Home » » Mengenal Sosok Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz

Mengenal Sosok Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz

Written By Fokus Batulicin on Rabu, 13 Maret 2019 | 08.43

Lebih mudah menerima kelebihan dari mengakui kekurangan pribadi. Rendah diri, banyak orang yang bisa melakukan. Namun tidak semua orang mampu merendahkan diri serendah-rendahnya. Serendah bumi; diinjak, dihina dilupakan. Pembaca yang budiman, rubrik sirah kali ini mengangkat kehidupan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Ulama kharismatik "penyambung" garis dakwah bumi Hadramaut di Indonesia. Berikut rangkumannya.

Cucu ke 13 dari Syekh Abubakar bin Salim lahir sejak lahir fajar Senin, 4 Muharram 1383 (27 Mei 1963) dari pasangan Zahra binti Ahmad dan Muhammad bin Hafidz. Bakat dan kecerdasan Umar dalam ilmu agama sudah tampak sejak kecil. Ia hafal al-qur'an sejak masih kanak-kanak. Berkat didikan yang baik di lingkungan sains, iman dan akhlaq mulia, ia pun tumbuh sebagai pemuda yang bergemar bagi ulama terkenal, seperti ayahanda beliau, yang saat itu menjadi mufti Tarim, Habib Muhammad bin Alwi bin Syihab, Habib Munshib Ahmad bin Ali bin Syekh Abi bakar, Habib Abdullah bin Syekh Alaidrus, Habib Abdullah bin hasan bilfaqih (ahli tarikh) Habib Umar bin Alwi Al-Kaf (Ahli tarikh dan lughat) Habib Ahmad bin Hasan Al Haddad, termasuk saudaranya sendiri, Habib Ali Masyhur bin Hafidz. juga Habib Salim Assyatiri, Syekh Mufti Fadl bin Abdurrahman Bafadl,

Sejak usia muda selain giat menimba ilmu beliau juga mengajar dan berdakwah. Habib Umar bin Hafidz mulai mengajar dan berdakwah sejak usia 15 tahun sambil terus menimba ilmu.

Saat tekanan komunis bertambah sengit memerintah bumi, Hadramaut beliau memutuskan pindah ke daerah Baydo 'Yaman. Peristiwa ini terjadi pada awal Shafar 1402 / Desember 1981. Di Baydo 'dia tetap melanjutkan belajar pada pengasuh Ribath Al Haddar Habib Muhammad bin Abdullah Al Haddar dan Habib Zein bin Smith. Dia sangat bersemangat berdakwah dan membuat halaqah keilmuan, meminta berdakwah di daerah-daerah pedalaman Baydo ', Hadidah dan Taiz. Kota terakhir ini sering dikunjungi untuk menimba ilmu dari Al-Allamah Al Musnid Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil.

Kekejaman penguasa komunis memang sangat dirasakan di kalangan ulama Tarim sejak Habib Umar masih kecil. Saat itu semua ulama Tarim, termasuk ayahanda Habib Umar wajib lapor setiap hari. Pengajian-pengajian ulama selalu dibayangi todongan senjata penguasa. Namun demikian hal itu tidak menyurutkan Habib Muhammad yang dikenal ulama vokal. Meskipun memberikan ceramah dengan todongan pistol di kepala, dia tetap berbicara kebenaran, sampai terjadilah berita penculikan beliau.

Kejadian penculikan Habib Muhammad berawal saat kompilasi mengundang Habib Umar (kala itu masih menunggu sekitar 9 tahun) pergi melaksanakan shalat Jum'at di masjid Jami 'Tarim. Sesampainya di dalam masjid, kompilasi menunggu adzan Duhur, tiba-tiba Habib Muhammad dijemput oleh dua orang polisi. Kemudian dia dibawa ke markas polisi yang dibetukan dengan Masjid Jami 'Tarim. Sebelum meninggalkan Habib Umar, Habib Muhammad mengambil surban beliau sebagai tanda bahwa beliau akan segera kembali.

habib-munzir

Namun hingga sholat Jum'at usai, Habib Muhammad tidak kembali. Sejak saat itu tidak ada kabar tentang beliau. Tidak diketahui pula kapan pun ia wafat dan di mana dimakamkan. Polisi penguasa komunis, setiap kali bertemu dengan Habib Ali Masyhur, kakak Habib Umar, bertanya, "Kemana ayahmu?"

Peristiwa ini begitu melekat dalam ingatan Habib Umar, karena saat itu dia bersama terakhir dan menyaksikan ayahanda dia tercinta.

Setiap kali Habib Umar mengadakan jalsah (pengajian) di lapangan depan masjid Jami 'ini, beliau melihat kantor polisi yang dilengkapi dengan masjid jami', dan setiap kali itu pula dia teringat peristiwa tragis tersebut.

Ketika Habib Umar nyantri di baydo ', beliau sangat dihormati oleh masyarakat. Hal ini terjadi di samping menimba ilmu dia juga melakukan dakwah. Dikisahkan suatu hari dia didatangi para pemuda Baydo '. Dengan nada mengejek mereka bertanya kepada beliau, "ya Habib apakah boleh main sepak bola?" Habib Umar menjawab, "Boleh." "Kalau begitu harus ikut kami," Habib Umar pun mengabulkan permintaan mereka. Berangkat bersama ke lapangan bola. Saat tiba di lapangan anehnya bukan kemudian dia ikut main bola, diminta menggelar sajadah di pinggir lapangan dan kembali membaca kitab. Melihat hal ini pemuda-pemuda menjadi sungkan. Merekapun mulai simpati kepada beliau dan mendapat kehormatan beliau.

Suatu hari kompilasi akan bertanding mereka datang ke Habib Umar dan ingin mengundang dia dengan alasan agar lebih semangat. "Teman-teman suka berkelahi kalau Habib tidak ikut," ucap pemimpin mereka. Habib Umar menolak dengan alasan mereka menggunakan celana pendek dan itu berarti membuka aurot. Akhirnya mereka memutuskan menggunakan celana panjang tanpa disuruh Habib Umar. Ketika sampai di lapangan, Habib Umar melakukan hal yang sama. Menggelar sajadah dan membaca buku.

Kesederhaan dan keseriusan Habib Umar dalam menuntut ilmu sangat tinggi. Lihat saja kamar Habib Umar kompilasi nyantri di Baydo 'yang hanya terdiri dari 2 x 3 dzira' sekitar 1 x 1,5 m. kamar itu hanya cukup untuk duduk dan tempat buku. Bahkan untuk tidur saja sangat susah.

baca juga: Kisah Karomah dan Akhlak Mulia Habib Sholeh Tanggul

baca juga: Kisah Dakwah Habib Ahmad Alatas Maula Pekalongan Yang Penuh Inspirasi

baca juga: Kisah Hidup Habib Ahmad bin Smith, Diskusiaru Islam Abad Kedua Belas

 

Berangkat ke Haramain

Pada awal Rajab 1402 / April 1982, beliau berangkat ke Haramain dan belajar di Habib Abdul kadir bin Ahmad Assegaf, dan Al Arif billah Habib Ahmad Masyhur bin Toha Alhaddad, Habib Abubakar Attos bin Abdullah Al Habsyi. Dia juga mengambil ijazah dari Syekh Yasin Al-Padani (asal Padang-Sumatera) dan As-Sayyid Muhammad bin Alwy Al-Maliki.

Pada tahun 1413 H / 1992 M beliau pindah ke Syihr, Hadramaut. Selama mukim di sana dia mengajar dan berdakwah hingga berdatangan banyak santri-santri beliau dari berbagai penjuru Yaman serta Asia. Di samping itu dia juga pernah tinggal dan berdakwah di Omman selama kurang lebih. Kemudian beliau pindah ke Tarim dan menetap di sana sekarang.

Pada tahun 1993 Habib Umar berkenan hadir di Indonesia. Kedatangan beliau ini terjadi atas permintaan almarhum Habib Anis bin Alwi bin Ali al-Habsyi Solo untuk Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf di Jeddah. Menurut Habib Anis, dengan kunjungan Habib Umar ini diharapkan tetap ada hubungan garis dakwah seperti persetujuan pada jaman yang lampau di mana banyak ulama Hadramaut yang datang ke Indonesia.

Dia mulai mendirikan pondok Darul Mustofa pada tahun 1414 H / 1994 M. dan diresmikan pada hari Selasa 29 Dzulhijjah 1417 H / 2 Mei 1997, begitulah terus berdatangan murid-murid dari berbagai penjuru dunia.

Berdasarkan pendidikan di Darul Mustofa. Pertama , mengambil ilmu syariat dan hal yang dibahas dari para ahlinya dengan sanad yang bersambung. Kedua , menjaga jiwa dan melatih akhlaq. Ketiga , membahas ilmu yang bermanfaat dan berdakwah ke jalan Allah Swt.

Meski Habib Umar dikeluarkan dari tempat yang dibuka. Tarim, Hadhramaut. Namun gema dakwahnya sampai ke Mekah, Madinah, Oman, Bahrain, Yordania, beberapa negara di Afrika. India, Malaysia. Amerika, Inggris, Kanada, India, Pakistan, Indonesia, Singapura, Brunei, Srilanka, Kenya dan Tanzania dan lain-lain. Dalam sebagian kunjungan itu. CNN, BBC, dan stasiun TV Bahrain mengambil kesempatan untuk mewawancaraarainya. Selain berdakwah, Habib Umar juga aktif menghadiri pertemuan ulama internasional seperti Muktamar Majma 'Buhuts Islamiy di Al-Azhar Mesir dan sebagainya.

Sebagai ulama dan muballigh, tutur katanya lembut dan pengetahuan agamanya cukup luas.  Namun, sorot matanya tajam dan raut mukanya selalu tampak bercahaya. Dan, ketika berceramah, ia bisa berubah menjadi „singa podium" yang berapi-api. Kalimat demi kalimat meluncur dengan suara lantang. Meski begitu ia tidak pernah menyinggung golongan atau pihak lain, apalagi menyakiti dengan kata-kata. la selalu menekankan pentingnya kebersihan hati, pengamalan, ilmu, dan berdakwah di jalan Allah.

Di samping sebagai dai, Habib Umar juga penulis yang produktif. Karya-karyanya tidak sebatas ilmu fiqih. la juga mengarang beberapa kitab tasawuf dan maulid. Kitab yang ditulis, antara lain, Diyaul Lami ' (tentang Maulid Nabi SAW), Dhakhirah Musyarafah (fiqih), Hadits Muhtar (hadits), Nurul Iman, Durus Sab'ah(Nahwu), Khulasah Madad An-Nabawi(dzikr), Tsaqafatul Khatib (pedoman khutbah).

 

Lima Kisah

Berikut ini kami tampilkan beberapa kisah seputar kepribadian Habib Umar dan keluarga beliau. Sungguh menakjubkan. kesederhanaan dan kebersahajaan begitu mudah dalam setiap prilaku Habib Umar.

Kisah pertama. Suatu saat, seorang tukang masak memberikan pesantren memberikan anggur seuntai dari sekian banyak anggur yang diperuntukkan bagi para santri ke Zainab, putri Habib Umar yang mengunjungi 7 tahun. Zainab bertanya, "Ini milik santri atau bukan?"

"Makan sajalah anggur itu. Tidak ada masalah jika kamu ambil. "Jawabnya.

Kemudian Zainab membawakan anggur untuk ditanyakan, Habib Umar. Beberapa saat kemudian dia datang dan berkata, "Kata ayah, jika ini milik santri maka tidak boleh diambil. Jika anggur ini makanan yang tersisa maka aku bisa menerima. "Putri kecil ini pun menerima anggur itu tanpa mencicipinya sedikit pun.

Kisah kedua. Suatu saat, kompilasi Habib Umar datang dari bepergian, Muhammad (putranya yang pergi 8 th) tengah bermain dengan anak tetangga. Kemudian Muhammad membuat teman mainnya menangis. Mengetahui hal tersebut Habib Umar mengundangnya. Muhammad dibawa masuk ke dalam kamar, berdua, dimarahi dengan cara yang tidak biasa. Habib Umar memukul ekor dengan surban. Sambil berlinang air mata Habib berkata, "Wahai Muhammad anakku, apakah akan diminta ayahmu ini ke dalam neraka dengan tindakanmu?"

"Tidak, ayahku." Jawab Muhammad dengan terisak penuh penyesalan.

Kisah ketiga. Dulu sebelum ada Darul Mustofa, santri yang diambil dari Indonesia diletakkan di beberapa tempat yang terpisah. Malah sebagian disewakan rumah. Pada musim dingin dia meminta kepada santri apakah meminta selimut, santri menjawab tidak punya wahai Habib. Kemudian Habib Umar pulang dan mengambil selimut dan memberikan kepada para santri tersebut.

Kisah Empat. Sebelum memiliki santri seperti sekarang ini, konon Habib Umar suka bepergian ke pasar menggunakan mobilnya. Di pasar dia menawarkan jasanya untuk mengangkut barang bawaaan orang yang dibeli. Kemudian orang-orang tersebut ia antarkan sampai ke rumah dangan bawaannya. Tanpa meminta bayaran dengan ikhlas beliau mengantarkan ke depan rumah sambil meminta keluarga orang tersebut dan memintanya untuk pergi shalat dan memberkan nasihat agama. Inilah salah satu strategi dakwah beliau.

Kisah pertemuan. Sebelum ada Darul Musthofa, di Tarim, kira-kira tahun1993, saat itu di Tarim listrik baru nyala jam 5 sore hingga jam 11 malam. Selebih jam 11 malam santri menghabiskan mesin diesel. Suatu saat dieselnya tidak diaktifkan atau rusak. Santri Tidak menghiraukan diesel yang mati atau rusak tersebut. Tiba-tiba diesel menyala dengan sendirinya. Para santri kaget dan melihat keluar, ternyata memperbaiki diesel itu adalah Habib Umar sendiri. Tampak Habib Umar berlepotan oli mesin diuangkan.

Itulah sekelumit kesederhanaan dan keikhlasan dakwah seorang alim yang mengamalkan ilmunya, dan telah menghasilkan ribuan kader muballigh yang berdakwah di segenap penjuru dunia. Dia termasuk salah satu dari segelintir 'ulama akhirat' yang masih eksis, di tengah jumlah besar "penjual" akhirat demi kepentingan sesaat.

sumber: cahaya nabawiy

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | PT. MEDIA FOKUS BATULICIN | TANAH BUMBU
Copyright © 2011. FOKUS BATULICIN - All Rights Reserved