Home » » Saluran Irigasi Buruk, Petani 6 Desa Kesulitan Air

Saluran Irigasi Buruk, Petani 6 Desa Kesulitan Air

Written By Fokus Batulicin on Rabu, 26 Juni 2013 | 08.11

Pasca pelebaran jalan provinsi beberapa tahun lalu saluran irigasi di enam desa dikecamatan kusan hilir kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), mengalami penyumbatan. Penyumbatan akibata matrial jalan jatuh kesaluran irigasi hingga menyebabkan petani di enam desa agak kesulitan mendapatkan aliran air untuk megaliri sawahnya.
Adapun desa desa pertanian yang mengalami kendala saluran, yaitu desa Manurung, Mudalang, Pakatellu, Rantau Panjang Hulu, Rantau Panjang Hilir dan desa Api-api. Kenam desa ini sebenarnya berada dijalur Jalan provinsi yang terkendala pengairan lantan adanya penyumbatan pada saluran pengairan. Pantuan dilapangan, saluran dikri kanan jalan tersebut sebenarnya dasar saluranya sudah ada hanya saja tidak adanya perawatan atas saluran tersebut hingga akhirnya mengalami pendangkalan dan kini ditumbuhi semak belukar.
Lebih parah lagi, warga yang bermukim ditepi jalan raya provinsi tersebut melakukan penutupan saluran, dengan cara menguruk tanah dan batu sebagai halaman rumahnya. Ketua Gapoktan desa Manurung Sutomo, mengatakan, selama ini, saluran air sering tersumbat lantaran banyak material menutupi saluran itu, selain itu tidak pernah dilakukan pembersihan normalisasi oleh dinas terkait. "Kami merasa prihatin, karena saluran yang sangat dibutuhkan petani tidak berfungsi, padahal itu merupakan sarana penunjang yang harus dibenahi oleh pemerintah, sehingga petani bisa beraktifitas lebih maksimal," kata Sutomo
Dengan tersumbatnya saluran air diwilayah pertanian tentu sangat mengganggu para petani dalam hal kelancaran pengairan, apalagi sawah mengalami ketinggian air sangat susah untuk membuangnya. Sutomo menambahkan, menurutnya permintaan petani tersebut sudah sejak 2011, melalui kepala desa kemudian disampaikan kedinas PU setempat, namun hingga saat ini belum juga ada realisainya.
" kami sudah mengajukan proposal ke dinas PU Tanbu guna dilanjutkan ke PU provinsi, karena saluran itu adalah kewenangan provinsi, tetapi sampai sekarang belum ada tanggapan", imbuhnya. Dia berharap kepada instansi terkait, untuk 2014 pemerintah daerah bisa membenahi atau merealisasikan permintaan warga petani, mengingat petani sangat membutuhkan saluran itu,
Drainase sangat diperlukan guna menunjang kelancaran air", ucapnya,

Sementara belum dibenahinya saluran itu, masyarakat petani kebingungan, mereka terpaksa harus menggunakan alkon untuk mengalirkan air kesawah yang lain, dengan adanya penggunaan alkon itu maka petani terpAksa mengeluarkan biaya tambahan,padahal penghasilan petani relatif minim.
Senada dengan itu, dikatakan juga oleh Pua Sennung tokoh masyrakat, ia meminta pemerintah harus memprioritaskan pembangunan dan perbaikan saluran yang tersumbat tersebut, karena itu merupakan satu-satunya pengairan yang dapat menunjang lancarnya air,katanya. Selain itu tambahnya, bukan hanya persoalan kedangkalan saluran saja , namun yang di keluhkan masyrakat petani, minimnya perhatian pemerintah terhadap drainase dipedesaan, terutama dijalan provinsi, yang harusnya dibuatkan saluran bentuk permanen, "Kedangkalan saluran pengairan diwilayah pertanian menjadi persoalan tersendiri bagi para petani," ujarnya.
Menurut dia, dulu Kusan Hilir sebagai lumbung padi terbesar di kalsel, namun sekarang semua predikat itu sirna begitu saja, lantaran inprastruktur kurang memadai, untuk itu diharpakan pemerintah segera membenahi saluran tersebut, kalau perlu pemerintah membuatkan petani Irigasi agar mereka tidak ketergantungan musim, artinya bila ada irigasi mereka para petani bisa mengatur waktu tanam hingga tiga kali satu tahun, ujarnya seraya menambahkan saat ini petani hanya bisa mengelola sawahnya dua kali satu tahun itupun tergantung airnya, bila hujan turun. (Iwan)
Powered by Telkomsel BlackBerry®





Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved