Home » » Minyak Tanah, Lebih mahal dari Bensin

Minyak Tanah, Lebih mahal dari Bensin

Written By Fokus Batulicin on Jumat, 05 Juli 2013 | 15.19

fokusbatulicin.com - Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah tertimpa tergencet lemari. Seakan pepatah itu diarahkan bagi masyarakat desa Karang Mulya Kecamatan Kusan Hulu, pasca kenaikan BBM beberapa waktu lalu, kini mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah, sebagai bahan bakar mereka untuk memasak di dapur. Harga bahan bakar minyak tanah di desa ini rata rata di jual dengan harga Rp 8000/ liter bahkan, pada saat saat sulit mendapatkannya, minyak tanah bisa dijual dengan harga Rp 14 000/ liter. Harga itu, jelas lebih mahal dari harga bensin di tingkat pengecer.

Menurut beberapa pedagang pengecer minyak tanah, mahalnya harga juan BBM jenis ini, lantaran untuk mendapatkan minyak tanah juga harus membeli dari para pemilik pangkalan minyak tanah yang terdapat di Kecamatan Kusan Hilir, Kusan Hulu bahkan sampai mencari ke Kecamatan Sungai Loban. Belum lagi, untuk menempuh perjalanan menuju Desa Karang Mulya disaat musim hujan seperti ini terbilang cukup sulit, lantaran badan jalan ditempat ini banyak yang rusak. Salah sedikit, puluhan liter Minyak Tanah yaang dibawa menggunakan jerigen dan diangkut dengan sepeda motor itu, bisa saja terbalik.

" Itulah yang membuat harga minyak tanah di tempat ini menjadi mahal. Untungnya, saat ini minyak tanah dijual masih di harga Rp. 8000 / liter. Kalau musim musim sulit mendapatkan minyak tanah harganya bisa sampai Rp 14.000 perliter " ujar Eni (27) ibu rumah tangga.
Sementara, Man (46) pedagang minyak tanah keliling, mengaku tidak setiap hari berkeliling membawa minyak tanah eceran. Namun, saat ia memiliki stock banyak, baru ia menjualnya. " Bisa juga kita nggak dapat minyak di tingkat pangkalan minyak tanah, kita nggak jualan pak" ujar Man, kemarin (6/7) saat ditemui di Karang Mulya.

Bagi warga lainnya yang tidak mampu membeli minyak tanah, kebanyak dari mereka menggunakan brondol sawit (buah sawit curah) yang sudah dikeringkan terlebih dahulu. Bagian sawit ini, selain serabutnya, batok atau karnelnya juga bisa dimanfaatkan untuk membesarkan api di dapur. Hal ini allternatif lain untuk bisa berhemat jika tidak bisa menggunakan minyak tanah maupun kayu bakar.

"Mencari kayu bakar juga sekarang mulai sulit, karena sekarang di desa kami sudah rata rata di rtanami kelapa sawit, kalau memakai kayu, juga harus memakai minyak tanah. Jadi kebanyakan dari kami cukup memakai limbah buah sawit saja, selain apinya cepat besar, juga bebas asap" beber Uji (45) ibu rumah tangga lainnya, yang sehari hari mengaku menggunakan brondol sawit untuk memasak di dapur.
Saat ditanya, kenapa tidak menggunakan kompor gas, Uji, merasa takut dan lebih memilih menggunakan buah sawit bekas. Selain merasa takut, di desa ini belum dijual banyak gas baik berukuran 3kg, maupun yang 12Kg. "Kalau disini susah mencarinya" terangnya. (Ley)

Powered by fokusbatulicin.com®




Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved