Home » » Nasib Kain Tenun Pagatan, Kini di Tangan Salmah

Nasib Kain Tenun Pagatan, Kini di Tangan Salmah

Written By Fokus Batulicin on Sabtu, 13 Juli 2013 | 15.50

Fokus batulicin. com - Hanya di dasari dari tuntutan hati nurani untuk mempertahankan tradisi dan warisan budaya para leluhur nenek moyangnya, Salmah (50) warga Kota Pagatan itu rela malangmelintang dan bahkan jatuh bangun untuk mempertahankan keberadaan Tenun Songket Pagatan. Tenun tradisi yang dulunya banyak digeluti wanita suku bugis pagatan itu, secara perlahan tergerus zaman dan semakin sulit peminat maupun penerus penenun di kota itu.

Bahkan, di Tahun 2013 ini, pengrajin yang adahanyatinggal hitungan jari saja. Mereka kini ditampung dalam sebuah Koperasi kecil, yang kerap disebut Koperasi Tenun Pertiwi binaan Salmah, yang iarintis sejak beberapa tahun lalu untuk melestarikan tenun tenun pagatan yang dulu sempat mulai langka. Dari tangan Salmah dan pengrajin lainnya, kini kain tenun bermotif mirip sasirangan Banjar itu, dapat kembali di lihat dan dinikmati untuk digunakan sebagai bahan dasar baju maupun gaun bagi kaum laki dan perempuan di Tanah Bumbu, Kalimantan, Indonesia maupun dunia internasional. Maklum, kain tenun pagatan, di era terbentuknya Kabupaten Tanah Bumbu sejak 2003 lalu, telah melanglang buana keluar Kota Pagatan untuk di ikutkan dalam beberapa ajang pameran bertarap nasional di Jakarta maupun Singapur dalam ajang Internasional Expo Singapore 2012 lalu.

Salmah yang terkenal ramah dan ulet ini, dengan bangga menerima kedatangan fokusbatulicin.com, untuk menggali lebih dalam tentang ke istimewaan tenun pagatan ini, serta bagaimana upayanya mempertahankan tradisi leluhurnya itu. Bahkan, salmah dengan ringan hati memperlihatkan proses pembuatan Tenun Bugis Pagatan itu, dari proses pewarnaan benang, desainhingga menenun dengan mengunakan "Tenung" atau Gedog (alat tenun manual terbuat dari kayu.red) "Saya menenun, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Selain sudah bisa menenun, saya juga sudah pandai mendesain motifnya. Itu semuasaya dapatkan dari orang tua maupun nenek saya dan terus diwariskan secara turun temurun" ujar Salmah mengawali wawancara pada fokusbatulicin.com.

Tenun tradisional Bugis Pagatan adalah tenun yang berasal dari daerah Pagatan, Kalimantan. Tenun ini merupakan hasil kerajinan orang-orang Bugis yang tinggal di Pagatan. Kain tenun tradisional Bugis Pagatan atau terkenal dengan sebutan Tenun Pagatan, hanya digeluti oleh masyarakat suku bugis pagatan secara turun temurun dengan ciri khas dan motif yang unik karena dibuat dengan cara yang sangat tradisional menggunakan alat penenun dari kayu dan hanya bisa di olah menggunakan benang sutera. Saat ini, perkembangan Tenun Pagatan mengalami perkembangan pesat. Berbagai jenis pakaian muncul kemudian menggunakan tenun jenis ini. Tenun Pagatan tidak hanya digunakan sebagai pakaian tradisional saja. Namun juga berbagai jenis pakaian yang lain. Beberapa desainer terkemuka di Jakarta, dewasa ini mulai melirik untuk menggunakan kain tenun pagatan sebagai bahan dasar membuat gaun. 

Berdasarkan cara menenun dan cara membuat motif pada kain tenun, ada beberapa jenis kain Tenun Pagatan Pagatan yang sangat terkenal. Tenun Pagatan yang berjenis songket terdapat dua macam, yaitu jenis so'be aredan jenis so'be sumelang. Ornamen pada so'be are dibuat tembus ke sebelah dalam. Caranya adalah menyisipkan benang tenun untuk membuat ornamen tersebut ketika menenunnya. Meskipun begitu, hiasan yang terlihat baik hanya bagian luarnya saja, bagian dalam tidak bagus untuk dipakai karena hanya merupakan tembusan dari benang songket tersebut. Sedangkan ornamen pada so'be sumelang hanya disisipkan pada bagian mukasaja, tidak tembus ke dalam Jenis tenun ini dibuat dengan cara mengikat benang
tenun sebelum dicelupkan ke dalam zat pewarna. 

Mengikat benangdengan kulit batang pisang ini dalam bahasa Bugis Pagatan disebut membebbe. Karena itulah nama tenun ini adalah tenun bebbe atau tenun ikat. Proses menenun benang dilakukan setelah benang tersebut dicelupkanke dalam zat pewarna. Proses menenun dilakukan dengan cara mengatur benang tenun sesuai dengan ikatan pada waktu benang dicelupkan ke dalam pewarna. Dan jadilah sebuah ornamen sesuai dengan corak yang diinginkan oleh penenun.

Hiasan pada tenun Panji tidak dibuat melalui ikat atau songket, tapi dengan motif anyaman langsung melalui benang pakan atau pasulu yang dianyamkan pada benang dirian. Hasilnya adalah ragam khusus sesuai dengan yang diinginkan melalui anyaman benang tenun yang sudah diwarnai. Jadi, motif anyaman tersebut dibuat secara langsung dan diatur sendiri oleh penenun. Jenis sarung kotak-kotak pada kain Tenun Pagatan sebenarnya bahanya merupakan dasar hiasan saja. Karena pada perkembangannya kemudian, jenis tenun sarung kotak-kotak digabungkan dengan berbagai motif hiasan yang lain. Bentuk dasar kotak-kotak dapat digabungkan dengan songket, baik sobbe are maupun sobbe sumelang. Bentuk dasar kotak-kotak menggunakan anyaman jenis panji atau jenis bebbe.

Secara umum, sebenarnyaTenun Pagatan mempunyai pola dasar yang kemudian menjadi dasar pola hiasan yang beraneka ragam. Pola-pola hiasan dasar tersebut mereka buat sebagai acuan pada kain-lain tertentu untuk dijadikan acuan dalam mereka menenun. Beberapa pola dasar hiasan Tenun Pagatan, namun yang terpenting harus ada motif pagar sasirangan dan segitiga maupun kotak sebagai ciri khas Tenun Pagatan. Sekaligus membedakan kain sasirngan khasBanjar.

"Secara agamblang, tipe tenun Pagatan ada 5 jenis motif, ada motif Ikat Pakan, Ikat Lusi, Salur, Songket Asli, dan songket biasa. Dari beberapa motif itu, motif yang paling sulit namun memiliki nilai jual yang cukup mahal itu, adalah motif Songket asli, lantaran memerlukan waktu pembuatan yang cukup lama. Bisa memerlukan waktu hingga tiga bulan lamanya. Kalau motif ikat pakan dan lusi sangat mudah. Hanya memerlukan 15 hari. Apalagi sekarang sudah ada TBM alat tenun mesin, kita bisa membuat dua motif itu dalam waktu yang pendek. Untuk TBM yang kita punya, bantuan dari Pemerintah Daerah. Satu hari sudah mampu menghasilkan 0.5 meter" jelas Salmah kepada fokusbatulicin.com.

Bahan baku untuk membuat tenun ini adalah benang yang telah siap digunakan, antara lain sutra ulat yang digunakan untuk membuat Tenun Pagatan ini pada zaman dahulu langsung didatangkan dari Sulawesi, kini sudah bisa di datangkan dari Pulau Jawa. Bahan tersebut kemudian diolah di Pagatan. Bahan pewarna tradisional ialah kesumba atau nila dan daun kabuau untuk warna hitam. Kabuau adalah sejenis tumbuhan yang buahnya digunakan sebagai kelereng dalam permainan kelereng di wilayah pedesaan Kalimantan Selatan. Cara menggunakan daun kabuau sebagai pewarna, yakni daun kabuau direbus kemudian bahan yang ingin diberi warna dicelupkan ke dalam rebusan daun kabuau. Setelah itu, bahan tadi dibenamkan ke dalam lumpur selama satu malam, lalu dicuci dan dikeringkan.

Bahan pewarna buatan pabrik yang digunakan untuk mewarnai benang tenun adalah wantek. Warna wantek beraneka ragam, sehingga memudahkan pembuat tenun untuk menciptakan corak tenun sesuai yang mereka inginkan. Cara menggunakannya adalah dengan mencelupkan benang ke dalam wantek. Bahan pengawet digunakan untuk menjaga warnaagar tidak luntur. Bahan pengawet yang biasa digunakan adalah bahan pengawet tradisional, bukan bahan pengawet buatan pabrik. Bahan pengawet tradisional yakni buah nyiur yang masih sangat muda dan kulit jambu mete. Proses penggunaannya, masing-masing bahan tersebut ditumbuk, dicampur dengan air, kemudian disaring airnya.

Selanjutnya, benang yang sudah diwarnai tadi dicelupkan ke dalam air saringan itu. Peralatan yang digunakan untuk membuat Tenun Bugis Pagatan sama dengan yang alat tenun dari daerah asalnya, yaitu Sulawesi Selatan. Namun, peralatan tenun yang digunakan di daerah Pagatan dan sekitarnya dibuat dari kayu yang banyak terdapat di daerah itu. Adapun beberapa peralatan yang digunakan untuk membuat kain tenun tradisional Bugis Pagatan diantaranya Sakka (dalam bahasa Banjar: sumbi) berfungsi untuk menjaga tepi kain agar tetap lebar. 

Alat lain yang juga diperlukan adalah Roweng atau mesin uluran, yaitu peralatan untuk mengulur atau membukabenang dari gulungannya. Ola, Alat ini digunakan untuk menggulung benang tenun. Pamedangan, Alat ini digunakan untuk mengikat benang pada tenun ikat sebelum dicelupkan ke dalam bahan pewarna. Saureng, yaitu alat untuk menyusun benang dirian. Patekko, Alat untuk menahan kedua benang. Belebas, Alat untuk memisahkan benang dirian.Penggulung (awereng) dan pucucukkare, Alat untuk membuat sela atau jarak yang memisahkan benang dirian (sau). Are, yaitu alat untuk mengatur dan menyelipkan benang
tenun songket pada waktu membuat ornamen pada kain tenun jenis songket. Unuseng atau papali, digunakan untuk melereng benang pasuluatau benang pakan, yaitu benang yang digunakan untuk menyisipkan benang sau pada saatmenenun. Sisir (jakka).

Alat untuk mengatur benang dirian (sau). Pamalu, yaitu alat untuk menggulung benang dirian (sau) yang belum ditenun. Pessa, Alat untuk menggulung kain yang sudah ditenun atau sau yang sudah ditenun dengan pasulu-nya. Simong, Alat untuk menempatkan pamalu.Tamrajeng merupakan alat yang dapat menimbulkan bunyi pada waktu merapatkan benang pasulu atau benang pakan. Boko-boko adalah alat untuk merentangkan benang dirian pada waktu menenun.Bulang, Alat ini dalam bahasa Banjar disebut tali tampar. Fungsinyamenghubungkan boko-boko didorongke belakang sehingga benang dirianmenjadi kencang Papanenre dalam bahasa Banjar disebut papan katinjakan yang berfungsi sebagai tempat kaki berpijak.Walida atau walira dalam bahasa Banjar. Alat ini berfungsi untuk membuat ruang pemisah pada benang sau sehingga memudahkan untuk memasukkan turak atau teropong yang berisi anggaliri/lerengan yang berisi benang pasulu yang digulung.

Tenun Pagatan senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Pada mulanya Tenun Pagatan cuma dibuat untuk kain sarung. Dan kain sarung itu pun hanya dipakai oleh kaum laki-laki. Pada perkembangan selanjutnya, kain sarung. Tenun Pagatan tidak hanya dipakai oleh kaum laki-laki, namun juga para perempuan. Perkembangan fungsi Tenun Pagatan terus berlangsung hingga sekarang. Saat ini, Tenun Pagatan sudah banyak digunakan untuk berbagai jenis pakaian sesuai dengan selera pemakai atau pemesannya. Beberapa jenis pakaian yang dibuat dari Tenun Pagatan, misalnya sarung, dasi, stagen, selendang, baju biasa, rok, kain panjang, busana muslim, pakaian tari, dan lain-lain. Meski menenun memiliki sisi ekonomis karena dapat memberikan keuntungan, namun hingga kini sangat disayangkan jumlah pengrajinnya masih sangat terbatas. Dan hanya dengan mudah di temukan di sentra pengrajinnya saja di sepanjang jalan Manurung (Subarang). Kecamatan Kusan Hilir Pagatan saja.

Padahal Menenun menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat Pagatan selain mata pencaharian mereka sebagai pelaut. Tenun Pagatan yang pada mulanya merupakan pakaian tradisional yang dipakai orang-orang atau dalam kegiatan tertentu, kini berkembang dalam berbagai bentuk pakaian. Tentunya perkembangan ini menguntungkan pengrajin, yaitu kelangsungan mata pencaharian mereka tetap terjagadan pengetahuan mereka tentang tenun semakin meningkat dengan berbagai inovasi yang mereka lakukan Untuk nilai jual, kain tenun Pagatan saat ini sangat fariatif, tergantung tingkat kesulitan pembuatan motif dan bahan yang digunakan. Untuk motif ikat lusi dan ikat pakan rata rata di jual dengan harga Rp 500.000, per lembar bahan pakaian siap jadi. Sementara untuk baju berbahan tersebut yang sudah jadi dan siap pakai dilepas dengan harga Rp 250 ribu per lembar. Sementara untuk kuwalitas biasa disiapkan harga ekonomis berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu per lembar. Sementara untuk kuwalitas terbaiknya di bandrol hanya antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 Juta rupiah per lembarnya. Sementara untuk Kain tenun Songket Asli dengan motif sulur menggunakan campuran benang emas, harga yang dibandrol sudah mencapai di atas Jutaan Rupiah. Jika anda tertarik, sempatkan diri untuk mampir di Koperasi Tenun Pertiwi atau Butik Sederhana Salmah di bilangan jalan raya Manurung (Subarang) Pagatan Kecamatan Kusan Hilir Tanah Bumbu. (Ley)

Powered by fokusbatulicin.com®















Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved