai menernangkan. Bahwa terkait adanya pihak sekolah SD yang menerima siswa didik baru dengan menggunakan sistem Test Membaca Menulis dan Berhitung itu sungguh sangat tidak dibenarkan. Termasuk bagi sejumlah Sekolah Dasar yang membuat aturan, hanya menerima mereka yang berusia diatas 6,5 tahun juga dinilai pihak sekolah telah melanggar Hak Azasi Manusia yang telah ingin mendapatkan pendidikan wajar.

"Artinya prilaku prilaku seperti itu tidak diperbolehkan sama sekali, jika benar ada sekolah yang ada memberlakukan peraturan seperti itu, maka kita akan segera memperivikasi sekolah itu, seharusnya selama anak tersebut telah dinyatakan lulus sekolah TK, maka ia wajib melanjutkan ke sekolah SD, dan harus diterima saat mendaftar. Kalau sudah penuh, boleh di tolak dan dianjurkan bersekolah yang lainnya meski diluar lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, kalau dia berusia belum cukup 6 tahun, tapi sudah lulus TK pun itu wajib diterima di SD, hanya saja perlu dimintakan rekomendasi dari Dinas Pendidikan. Terhadap sekolah lain yang di datangi pemohon, sekolah SD itu wajib menerima, selagi peluang bersekolah ditempatnya masih ada, tidak boleh tidak tidak dihiraukan atau bahkan tidak diterima, hanya karena alasannya ditempat tinggal siswa TK itu ada sekolah SD juga, ini mungkin ditempat tinggalnya SD nya sudah penuh" ujar Ijrai, saat di hubungi Fokus Batulicin, kemarin (28/6) melalui pesawat telpon genggamnya.

Menurut Ijrai, permasalahan ini akan segera ia evaluasi kembali, dan akan memanggil pihak sekolah yang benar terbukti melakukan pelanggaran saat penerimaan siswa baru di level Sekolah Dasar ini. Terkait kekurangan fasilitas pendidikan ini, Ijrai juga tidak menampik. Untuk Sekolah SDN Kampung Baru 8 sendiri sebenarnya sudah cukup lama akan dibangunkan ruang kelas baru, namun jika ini dilakukan dikhawatirkan akan mempengaruhi jumlah siswa yang bakal berkurang di sekolah sekolah SD lainnya, diakibatkan kemungkinan besar orang tua murid banyak yang akan memilih memasukkan anak mereka bersekolah di tempat tersebut.

"Takutnya seperti itu" kilah Ijrai. (Ley)












Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved