Home » » Penanganan Kasus Ilegal Minning, Tanbu Terbesar Pertama

Penanganan Kasus Ilegal Minning, Tanbu Terbesar Pertama

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 05 Desember 2013 | 20.51

fokusbatulicin.com -Selama periode Januari hingga November 2013 ini diketahui Kabupaten Tanah Bumbu, merupakan daerah yang menempati urutan pertama dengan jumlah pelaku kasus Ilegal Mining terbesar pertama di Kalsel. Dimana dalam Kacamata aparat penegak Hukum, Polres Tanah Bumbu, urutan pertama itu bahkan mampu mengalahkan penangan melalui Ditreskrimsus Polda Kalsel sendiri.

Dari Data di bagian Reskrim Polres Tanah Bumbu, sejak awal Januari hingga November 2013, jumlah kasus yang ditangani sebanyak 37 kasus, dengan 24 kasus diselesaikan dengan baik, sisanya masih dalam tahap proses pemberkasan dan kelengkapan saksi saksi serta penetapan tersangka. Sementara Polres  kabupaten Tanah Laut ‎hanya menangani 26 kasus ilegal mining dengan 13 kasus terselesaikan. Di meja Ditreskrimsus Polda Kalsel ‎sendiri hanya nenangani 23 kasus, dengan 13 kasus yang mampu diselesaikan hingga mampu ditetapkan para tersangkanya.

‎Kapolres Tanah Bumbu AKBP Asep Taufik melalui Kasat Reskrim Ronaldo Siregar mengatakan, dari 37 Kasus itu sebagian besar terjadi di atas lahan PKP2B baik PT Arutmin, Maupun PT BIB. dengan 28 alat bukti berhasil diamankan dari Areal PKP2B Arutmin dan 27 alat bukti diamankan dari PT BIB, serta 4 unit alat bukti lainnya di amankan diluar dari wilayah tersebut. "Sebagian besar alat buktinya kita amankan di Halaman Polres Tanbu, bahkan dua orang yang mengaku wartawan turut melakukan praktek ilegal mining juga kita amankan. Berkat dukungan rekan media massa dan masyarakat, kerja keras Polisi terus membuahkan hasil yang maksimal. ini akan terus kita tingkatkan" ujar Ronaldo, kemarin saat ditemui diruang kerjanya.

Saat ditanya, apa kendala yang dihadapi ‎saat menangani kasus Ilegal Mining di Tanah Bumbu, Ronaldo mengatakan, selain harus menghadapi sikap para pelaku yang kerap hanya mengandalkan otot dan jiwa  premanisme menurutnya, yang paling sulit adalah ketika mereka tidak bisa menemukan otak pelaku utama agar bisa menyeretnya sebagai tersangka. Seperti saat menemukan barang bukti alat berat tak bertuan alias tanpa operator maupun saksi mata lainnya di sekitar alat bukti, karena ditinggal kabur oleh pelaku. Dimana dari pengalaman, sebagian besar pelaku utama merupakan warga pendatang atau berasal dari luar Kalsel, seperti pulau jawa, sulawesi maupun asal daerah Ibu Kota Jakarta.

"Nah kalau sudah begini, bikin pusing kita, apalagi kalau alamatnya tidak jelas. bagaimana kami bisa memburu pelaku. yang bikin jengkel, pada saat teken kontrak pinjam atau sewa alat tidak ada tertera alamat mereka yang jelas. ini herannya di tempat kita. kenapa bisa seperti ini" ujar Ronaldo.‎ (Ley)












Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved