Home » » Puluhan Hektar padi rancah Terendam

Puluhan Hektar padi rancah Terendam

Written By Fokus Batulicin on Minggu, 16 Juni 2013 | 14.17

Hujan yang mengguyur desa Ringkit, Anglay Kecamatan Kusan hulu, Kabupaten Tanah Bumbu setiap hari belakangan ini, mengakibatkan puluhan hektar tanaman padi yang ada di desa tersebut, terendam. Padahal tanaman padi tersebut sudah berbuah dan siap panen. Terang saja, bulir padi menguning menggantung di tiap batang padi itu berakar menjadi kecambah dan tidak bisa diproduksi jadi beras untuk dikonsumsi.

Padil, salah seorang petani, mengungkapkan. Tinggi air nyaris sedada orang dewasa itu, juga sempat merendam padi padi yang sudah dikeringkan dilantai terpal. Beruntungnya sempat diamankan dan dijemur kembali ditempat yang tinggi. Hanya saja, permasalahan yang masih dihadapi petani adalah kondisi air yang masih turun naik, meski hari ini (16/6) air kembali surut, namun dikhawatirkan air akan kembali tinggi, padahal padi padi siap panen itu masih banyak yang belum dipanen.

"Kemarin air sempat merendam padi, takut terendam semua terpaksa kita cepat cepat panen, kita memanennya menggunakan perahu, sambil memetik padinya, karena air terlampau dalam. Mudahan saja air tidak dalam lagi, jadi padi sempat dipanen semua" ujar Padil.

Selain permasalahan banjir yang kerap melanda sawah di tempat ini, permasalahan lainnya adalah tanaman padi disini digarap dengan cara masih sangat traisional. Layaknya menanam padi di era 60an. Tidak ada pembajak, tidak ada hand traktor, maupun alat modern lainnya. Rancah, begitu kerap disebut lokasi sawah tradisional ini. Nyaris terisolir dari wajah sebuah kabupaten yang megah dan memiliki APBD Triliunan rupiah tiap tahunnya.

Saat ditanya, kenapa para petani ditempat ini tidak mendapatkan bantuan handtraktor, menurut padil, bukannya pihak mereka tidak mengajukan permohonan bantuan, hanya saja saat ini yang mendapatkan bantuan hanyalah kelompok tani yang sudah ada lebih dulu, atau kelompok tani yang tua. Sementara kelompok petani yang baru terbentuk, tidak memiliki jatah.

" Padahal kalau ada handtraktor untuk kelompok tani disini, kami bisa mengarap sawah lebih maksimal lagi" terang Padil.

Untuk itu, pihaknya berharap adanya perhatian pemerintah daerah terhadap petani kecil, yang hanya menanam padi untuk konsumsi sehari hari, bukan hanya memberikan bantuan pada petani yang sudah besar dan modern saja. Diakuinya. Ditempat ini mereka masih mengenal istilah manugal, tanpa adanya penggarapan tanah terlebih dahulu menggunakan cangkul ataupun handtraktor. Tak ada penyuluh pertanian ke tempat ini, tak ada bulir padi yang berbadan gendut. Tak heran padi yang mencuat menguning, seakan tak bisa dibedakan dengan rumput yang tumbuh disekitarnya. Jika ditanam 10 hektar, dipastikan hanya 70 persen saja yang berhasil. Sisanya gagal panen lantaran diserang hama penyakit. Kebanyakan, bulir padi yang tumbu tak berisi, dan mengering lebih awal. (Ley)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved