Home » » Menyelesaikan Masalah Petani, Tak Cukup Dengan Handtracktor

Menyelesaikan Masalah Petani, Tak Cukup Dengan Handtracktor

Written By Fokus Batulicin on Senin, 01 Juni 2015 | 21.58

Memperhatikan kehidupan petani, dan keberlangsungan serta kesinambungan pertanian di Tanah Bumbu, adalah menjadi sebuah prioritas bagi era pemerintahan Mardani H Maming. Betapa tidak hampir disetiap kesempatan Mardani H Maming Bupati Tanah Bumbu selalu mencari tahu segala bentuk permasalahan yang dihadapi petani kemudian iapun sibuk mencarikan solusinya. 

jika sebagian pemerintah daerah lain dalam upaya peningkatan produksi pertanian dengan membuatkan program pengadaan alat hentraktor bagi petani,  bagi Mardani itu saja tidak cukup. menurutnya untuk meningkatkan produksi pertanian tidak cukup hanya dengan memberikan hentraktor saja, tapi persoalan lain seperti saluran irigasinya, alat panen dan perontok padi, pengering, dan gudangnya juga harus di perhatikan. bahkan agar kehidupan petani lebih sejahtera juga tidak cukup sampai disitu, pemerintah juga harus memikirkan pemasaran yang baik pula. seperti beberapa waktu lalu, ketika Mardani bertemu dengan puluhan petani di Desa Betarang kecamatan Kusan Hilir.

Bupati Tanah Bumbu Mardani H Maming  berharap kepada petani di kabupaten Tanah Bumbu tidak hanya menjual berasnya di wilayah sendiri. Setidaknya petani saat ini juga dinilai perlu menanamkan jiwa pengusaha, agar mampu memikirkan setiap hasil produksi beras melimpah dimusim panen bisa juga memasarkannya keluar daerah. Demikian disampaikannya dihadapan kelompok tani dan lintas terkait  saat membuka acara panen raya padi sawah di desa batarang Kecamatan Kusan Hilir (27/5) lalu

Menurutnya Mardani,  Kabupaten Tanah  Bumbu memiliki luas areal pertanian dan produksi beras   yang cukup potensial. Ini merupakan bukti keberhasilan petani setempat yang sudah  dari dulu telah mampu menciptakan swasembada beras."  Sebelum saya jadi Bupati, Tanah Bumbu sudah melakukan swasembada beras, berarti dinas terkait dan penyuluhnya telah  berhasil  membina para petani sehingga swasembada berhasil dicapai." Kata Bupati.

Bupati mengingatkan kalau hanya swasembada beras saja, itu  belum cukup sampai disitu. Mestinya petani harus bisa meningkatkannya lagi dalam hal suplay beras ke Kabupaten lainnya  yang kekurangan beras. "kalau harus dikirim kepulau jawa maupun Sulawesi  kenapa tidak, kerena tidak menutup kemungkinan, dengan jumlah penduduk dan kebutuhan berasnya    semakin meningkat , khususnya pulau jawa  bisa kekurangan beras,"imbuhnya.

Untuk mengirim beras ke pulau jawa anggap Bupati,  sangatlah  murah, karena sudah didukung dengan akses pelabuhan yang tersedia. Sementara   kapal yang yang berangkat ke luar Tanah Bumbu, 3 kali dalam seminggu baik tujuan pulau jawa maupun ke sulawesi.

"Perlu adanya terobosan para pengusahanya,  Sehingga mampu meningkatkan daya saing dalam hal penguasaan pasar melalui pengeloaan yang baik, utamanya  adalah peningkatan  kualitas beras," pinta Bupati.

Diakuinya, pertanian di Kabupaten Tanah Bumbu tentu memiliki kendala, baik proses tanam maupun alat kelengkapan  yang menunjang proses   panen higga sampai pada tempat penyimpananya.

"Saya pernah mengatakan kepada dinas terkait, Jangan dikira dengan memberi hand  Traktor kita sudah  berharap kepada  petani akan panen dimana-mana, kerena hand traktor yang diberikan baru secuil dari permasalahan  petani yang ada dilapangan. Justru  saya sedih  mendengar ada alat mesin pemanen dan perontok padi secara praktis karena digerakkan dengan motor, namun saat ini masih disewa secara berkelompok dan harus didatangkan petani sendiri dari sulawesi, kenapa Dinas Pertanian tidak bisa menganggarkannya dan diberikan kepada kelompok petani secara cuma cuma" ungkapnya

Untuk mengatasi persoalan tersebut lanjutnya, tahun 2016 alat yang sebenarnya dibutuhkan petani seperti itu harus terealisasi di Tanah bumbu. Melalui dana yang dianggarkan dari  APBD Kabupaten  Tanah Bumbu.  

"Hanya  melalui dana APBD yang bisa dilakukan pemerintah,  kerena masih banyak masalah petani yang harus diselesaikan walaupun secara bertahap mulai  dari hilir  sampai  ke hulu. Sehingga akan memberikan dampak positif terhadap  kehidupan petani yang bukan   hanya sebagai  pencetak swasembada beras tapi juga menjadi pengusaha pengirim beras  keluar daerah," sebut Bupati.

Dalam kesempatan tersebut Bupati  yang  baru terpilih menjadi Ketua Apkasi ini memaparkan. Persoalan lain yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah terkait harga beras dipasaran.  Hal ini disebabkan,  saat panen bersamaan, maka harga akan turun, dan saat menanam, maka supley beras juga  berkurang.

"Sebab yang mendasar, pola bertanam di wilayah kita    lebih mengaharapakan pada  curah hujan, tanpa mengandalkan irigasi. Saat musim hujan, semua menanam,  saat  menanam,  suplay beras berkurang sehingga   harga tidak stabil, saat panen bersamaan  harga beras menjadi  turun," terangnya.

Upaya lainnya untuk menjaga kestabilan harga di pasaran, Pemerintah Daerah akan berencana menyiapkan gudang penyimpanan beras yang selama ini dilakukan oleh Bulog.  Tentunya daya dukung  penunjang  pertanian di Tanah Bumbu sudah dimiliki semuanya, baik mulai  hilir maupun hulu.  Maka tugas pemerintah daerah berupaya  mengimbangi peranan seperti Bulog,  cukup pemerintah daerah yang mengambil  tugasnya bulog.


Dengan  demikian ungkap Bupati,  jika harga beras dibawah Rp.8000,- maka pemerintahlah yang akan menampungnya melalui  dana APBD dengan melakukan kerjasama bersama pihak bank. Berasnya ditaruh digudang,  dan dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, sehingga harga beras dipasaran  dapat terjaga dengan tujuan, tidak merugikan para petani lokal. (Ley)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved