Home » » Penangkapan Udang Sungai Dengan Racun, Semakin Marak

Penangkapan Udang Sungai Dengan Racun, Semakin Marak

Written By Fokus Batulicin on Rabu, 28 Agustus 2013 | 17.46

Batulicin / fokusbatulicin.com - Akhir-akhir ini di kecamatan Kusan Hilir masyarakat diresahkan dengan maraknya oknum yang melakukan peracunan udang di hampir seluruh desa. Selain meresahkan para nelayan, juga dikawatirkan bisa terkena dampaknya bila termakan udang yang hasil tangkapannya menggunakan racun.

Hal itu dikeluhkan warga, sebab itu adanya penyuluhan pengawasan tentang peracunan yang dilaksanakan di Gedung indor 7 Februari dihadiri seluruh kepala Desa dan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) desa.

Masing-masing kepala desa mengeluarkan keluhannya terhadap maraknya peracunan yang menjadi sasaran utama adalah udang. Salah satu kepala Desa Pulau Satu, Tarwin misalnya mengungkapkan Undang-Undang sekarang ini sebagai bahan bacaan saja. Sebab, petugas kalau sudah terjadi baru datang bahkan terlambat.

Apalagi saat ini, para oknum yang melakukan peracunan untuk mendapatkan udang di sungai-sungai dilakukan siang hari sekitar pukul 14.00 sampai 15.00 wita. Seharusnya, pengawasan tersebut dilakukan sebelum terjadi bukan sebaliknya. Dia juga mengatakan untuk pengawas disediakan alatnya sehingga bisa mempermudah dalam pengawasan dan peneguran.

"Seharusnya petugas datang sebelum terjadi bukan sebaliknya, dan alatnya juga disediakan agar pengawasan bisa berjalan dengan baik,"terangnya.

Serupa, Kepala Desa Mudalang Tajemudin mengatakan, peracunan saat ini sudah sangat parah dengan sasarannya udang menggunakan racun pemusnah hama pertanian dengan peptisida di antaranya Decis. Bahkan sudah beberapa kali diimbau agar tidak melakukan peracunan namun tak diindahkan dan masih merajalela karena tidak ada tindakan

Dikatakannya, sempat terjadi perkelahian namun hasilnya masih tetap. Dirinya sekarang bisa membedakan udang penagkapan alami dan dengan cara meracun. Bila udang penangkapan normal tidak berdampak apa-apa tapi penangkapan dengan racun itu hasilnya tenggerokan jadi kering.

"Saya sudah pernah memakan hasilnya tenggerokan saya jadi kering. Hasil tangkapan alami dan tidak itu bisa dibedakan dengan melihat matanya, bila matanya rusak berarti dari tangkapan karena racun,"ucapnya.

Namun sampai saat ini pelaku belum bisa ditangkap. Dirinya pun bingung karena pelaku tak bisa ditangkap. Sedangkan saat ini, penjahat sungai itu makin merajalela.

Hal tersebut pun ditanggapi pihak terkait, dan penjelasan tentang UU Pengawasan dan Penegakan Hukum di Bidang Perikanan menurt undang-undang No 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Dikatakan Kasi Intel Kejaksaan Batulicin, Harwanto mengatakan pelaku yang melakukan penggunaan B3 dan penyetruman ikan akan di pidana maksimal 6 tahun penjara.

"Dimaksud B3 adalah bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsetrasinya baik langsung ataupun tidak langsung yang dapat mencemarkan lingkungan hidup atau memvahayakan kesehatan manusia, itu bisa dipidana dengan catatan ada barang bukti dan alat bukti,"katanya.

Namun penangkapan tersebut harus lah berdasarkan barang bukti atau sarananya dan alat bukti dengan 5 kriteria yakni berdasarkan saksi, surat, keterangan ahli, petunjuk dan keterangan terdakwa. Jika sudah memnuhi baru lah bisa ditangkap.

Sementara, Pengawas fungsional provinsi kalsel Fadly mengatakan, saat ini pihak pengawas dari provinsi cuma dua orang sehingga semua pihak diminta untuk kerjasamanya. Karena pengambilan ikan dengan tidak benar dan berarti sudah melanggar UU sehingga perlu dibina atau ditindak.

"Hanya ada dua pilihan dibina atau ditindak, sehingga dari masyarakat bisa melaporkannya bila terjadi untuk menghilangkan illegal Fishing,"jelasnya.

Setelah sempat dilakukan perdebatan, namun mendapat kesimpulan UU harus dikedepankan karena sudah harga mati tinggal penindakannya serta alat buktinya sehingga bisa diproses. Dengan catatan pihak pengawas, polsek Pagatan dan Polairud rutin melakukan patroli.

"Sesuai hasilnya, bila ada pelaku bisa dimusyawarahkan didesa terlebih dahulu untuk diperingati. Namun bila masih melanggar tinggal ditindak lanjuti dan diproses secara hukum,"ujar Kabid Pengawasan dan Perlindungan Sumber daya kelautan perikanan Kabupaten Tanbu (Team)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved