Home » » Berantas Hama Tikus Sawah, Pemkab Tanbu dan Babinsa Gelar Gropyokan

Berantas Hama Tikus Sawah, Pemkab Tanbu dan Babinsa Gelar Gropyokan

Written By Fokus Batulicin on Kamis, 26 Februari 2015 | 09.06


BATULICIN – Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu (Pemkab Tanbu) melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanpanak)dibantu Bintara Pembina Desa (Babinsa) melaksanakan kegiatan "gropyokan" (beramai-ramai berburu) hama tikus sawah di Desa Sungai Rukam Kecamatan Kusan Hulu, Selasa (24/2) kemarin.
Kegiatan tersebut juga melibatkan   Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Pengendali Orgasme Pengganggu Tanaman (POPT), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Mantri Tani, Brigade Proyeksi Tanaman Pangan dan Holtikultura, Laboratorium Agen Hayati Mudalang, serta Koramil setempat.
Kepala Distanpanak Tanbu, Abdul Karim mengatakan kegiatan gropyokan pengendalian hama tikus sawah tersebut dalam rangka   mewujudkan program nasional yaitu pencapaian swasembada pangan tahun 2017 khususnya swasembada beras.
 Pada tahun 2015, ujar Abdul Karim, akan ada 10 titik kegiatan pengendalian hama tikus sawah yang dilaksanakan dan  dananya bersumber dari APBD Tanbu.
"Sebelumnya, kegiatan yang sama juga telah kami laksanakan di Desa Saring Sungai Bubu Kecamatan Kusan Hilir," ujar Abdul Karim.
Sementara itu, Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Pangan, Sri Yuliati mengatakan, saat ini tanaman padi di Desa Sungai Rukam sudah memasuki musim panen dan bertepatan pula dengan musim tikus sawah bereproduksi. Untuk itu maka Pemkab Tanbu turun kelapangan membantu para petani untuk mengendalikan hama tikus tersebut sehingga tidak merusak tanaman padi petani yang akan panen.
Sasaran pengendalian hama tikus tersebut yaitu dengan berburu tikus digalangan sawah yang menjadi sarang tikus.
"Secara bersamaan kita turun kesawah membuka galangan sawah dan berburu tikus di lubang-lubang yang menjadi sarang tikus sawah. Setelah menemukan lubang tikus kita lakukan Tiran atau pengasapan dengan belerang sehingga tikus-tikus tersebut keluar dari sarangnya dan dipukul hingga mati," ujar Sri seraya mengatakan selain menggunakan Tiran, juga digunakan Kleret  yang diletakkan dilubang yang menjadi sarang tikus.
Dikatakan Sri Yuliati, luas areal persawahan di Kecamatan Kusan Hulu seluas 400 Ha, dan yang siap panen seluas 200 Ha.
Selain menggelar gropyokan, Distanpanak Tanbu juga membagikan secara gratis racun tikus kepada para petani untuk mengurangi berkembangbiaknya hama tikus sawah.
Menurut Sri Hayati, selain dengan gropyokan, cara efektif lainnya untuk menyelamatkan tanaman padi yang akan panen dan tidak diserang hama tikus sawah yaitu dengan cara membuat kandang plastik di areal persawahan, memasang perangkap tikus, serta para petani menerapkan tanam serempak.
"Dengan tanam serempak tentunya akan mencegah berkembangbiak secara berkelanjutan dari hama tikus sawah tersebut. jika tidak tanam serempak maka padi yang menjadi makanan tikus akan selalu tersedia sehingga perkembangbiakan tikus sawah akan selalu ada," ujar Sri Hayati.
Secara terpisah, Bupati Tanah Bumbu Mardani H Maming mengatakan kegiatan gropyokan tersebut merupakan solusi dari Pemkab Tanbu melalui Distanpanak Tanbu untuk mengendalikan hama tikus sawah yang menjadi musuh utama para petani.
"Cara gropyokan seperti ini merupakan cara yang paling efektif untuk membasmi tikus sawah dan mematikan populasinya," kata Bupati.
Menurut Bupati, hama tikus sawah jika tidak dibasmi dan dikendalikan maka akan berpengaruh pula pada hasil panen para petani dan juga akan berdampak pada pendapatan ekonomi petani itu sendiri. (relhum)
    

Share this article :

+ komentar + 1 komentar

15 Maret 2015 07.15

Penggunaan istilah "gropyokan" dan 'blusukan' dan istilah lain yang berasal dari bahasa daerah lain, merupakan upaya kontradiktif terhadap pelestarian budaya lokal atau bahasa lokal. Sebaiknya cari padanan dalam bahasa daerah (bugis satau banjar) dan populerkan padanan tersebut. Sehingga kita terlihat memiliki identitas dan bangga akan identitas kita. Jika tidak ada padanannya, maka gunakan bahasa nasional. Jika kita tidak peduli akan hal ini, lama-lama kita akan menggerus budaya dan bahasa kita sendiri. Kita akan menunjukkan diri kita sebagai suku yang inferior dalam penggunaan istilah bahasa kita. Budaya dan Bahasa Bugis dan Banjar sangat kaya. Media lokal seperti ini seharusya menjadi corong Budaya Lokal yang konsisten menegakkan kedaulatan budaya dan bahasa lokal.

Oleh Putra Pagatan

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved